Notes

Posted: 12 March 2015 in Catatan Senja
Tags:

Hingga pada akhirnya sampailah aku pada titik ini. Titik dimana aku harus memaksa diriku agar bisa berfikir lebih jauh tentang apa yang selama ini aku cita-citakan. Aku sadar, titik itu masih blur di awing-awang, seperti saat dimana aku menatap mereka dengan mata tanpa kaca. Namun setidaknya, aku mau mendekatinya, menyentuhnya dan membuat semuanya menjadi bersih dimataku. Berdikari, itulah satu hal yang ingin aku lakukan saat ini. Aku sadar bahwa aku akan mengeluarkan banyak energi untuk itu, namun bagaimana pun itu sudah menjadi keharusan untuk aku yang tengah berumur 21 tahun ini. Cukuplah sudah kecemasan yang belakangan ini memerangi otakku untuk berlagak ini itu. Cukuplah saja kebodohan yang selama ini aku lakukan hanya untuk meratapi masa lalu. As time goes by, semua orang pasti akan datang dan pergi hingga aku pun harus terpaksa menerimanya. Aku pun berhak untuk memilih kepada siapa aku akan berlari.

Aku masih merindukannya. Tentu saja aku rindu. Bulan pun berganti dengan anai-anai kenangan yang terus bergejolak di otakku; masa-masa saat bersamamu. Aku akan sangat berterimakasih karena kau sudah hadir dan tercatat menjadi bagian hidupku. Aku harap kau tidak membenciku, untuk aku yang dahulu, sekarang dan nanti. I do appreciate for everything.

Petualangan hidupku masih belum selesai. aku masih ingin menggapai semuanya.

Listening to Blue Moon by Beck

Posted: 19 February 2015 in Catatan Senja

I will never play this song unless I’ve realized that the grammy’s album of the year goes to this. Beck, poor are you but lucky are you, a million people out there are bitching on you bcz you won against other big artist. yet you never care about the shit. wkwk.
It sounds great. ‘Morning Phase’ is my type. I think Beck much deserves on it. Menurut lo? hahaha

Listening to Blue Moon by Beck with Jati, Bendot Tetap Semangat, and Andik

Preview it on Path

Tiada Lagi Puisi

Posted: 8 January 2015 in Puisi
Tags: , , ,

Ia tak menghitung suara perang
lama kiranya burung menghunus fajar
Ia tak percaya,
kota mati ini gagal dibuka

jejakku masih mengintai nadi suri
bahwa bersama baitpun ia pasti sendiri
kali ini ia melipat diri
bersama deras hujan yang dipetik jemarinya sendiri

Purwokerto, Januari 2015

Jejak Yang Tak Lagi Sama

Posted: 5 December 2014 in Catatan Senja
Tags: , ,

Aku masih menyimpan
Satu kertas usang
Yang tertulis namamu

Aku bahkan ingin mengundangmu di penghujung senja
Lantas kita tertawa,
Lalu bertanya pada diri kita masing-masing,
‘Mengapa aku harus mencintai dan dicintai?’

Lalu kita saling menatap
Lama.
Sampai bintang pun tersenyum.
Mungkin benar jika ia pernah berkata,
Hal paling menyakitkan adalah melepasmu.


Finalis duta bahasa jawa tengah 2014Menjadi seorang duta mungkin adalah impian sebagian orang. Namun, terkadang lupa bahwasanya dibalik gelar ‘Duta’ seseorang, tersimpan sejuta kisah pengalaman dan tanggungjawab moral yang mulia. Dibalik gelar duta, ada suatu hal yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi masyarakat. Dibalik gelar duta, ketampanan dan kecantikan bukanlah menjadi hal yang nomor satu. Namun, seorang duta yang baik adalah orang yang mampu mengkombinasikan physical appearance bersama sikap, kecerdasan intelektual, kreatif, jiwa sosialis, dan komitmen mulia. Komponen tersebut menjadi kesatuan yang dapat saling melengkapi dan tertanam dalam diri seorang duta.

Sebagaimana pengalaman saya di Minggu pertama Oktober ini. Bertempat di Hotel Move Megaland Jalan Slamet Riyadi –Surakarta, terhitung sejak tanggal 6 – 9 Oktober 2014, saya mendapati ilmu dan pengalaman menyenangkan mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Jawa Tengah 2014, sebuah acara tahunan yang diadakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jateng bersama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini diadakan untuk menjaring generasi muda yang memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia.

Setelah mengikuti proses seleksi yang cukup ketat, dimulai dari Seleksi administrasi, tes UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia), wawancara tiga bahasa, saya bersyukur dapat lolos dan dinyatakan menjadi finalis yang akhirnya dipertemukan dengan 40 Finalis yang terdiri dari generasi muda putra putri yang hebat di seluruh Jawa Tengah ini. Bersama mereka, saya mendapat banyak inspirasi. Bersama finalis, saya memiliki keluarga baru dengan pribadi yang unik dan cerdas. Meskipun saya tidak menang, namun saya bahagia sekali. Karena menang dan kalah dalam sebuah kompetisi merupakan kado agung dari Allah dimana melaluinya kita dapat memetik banyak hikmah untuk tidak menyerah dalam berkarya. Saya bahagia karena bertemu dengan finalis yang luar biasa. Beberapa dari mereka adalah dosen muda, dokter muda, guru muda, duta kabupaten, duta pariwisata, bahkan remaja SMA yang sudah cakap dalam komunikasi tiga bahasa pun ikut beradu ketrampilan. Menyimak paparan mereka saat di panggung yang sangat inspiratif. Jangan salah, kecintaan dan kepedulian mereka dengan Bahasa Indonesia patut diapresiasi.Mereka adalah mahasiswa, siswa, dan pemuda pilihan di provinsi Jawa Tengah ini.

Ini adalah kali pertama dalam hidup saya mengikuti acara pemilihan duta Bahasa, karena jurusan kuliah saya adalah bahasa, saya kira ajang seperti ini sangat perlu untuk diikuti untuk generasi muda. Sebagaimana pidato ketua Balai Bahasa bahwa pemerintah tidak akan memilih Duta Bahasa jika tidak ada permasalahan dalam Bahasa, tidak akan ada Duta Lingkungan, jika problematika lingkungan masih terus berlanjut di masyakarakat. Dengan ini menimbulkan kesadaran bagi saya pribadi, bahwa saat ini Bahasa juga mengalami problematika yang cukup serius. Penyalahgunaan bahasa, kesantunan berbahasa yang mulai kurang, budaya-populer yang menyerang generasi muda terkait bahasa alay yang tidak diketahui sumbernya masih merebak. Disinilah, seorang duta Bahasa mampu berkontribusi menjadi mitra Balai bahasa akan artinya sosialisasi dan pengabdian kepada masyarakat.

duta bahasa jawa tengah 2014Akhirnya, setelah selama tiga hari menjalani karantina, di hari ke-tiga kami mendapatkan penghargaan yang luar biasa akan pengumuman pemenang Duta Bahasa Jawa Tengah 2014 yang nantinya berhak meneruskan kiprahnya di ajang pemilihan Duta Bahasa Nasional. Ahirnya, Jawa Tengah memilih Muh. Irfan, mahasiswa asal Purworejo dari Prodi Indonesia Universitas Indonesia dan Ghoniyati Rohmah alumni Sastra Daerah Universitas Indonesia dari Kebumen, sebagai Duta Bahasa Jateng 2014. Untuk sahabatku finalis yang lain, perjuangan kita tidak cukup selesai sampai disini. Kita masih memiliki tugas untuk mempraktikkan apa yang kita dapat selaama karantina. Mereka sungguh luar biasa. Saya salut dan bangga memiliki kawan seorang duta, bersama teman-teman finalis yang cerdas dan membanggakan. Dan aku masih menunggu cerita inspiratif dari kamu, sahabat-sahabatku yang lain untuk ikut acara ini tahun depan, untuk menjadi insan muda yang menginspirasi diri sendiri, orang lain dan bangsa! 😀

Thank You, September

Posted: 9 September 2014 in Catatan Senja, My Journey

Rifan Yusuf at Gunung Prau

Terlalu banyak catatan yang kuremas habis-habis. Barangkali karena terlalu merah, atau mungkin karena memang membuat mata lelah. Jika jejak yang berlalu itu terhempas oleh debur waktu, maka aku pasti orang yang pertama melebur semua itu. Perlahan tapi pasti, membunuh detik yang tak sempat kukupas lagi.

Aku masih menyimpan banyak obrolan dan kasak-kusuk tentang aku semalam, atau tentang aku kemarin. Sementara ngerumpi bersama segelas kopi bersama sahabat sejati bisa jadi hal terasik, sampai aku lupa diri, kalau aku teramat nista bicara dustaku sendiri. Jadi aku mungkin ingin menggunting saja solatip, lalu meregangkan mulut agar terkunci.

Thank’s God. Aku sudah banyak terdoktrin dari kejadian itu. Manakala aku beramai-ramai foto selfie, manakala aku beradu argumen dimalam hari, manakala aku sesak melihat kanan kiriku menangis, hingga lalu nekat berbagi imaji yang membuat orang lain iri. Teramat klasik, mungkin itu tak lebih dari sekedar kutukan bahwa September menjadi alasan mengapa aku harus kembali bangkit lagi. Kamu, iya kamu!

Thank you, Allah. Keringat itu mungkin tak berkucur sebanyak aku tahun lalu. Kebocoran sana sini menjadi bulir-bulir hidup yang bisa kuinstall untuk kembali berjalan atas sejuta pilihan.

Aku ingin memutar lagu, “September Ceria!” agar tetangga dekatku ikut bernyanyi. Karena aku belajar jutaan arti hidup di September ini.


Ekspedisi ke-dua: Menaklukan Surga di tanah Dieng Kulon, Gunung Prau!

Gunung Prau DiengBarangkali aku memang sudah ditakdirkan menjadi sosok sebagaimana kakak-kakakku, bahwa aku adalah sang pecinta Alam. Tapi bagiku julukan itu terlalu ekstrim, karena aku baru dua kali mendaki puncak gunung which is aku masih menganggapnya sebagai puncak bagi para pendaki newbie. Okelah, terlepas dari siapapun pecinta Alam itu, terlapas dari prestige kakakku yang sudah menaklukan puluhan Gunung di negeri ini, pada dasarnya aku suka mendaki gunung. Aku akan sangat senang menikmati perjalanan dan pengalaman itu karena itu aku menjadi mengerti, tafakkur, betapa Agung nan indah kuasa Allah, Tuhan semesta Alam.

Akhir Agustus menjadi catatan paling seru buat kami, Aku, Suryadi, Bang Widhi, Wildan, Latif, Wahyu, Farih, Obit, Taufiq, dan Tolib : para kawanan pondok al-amin yang siap menjajal arti sebuah petualangan. Kami bersepuluh berinisiatif menjajal pendakian di Gunung Prau, Dieng. Barangkali alasan refreshing karena penat, atau mungkin sekedar silaturahim ke rumah kawan. Beruntung sekali, sahabatku Farih adalah warga Batur yang dekat dengan pusat wisata Dieng. Sehingga itu akan semakin mempermudah jalan kami mendaki kesana. Selain dia yang tahu arahnya, kami jadi semakin tak ragu karena ada sang director yang menjadi pemandu jalan kami.

Semua perkakas kami siapkan. Kami bentuk semacam manajemen camping. Ya, seru juga rupanya, aku jadi mengerti bahwa saat hendak camping atau mendaki, managemen petualngan sangat dibutuhkan. Barang bawaan, iuran, persediaan, atau mungkin yang lainnya. kami mengadakan rapat internal di rumah Wahyu yang masih asli orang Banjarnegara pucuk. Disana pun aku sudah mengalami hawa dingin yang menusuk tulang. Cuaca dinginnya nya sungguh ekstrim! Padahal belum sampai puncak Gunung, tapi beberapa dari kami ada yang menggigil duluan. Begitu sajalah, rokok, kopi, dan sedikit cemilan roti menjadi kawan cuaca saat itu. Thank you Allah, you made this friendship!

saat pagi hari, aku penasaran dan mencoba melihat pemadangan alam. rupanya sunrise menawan pun tampak indah di lantai dua rumah Wahyu. Aku pun sempat mengabadikannya dengan kamera ponselku. Indah! Gunung Sindoro dan Gunung sumbing sungguh cantik!

Sunrise Di lantai 2 rumahnya Wahyu, Banjarnegara

Sunrise Di lantai 2 rumahnya Wahyu, Banjarnegara

 

Perjalanan yang sebenarnya pun dilanjutkan. Setelah transit di rumahnya Wahyu yang dengar-dengar bapaknya adalah juragan salak, kami langsung meluncur ke Dieng dan berniat mampir dahulu ke kediaman Farih di Batur. Read the rest of this entry »