Buka Hati kalian, Sedikit Saja Untukku

Posted: 11 January 2013 in Entittled Note

Aku heran sekali pada kalian. Sangat heran dan Sungguh heran. Kadang sempat terbersit di dalam benak, kalian itu hidup atau tidak? Kalian itu makhluk macam apa? Individualis? Atau sosialis?

Malam ini aku berada pada puncak “kesuh” tingkat badai. Oleh karena itulah aku melayangkan tulisan ini. Aih, lagi-lagi aku menulis? Hebat, betapa hebat ya aku ini. Dalam hitungan sehari saja aku berhasil posting 5 catatan sekaligus. Dan kau perlu tahu akan hal itu. Itu menunjukkan bahwa semakin aku banyak menulis semakin banyak pula kunang-kunang yang hinggap di kepalaku. Tanpa maksud lain, hanya sedikit berniat mengusir kunang-kunang yang kadang membuat mataku berlinang.
Oh, dramatis.

Harusnya kalian tahu. Harusnya kalian sedikit saja memahami mengapa aku seperti ini. Bukankah kalian sudah teramat sering melihatku seperti ini? Nah, mengapa masih saja belum pengertian? Bicara solidaritas, ternyata babakan yang omong kosong belaka.

Senja ini, aku berada pada puncak kesakitan tingkat badai. Kepalaku pusing dan berat. Rasa-rasanya seperti ditimpa timpukan kelabu. Hidung mampet, Mataku berkunang-kunang, bergolak. Senja itu pula aku tengah terkapar karena lagi-lagi tubuh ini memaksaku untuk kembali tergolek. Adzan magrib menggema, para santri di penghuni kamar ini masih sempat-sempatnya bergelagak, cekikikan. Adzan magrib bagi mereka tak begitu “mandi” atau ampuh untuk bergegas ke masjid Baitul Muttaqien, masjid kunjungan kami sehari-hari yang bergema 5 waktu. Ya, adzan magrib belum ampuh sebelum Abah berkelakar memukul-mukul kentongan.
“Tek! tek! tek! tek! tek!”
memecah keriuhan ke segenap penjuru kamar Pondok ajaib ini.
Baru, euofria para santri mulai tergugah hatinya untuk ramai-ramai bersiap-siap, kemudian antri wudhu. Sholat Magrib berjamaah, hingga sampai pada mengaji inti. Jumat, jadwalnya Abah ngaji Kitab Ta’limul Muta’alim.

Semenit kemudian, kamar kosong. Senja itu hanya ada aku masih tergeletak lemas diatas kasur pesing.
Well, magrib itu kisah kesuh ini mulai tergolak.

Demam panas yang kuderita ini rupanya masih saja dianggap sandiwara oleh mereka, para kawan yang belakangan aku menaruh dendam. Jangkrik!

Mereka mengabaikanku. Syukur. Paling tidak sedikit ada pengertian. Aku sedang tidak berselera mengaji senja ini. Untuk bangun saja aku berat. Derajat panasku juga naik entah berapa celcius.

Dalam kamar itu, aku masih tergolek lemas. Berselimut jaket apek dan kasur yang kutanggangi ini entah berapa bulan tak dicuci. Ah, tak peduli. Yang penting enak untuk merengkuh badan ini untuk istirahat.

Aku masih menenggelamkan muka ke dalam sarung. Tiba-tiba, seseorang datang mendadak, tak mengetuk pintu. Lalu mendekatiku.

“Ngaji! Ngaji! Ngaji! Goleti Abah!”

gertaknya sembari memukul-mukul tubuhku yang tergeletak lemas. Dan aku baru tahu manusia keparat itu setelah aku membuka sarung sesaat sebelumnya tubuhku masih menggigil.

Sial! Keamanan rupanya. Jangkrik! tak punya hati sampean! Batinku geram.
Aku langsung berkelakar.
“Saya sakit demam, kang. Izin nggak ngaji dulu. Pengertian sedikit lah” jawabku dengan tubuh masih tak berdaya, menggigil.
“katanya sudah sembuh, Tak usah pura-pura lah!” jawabnya melotot.
“Siapa bilang, kang! Yang merasakan itu saya, bukan sampean!” aku tak mau kalah.

Lalu tiba-tiba saja keamanan angkuh itu pergi mendobrak pintu. Ngeloyor saja. Dan aku cukup lega. Baik, dia memang pengurus baru. Senior pula. Sebagai junior, aku memang harus menghormatinya. Tapi satu hal busuk yg aku tak sukai. Sampean, keamanan itu, tak punya hati! Mentang-mentang sudah dilantik jadi pengurus baru jadi seenaknya. Menghukumi tanpa melihat situasi. Kalau aku masih satu umur dengannya, sudah kuhajar langsung hidungnya biar mimisan!

Satu hal lagi, setelah skandal keamanan itu yang membuatku “kesuh”, lain, giliran satu kamarku yang lagi-lagi tak punya hati.
Mereka mengabaikanku saja terkapar diatas kasur pesing. melirik pun tidak. Kalau pun toh melirik pasti dengan pandangan pahit.
Hey! Tak lihat apa aku sedang sakit!
Baik. Aku memang tak butuh belas kasihan sampean-sampean, teman satu kamarku yang “selvish” sekali hatinya.
Aku memang harus bergerak sendiri. Kalau memang sampean bersikap seperti itu.

Lain, ada lagi manusia-manusia brengsek yg malah tertawa dibalik pesakitanku.
“law. . Galaw. . Law..”
jangkrik benar orang itu.

Aku bangkit. Hari sudah malam. Sepertinya aku memang perlu datang ke klinik sehat. Akhirnya, kupaksakan badanku yang masih belum seratus persen pulih ini pergi ke Unsoed Health Center (UHC). Aku pergi sendirian kesana. Tak peduli mata berkunang2, mulut serak terbatuk-batuk, kepala berat, kukayuh sepeda biru.
Sesampainya disana aku malah hampir ditolak karena waktu sudah larut, hampir tutup. Untung, pelayan kasirnya baik dan masih menerimaku karena kondisi yg cukup darurat.
Alhamdulillah, aku lega.

Harus menunggu mereka terketuk hatinya? Oh, percuma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s