Kang Dasrip

Posted: 15 January 2013 in Cerpen

Kang dasrip

Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji, yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikan radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa. Perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar.
Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu rupiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh.
Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi terutama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu, pada acara khitanan anaknya ini, ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Bahkan bisa lebih banyak.
Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp 200,- sekarang cuma ngasih Rp 100,-. Yang dulu ia kasih beras sekilo, sekarang hanya mbuwuhi setengah kilo. Bahkan ada yang lebih laknat lagi: datang tanpa bawa apa-apa, padahal ikut makan dan minum. Apa tak kurang ajar. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek.
“Sudahlah, Kang. Tak usah bingung. Kita nunggu sewa tebu sawah kita saja untuk beli radio itu, “ kata istri Kang Dasrip.
“Kau kira berapa sewan untuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. “Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa sawah kita untuk ditanami tebu. Ngomongnya saja tebu rakyat!
Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita, dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!”
Istrinya tak berani membantah. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung.
“Biarlah nanti aku yang ngomongi Daroji,“ kata istrinya lagi.
“Ngomongi apa! Dia anak kecil!”
“Ya disuruh sabar.”
Kang Dasrip tertawa kecut. “Sabar sampai kapan?”
“Kita kan bisa usaha.”
“Usaha apa!”
“Soal sewan tebu itu misalnya. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewanya.”

Tertawa Kang Dasrip mengeras. “Kau kira lurah kita pahlawan, ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu ini. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar, pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana, uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya, tapi dia belum pernah merasa puas, dia masih merasa kurang kaya…!”
“Jadi bagaimana?” istrinya tampak sedih.
“Ya bagaimana! Memang bagaimana!” jawab Kang Dasrip.
Mereka kemudian tak berkata-kata lagi.
Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan, kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi Saudara Rp 200,- kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp 100,-“ tulisnya. “Saya dulu mbuwuhi … kok sekarang …” demikian ia tulis sampai 23 surat.
Ketika surat itu selesai diantarnya, ributlah oprang desa. Ada yang tertawa, ada yang memaki-maki. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. “Memalukan desa kita!” kecam mereka.
Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu, kecuali nama yang memalukan. Bahkan lebih dari itu, di tengah malam ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ini sia-sia. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Istrinya ketakutan. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. “Mereka-mereka itu undangan kurang ajar!” katanya.
Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersuka citalah anak itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Radionya dicopet di pasar, Nak …!” ujarnya. Daroji menanis.

(Emha Ainun Najib dalam Yang Terhormat Nama Saya, Mei 1992)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s