Nggak Ada Alasan [Nggak] nulis

Posted: 11 January 2013 in Entittled Note
Tags:

Kali ini aku baru bisa menyatakan kalau sekarang aku bisa menulis. Hah, pede sekali saya. Belum maksimal memang. Tapi, paling tidak aku sudah cukup punya kemampuan meramu 26 huruf ini menjadi sebuah morfem, dari kumpulan morfem itu akhirnya tersusunlah sebuah kalimat, hingga paragraf, lalu berakhir dengan sebuah wacana yang mampu terbaca.
Ini sungguh luar biasa! Aku tak menyadari akan hal itu.

Segala sesuatu memang dimulai dari kebiasaan. Barangkali, aku bisa menulis seperti karena kegemaranku mengarang bangkai-bangkai curhatan di facebook. Setiap ada sesuatu hal unik yang menimpa perasaan, aku tulis. Setiap kali aku dirundung kegalauan, aku tulis.
Hahaha, terserah orang mau menjuluki ku raja galau atau apa. Yg penting hasrat menulis memang harus terpenuhi, karena belakangan baru-baru ini aku mulai mengerti betapa euforia menulis itu sungguh mampu menyembuhkan kegilaanku.
Apalagi, sebagai mahasiswa Bahasa, proses menulis itu memang penting dan perlu dipraktikkan. Buat apa aku belajar teori sastra, teori mengarang, teori semantika atau ilmu tata bahasa sedangkan aku tak begitu akrab dengan bahasa?
Ya, mulai sekarang aku memang sangat butuh dengan “MENULIS”

Nggak ada alasan untuk tidak menulis. Lihat saja, hampir tiap hari, dengan modal sebuah hp jadul keluaran tahun 2008 ini, aku sudah menulis di catatan yang sekarang genap berjumlah 183.
Dan aku yakin, jumlah itu akan terus bertambah selama aku masih menyimpan berbagai ide-ide galau yg memang perlu sekali kutuliskan.

Perlu aku catat, aku melakukan hobby ini juga tidak ada maksud apa-apa. Aku sekedar ingin mengasah kemampuanku. Aku anggap ini adalah proses dimana aku belajar menulis.

Semenit yang lalu aku berkunjung ke sebuah blog salah seorang cerpenis muda indonesia, Syarif Hidayatullah. Seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di UHAMKA Jakarta. Dalam situs blognya ia menulis:
“Menulis yg baik adalah menulis diri sendiri. Karena kau lah yg lebih tahu tentang dirimu dibanding hal-hal diluar dirimu”

Aku mulai belajar dari kata-kata itu. Paling tidak, untuk mencurahkan semua ruang imajinasi dan eksplorasi multi-dimensi memang dimulai dari hal yg paling sederhana, melukis diri sendiri. Ya, seperti nya hal yg sangat menarik karena kita lebih mengerti celah-celah mana yang memang perlu kita gali untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s