Ibu, Aku Pulang…

Posted: 14 January 2013 in Cerpen

perpisahan

LENGKUNG punggungnya tenggelam dalam barisan kemuning padi, bergerak dari satu pematang ke pematang. Tangannya yang kelam dengan jemari kapalan karena tak pernah menyentuh pelembab macam manapun itu menggurita, mencabuti satu per satu alang-alang yang menggemukkan diri, alang-alang yang membunuh padi kami. Capingnya berayun digigiti angin, menaungi kerut wajah legam, meski legam tapi dari wajah itu senyum tak pernah berhenti terbit. Senyum itulah yang menggigiti kemiskinan hingga tinggal sepah.

***

Kereta yang ia tumpangi mulai merayap, membelah debar kerinduan pada sosok yang selama lima tahun ini ia tinggalkan demi sebuah impian akan hidup mapan. Seharusnya ia memilih kereta ekonomi dengan berbagai macam orang yang bisa diamati daripada kereta eksekutif dengan AC melengking dan tempat duduk luas tapi terasa sepi dan asing.

“Jadi budak lalaki mah kudu loba kahayang tur cita-cita nu luhung, Jang,” [1] begitu selalu kata Ibu.

Anak laki-laki. Ah, betapa kata itu mampu mengiris dadanya hingga jadi serpihan kecil. Di kampungnya yang terpencil dan terkucil, menjadi anak laki-laki berarti bukan hanya harus siap menjadi tulang punggung keluarga, melainkan juga jadi kebanggan warga desa. Semua anak laki-laki di kampungnya pergi merantau, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun. Tapi mereka semua selalu tahu jalan pulang dan datang sebagai orang. Bukan para perantau yang bernasib malang.

Betul saja, perjalanan empat jam dari Jakarta ke Bandung lalu ke Cicalengka bukan waktu yang sebentar untuk dihabiskan sendirian. Ia merindukan asap rokok, merindukan buih-buih dalam gelas bir, merindukan dentum musik dan segala macam hingar bingar. Perjalanan yang sepi seperti perjalanan menuju mati, pikirnya.

Ia masih ingat, lima tahun yang lalu, tepat di Stasiun Cicalengka, tangannya masih memagut tangan Ibu. Orang-orang berlalu lalang tapi yang ingin ia lihat hanyalah raut sederhana Ibu; wajah penuh kegigihan, wajah yang penuh aura kehidupan.

“Baik-baik di Batam ya, Jang. Tong kabawa ku sakaba-kaba,” [2] kata Ibu.

“Insya Allah, Bu. Ujang pasti jaga diri baik-baik. Nanti, kalau Ujang sudah punya uang banyak, Ujang pasti pulang. Nanti Ibu Ujang beliin tanah dan sawah supaya Ibu tidak harus jadi buruh tani terus, biar punya sawah sendiri,” ia menerawang, menatap langit-langit stasiun yang penuh sarang laba-laba.

“Sok didoakeun ku Ibu, Jang,” [3] kata Ibu lagi.

Senja itu, tangan Ujang tetap memagut tangan Ibu. Ia bahkan tidak peduli meski orang-orang memandanginya, bahkan terkikik geli. Laki-laki berusia dua puluh tahun yang begitu dekat dengan ibunya adalah tontonan menggelikan, mungkin.

Ujang tidak peduli. Bagi Ujang, Ibu adalah pahlawan. Ibu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah tertawa meski ia lebih senang bermain boneka daun ketela daripada bermain bola. Ibu satu-satunya orang yang tidak mencibir walau ia lebih senang belajar memasak daripada belajar silat kepada Wak Soma seperti teman-teman lelakinya. Ibu adalah satu-satunya orang yang akan menghibur, memeluk, membela dia dari ejekan ‘banci’ yang dilontarkan teman-teman bermainnya.

Senja itu, Ujang melepas tangan Ibu dengan derai air mata. Ada kereta yang akan membawanya pergi meninggalkan Cicalengka, meninggalkan Pulau Jawa. Kereta yang akan menghantarkan ia meraih mimpi-mimpi dan harapan akan hidup mapan. Sebab ia laki-laki, maka ia harus pergi.

***

Kereta tiba di Stasiun Bandung, selewat tengah hari yang terik. Ia turun, keluar dari stasiun menuju sebuah restoran yang menyediakan masakan Sunda lengkap dengan ornamen dan musik ranah Priangan. Ujang serasa berada di rumah.

Cicalengka masih jauh, masih ada kereta yang harus ia tumpangi. Sebetulnya, ia bisa saja naik angkutan kota. Tapi, kereta tetap menjadi pilihan utama sebab mendatangkan rasa dan kenangan yang tak bisa digantikan oleh kendaraan jenis apa pun.

Sesuai surat yang ia kirimkan dua minggu yang lalu, Ibu sudah diberi tahu bahwa ia akan datang hari ini, menumpang kereta ekonomi. Ia tak mengharapkan Ibu akan menjemputnya di stasiun sebab jarak antara kampung Sindangwangi ke stasiun begitu jauh. Namun, ia tahu Ibu pasti datang.

Pukul tiga sore, kereta jurusan Bandung-Cicalengka mulai melaju. Ujang duduk di bangku dekat jendela, hatinya berdebar-debar. Apakah Ibu akan gembira menyambutnya datang seperti ia yang gembira karena telah pulang? Apakah Ibu akan tetap menjadi pahlawan baginya, tameng bagi cibiran orang-orang, bahkan setelah segala sesuatu sudah sedemikian berubah? Mata Ujang menelusuri bangunan-bangunan yang berkelebat di luar, tanpa sadar air di matanya menguar.

Ia tak membawa oleh-oleh banyak kecuali tiga stel gamis, satu buah mukena, dua buah selop berwarna senada, dan sebuah ponsel untuk Ibu. Tidak afdol rasanya jika para perantau dari Batam kembali ke kampung halaman tanpa membawa satu pun alat elektronik atau gadget. Ujang tak membawa oleh-oleh untuk orang lain sebab ia tak memiliki sanak saudara lain kecuali Ibu yang janda dan hanya memiliki ia sebagai anak tunggal.

Ransel dengan model dan merk terkenal tercangklong di pundak Ujang. Di dalamnya berisi uang, tiga buah kartu debit berisi cukup untuk membeli sepetak sawah dan seekor kerbau. Ia tersenyum, membayangkan membawa Ibu ke pasar, membeli beras, minyak, ikan, lauk-pauk, dan semua kebutuhan dapur yang selama ini tak pernah ia dan Ibu punya. Bertahun-tahun, Ibu memberinya makan dengan lauk seadanya. Ia tak pernah mengeluh, sebab Ibu juga tak pernah mengeluh.

Tangan Ujang mengusap rambut pendek cepaknya, rambut yang beberapa minggu lalau masih panjang berwarna cokelat. Kereta berderak-derak di atas rel, sore semakin menanjak, beranjak. Senja mendekat bersamaan dengan terlipatnya jarak.

Ujang merapikan kaus dan jaketnya. Sesekali ia mencuri pandang pada pantulan dirinya yang baru di kaca jendela kereta. Rahang persegi, rambut pendek, kulit cokelat bersih. Tubuh tegap dibalut kaus, jaket, dan celana jeans merk terkenal. Ia terlihat tampan seperti pemuda kebanyakan. Bahkan dua orang gadis di seberang kursinya kerap melayangkan pandangan pada Ujang. Namun mata Ujang gelisah, duduknya juga semakin gundah.

“Gue mau pulang ke kampung,” pamit Ujang kepada teman-temannya sesama pegawai salon terkenal di Batam.

“Yakin lu? Dengan keadaan lu yang kayak gini?” tanya Asri.

Ujang diselimuti ketidakyakinan. “Kasian Ibu kalau ditinggal sendirian. Udah tua, seharusnya gue yang kerja dan dia tinggal di rumah. Lagian, gue enggak punya keluarga lain selain beliau.”

“Ck ck ck… udah mulai mellow lu? Lu pikir ibu lu bakalan menerima lu yang sekarang sudah kayak gini? Lu itu salah satu penata rambut kawakan, kelas internasional. Ngapain balik kampung? Mending lu di sini, buka salon sendiri. Gue yakin, lu bisa sukses tanpa harus balik ke kampung,” kata Asri lagi.

“Tapi gue pengen pulang …,” gumam Ujang.

“Di sini, enggak ada yang peduli ama status gender lu. Di sini, elu enggak akan diteriaki banci seperti teriakan orang-orang di kampung lu,” Ina angkat bicara.

Ujang diam.

“Lu akan pulang dengan penampilan kayak gini?” Asri menunjuk sosok Ujang yang sedang berpenampilan sebagai Dewi.

“Mungkin gue harus kembali menjadi Ujang yang dulu,” gumam Ujang.

Ya, selama lima tahun di Batam, Ujang telah berubah menjadi Dewi, seorang penata rambut kawakan di salon terkenal. Dengan ‘isi’ laki-laki namun berpenampilan perempuan, Ujang kerap merasa nyaman. Baginya, ia jadi seperti Ibu, perempuan yang sangat ia kagumi. Di Batam, tak ada yang meneriakinya sebagai banci, ia justru dipuja dan dipuji. Namun, ketika keinginan untuk pulang sudah sedemikian menyesakkan, Ujang tahu bahwa sebagai seorang Dewi, ia tak akan mengubah apa-apa kecuali membenarkan apa yang selama ini diteriakkan orang-orang kampung kepadanya; banci. Ia lelaki, ia tahu itu. Ia pergi dari kampung sebagai lelaki, maka akan pulang sebagai lelaki.

Kereta memasuki Stasiun Cicalengka, Ujang terhenyak. Ia berderap turun. Tangannya gemetar, dadanya bergeletar.

Peron penuh dengan orang-orang, mata Ujang mencari-cari satu sosok di antara kerumunan. Sosok perempuan sederhana yang begitu ia rindukan. Itu dia! Ujang bersorak. Perempuan setengah baya itu berdiri, memakai gamis berwarna lembayung dan kerudung.

Ujang bergegas, tangannya mulai kebas, ia ingin sekali tersuruk di pangkuan Ibu; menangis dan meminta maaf hingga air matanya tandas.

“Bu!” panggilnya.

Perempuan yang ia panggil Ibu mengerutkan kening, menatap Ujang dari ujung rambut ke ujung kaki. Matanya berkaca-kaca.

“Ini Ujang, Bu,” tangan Ujang melayang, menggamit tangan perempuan di depannya.

Mata Ibu kembali menyelidiki sosok pemuda di depannya.

“Ini Ujang, Bu,” ulangnya, masih dengan degup kerinduan di dada.

“Subhanallah!” Ibu menutup mulut, terhenyak, matanya membelalak. “Ujang? Meuni kasep tur gagah kieu. Siga pisan orang kota ayeuna mah.”[4]

Mata Ujang berkaca dan pecah. Ia terjatuh, berlutut, tangannya merangkul kaki Ibu.

“Hampura [5] Ujang, Bu. Ujang baru bisa pulang sekarang. Ujang kangen banget sama Ibu,” tangis deras.

Ibu mengatupkan mata, dadanya naik turun. Air mata meleleh di mata Ibu. Anak lelakinya telah kembali. Mereka berdua berpelukan erat seperti dua orang yang sempat terpisah selama jutaan tahun.

Mata Ujang masih berkaca demi melihat binar bangga dari mata ibunya. Dewi telah mati, bisiknya dalam hati. Kereta meninggalkan stasiun, meninggalkan apa-apa yang di belakang. (*)

Catatan:

[1] Jadi anak laki-laki itu harus banyak keinginan dan cita-cita yangtinggi (Sunda)

[2] Jangan terbawa yang tidak-tidak. (Sunda)

[3] Silakan, didoakan oleh Ibu. (Sunda)

[4] Tampan dan gagah sekali. Sangat persis orang kota sekarang mah. (Sunda)

[5] Maaf. (Sunda)

Cerpen Skylashtar Maryam (Republika, 23 Desember 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s