Laguku Indah, Tapi Lagumu Lebih Indah Adik Manis

Posted: 16 January 2013 in Cerpen

galau_REMAJAAku menekuk lutut. Membenamkan wajah diatasnya. Mencoba mencari kekuatan dalam bisu. Hening memagut ditengah keramaian yang tercipta di lapangan ini. Lapangan Merdeka orang-orang menyebutnya. Disini selalu ramai saat sore menjelang. Berbagai model orang dan keperluan yang beraneka ada di lapangan ini. Yang biasa saja, yang necis, yang bergaya cuek ada disini. Dari yang sekedar ingin lari sore demi membakar lemak-lemak di tubuhnya. Atau orangtua membawa anak-anaknya yang masih kecil untuk bermain, karena memang di tempat ini tersedia permainan buat anak-anak. Ada juga yang latihan cheers, ada yang mencari objek bagus untuk diabadikan, ada yang sedang pacaran, ada yang sedang mengurai kusut tali kasih dengan kekasihnya, ada yang membawa buku dan membacanya disini, ada yang acara keluarga, atau ada juga yang yang hanya sekedar jalan-jalan membuang suntuk kemari. Ya seperti aku. Tidak ada tujuanku yang jelas datang kemari. Tapi entah mengapa kaki membawaku kemari. Sering, tanpa kusadari aku telah menemukan diriku disini. Tanpa ada persetujuan sebelumnya. Seolah tempat ini telah menyatu dengan jiwaku. Seakan telah lekat denganku. Tempat ini menjadi salah satu tempat favoritku. Sendiri pun tak menghalangiku tuk mendatangi tempat ini. Sendiri ditengah keramaian disini tak jadi soal bagiku.

Aku masih menekuk lutut dan membenamkan wajah diatasnya. Menikmati pengembaraan jiwaku, menikmati rasa menyelami lara yang kemudian ku tahu aku sendiri yang membuatnya menjadi tinggi menjulang, megah besar di hati dan pikiranku.

“Mengapa seperti ini ya Allah, mengapa sesulit ini, apa salahku yang harus kuperbaiki, apa kurangku dalam pengharapanku padaMu. Tak kuat lagi rasanya dengan ini semua. Kapankah akan berakhir ya Allah…” memelas penuh harap dalam hatiku.

Aku masih saja menekuk lutut dan membenamkan wajah diatasnya. Tiba-tiba…

“maaf mbak boleh duduk disini?” sapa seseorang yang tidak tahu entah sejak kapan berada disitu. Melihat wajahnya yang masih muda, aku yakin aku lebih tua darinya dan yakin dengan panggilan “dek” padanya.

“oh, boleh..silakan dek” ujarku sambil memaksakan melempar sebuah senyuman manis pada anak itu, pertanda aku tidak keberatan dia ikut duduk bersamaku.

“lagi ngapain mbak?” tanyanya mencoba mengusir canggung

“oh…gada ngapa-ngapain dek, cuma liat-liat pemandangan disini aja” jawabku sekenanya, setengah ragu akan apa yang barusan terucap, si adik pun sangat jeli menangkap keraguan itu.

“yakin mbak?” seperti sebuah paksaan bagiku untuk menjawab pertanyaan itu dilontarkan oleh seseorang yang bahkan belum kukenal, baru bertemu 5 menit yang lalu.

“iya” jawabku tegas membangun kepercayaannya akan kata-kataku. “memangnya kenapa dek” kejarku ingin tahu apa yang ada dipikirannya tentangku.

“ga apa-apa sih kak. Cuma tadi Aina liat kakak gak ada liat-liat sekitar sini. Dari kakak nyampe di tempat ini kakak langsung duduk menekuk lutut dan membenamkan wajah” polos si adik-yang kemudian aku tahu namanya Aina-berkata. Tidak ada sedikitpun dalam nada suaranya ingin memojokkan aku. Malah sorot matanya seperti ikut menyelami sedih yang mendera batinku saat ini. Aku menangkap empati yang luar biasa dari sorot lembut matanya dan polos wajahnya, benar-benar tulus. Itu pula yang membuat aku tak menyadari, seperti terhipnotis ketulusan itu, cerita dukaku kukisahkan padanya panjang lebar. Seperti menemukan tempat berbagi, meski Aina hanya menjadi pendengar tanpa solusi bagi masalahku, tak mengapa. Dan aku pun tak berharap solusi dari adik kecil ini. Apalagi dengan usianya yang masih muda aku tak yakin. Saat ini ada yang bersedia telinganya menjadi pendengarku, sudah bagus untukku. Setidaknya semrawut di pikiranku bisa keluar dari sarangnya, mengurangi kepadatan beban yang semakin sesak.

“iya, kamu benar adik manis kakak sedang tidak menikmati pemandangan disini meski kakak suka sekali dengan semua yang ada disini” membuka lembar kejujuran, berharap begini akan lebih baik.

“sama dong kak, Aina juga suka sekali tempat ini. Dalam satu waktu kita bisa menikmati banyak pemandangan disini. Melihat langit yang menaungi tempat ini, menakjubi setiap pergantian warna-warninya yang selalu indah. Tak pernah membuat bosan, meski setiap hari bahkan setiap detik bisa dilihat tanpa perlu biaya, waktu atau alat. Tapi selalu menakjubkan buat Aina. Selalu mengundang decak kagum akan pesonanya. Aina yakin, tidak seorang pelukis pun yang bisa menandingi ataupun bahkan hanya menyamai indah lukisan Sang Pelukis Alam, kombinasi warna di kanvas langit itu…ah, tak terwakili kata untuk indahnya, pesonanya” aku hanya melongo, menatap tak percaya mendengar kalimat-kalimat barusan keluar dari bibir sosok gadis mungil di sampingku ini. Kalimat yang menyejukkan bagi telingaku saat ini, kalimat indah sarat makna.

“Selain melihat langit, Aina paling senang melihat yang seperti itu” tunjuknya ke arah dua orangtua, ayah dan ibu yang sedang menemani anaknya bermain.

“Melihat itu Aina bisa merasakan kebahagiaan adik kecil itu ditemani bermain oleh ayah ibunya. Hal yang tak pernah Aina dapatkan ketika kecil, karena Aina tidak pernah dan tak akan pernah bertemu bapak dan emak. Tapi Aina senang melihatnya meski tak penah memiliki, Aina bahagia melihatnya meski tak pernah mengecap. Aina merasa akan seperti itulah emak dan bapak memanjakan dan membahagiakan Aina jika saja mereka masih ada”

“Bisa melihat apa yang dimiliki dan apa yang bisa dilakukan orang-orang disini, meskipun tidak Aina miliki dan tidak bisa Aina lakukan, adalah kesenangan tersendiri buat Aina. Bahagia dengan merasakan kebahagiaan orang lain. Hmmmm…” panjang lebar ia tertutur sambil memejamkan mata, meyakinkan aku bahwa apa yang ia sampaikan datang dari hatinya, hati yang bersih.

“Oalah kok Aina jadi panjang kali lebar ya nyrocosnya. Jadi lupa kan kakak yang mau cerita tadi” ujarnya seperti baru tersadar kalau sekarang aku yang menjadi pendengar baginya.

“Kakak lagi sedih banget dek Ain. Tugas akhir kakak, skripsi biasa disebut, sudah lama belum di acc sama pembimbing. Sudah bolak-balik diperbaiki masih juga salah terus. Hari ini benar besok jadi salah. Kemarin salah hari ini jadi benar. Ketemu bimbingan juga susah benar sama beliau. Rasanya capek. Bosan, begini terus, gak ada perkembangan. Padahal punya teman-teman yang sudah selesai gak lebih bagus dari yang kakak buat. Belum lagi mikirin biaya yang harus dikeluarkan orangtua kakak di kampung jadi bertambah. Tak tega rasanya melihat mereka. Walau sedikitpun mereka tidak mengeluh tapi malah mendorong agar kakak terus semangat. Tapi rasanya…ah, entah seperti apa kakak mengatakannya. Terkadang, terpikir kenapa sesulit ini. Setiap sholat, setiap teringat, baik waktu sendiri atau ramai, ketika duduk, berdiri atau berbaring, kakak tak pernah bosan, elalu memohon untuk dimudahkan. Bukan memuji diri atau menganggap diri lebih baik dari orang lain. Tapi ada teman kakak, yang kalo diajak sholat aja tega menjawab kalau dia lagi malas sholat. Dengan enteng menjawab “kapan-kapan aja”. Katanya sholat nanti-nanti saja tunggu tua dulu. Atau kalau lagi susah aja, lagi menderita aja baru sholat. Bahkan ketika teman yang non muslim pun mengingatkan dia untuk sholat dia tak acuh, juga tak malu. Meskipun semua teman-teman sudah tau tabiatnya yang enggan sholat, sedikitpun tak tak ada rasa malunya pada kami. Tapi anehnya, urusannya begitu mudah. Proposalnya cepat di acc pembimbing, hasil penelitiannya yang telah menjadi skripsi yang akan diuji pun juga sangat gampang pembimbing meng-acc-nya. Bisa dibilang, lancar dan mudah lah urusannya. Dari segi kemampuan bisa dibilang kami sama. Bukan mau membela diri, bukan membanggakan diri, bukan menganggap kakak lebih baik dari dia. Hanya saja, kakak tengah mencoba merenungi apa arti semua ini. Mencoba mengartikan dengan makna yang mampu kakak pahami, yang dengannya kakak semakin kuat, bukan semakin lemah. Tak bisa dipungkiri, kejenuhan itu terkadang menjadi racun bagi semangat dan kekuatan yang sejatinya memang tak sepenuhnya kuat” berkaca mataku menahan air yang mendesak untuk keluar. Malu jika sampai menangis di depan gadis kecil yang baru beberapa saat lalu bertemu.

“Jika dengan menangis kakak menjadi lebih kuat, mengapa mesti menghalangi ari mata jatuh? Air mata tak selalu simbol kelemahan, tak selalu berarti cengeng” ujarnya yang terasa seperti menelanjangi kelemahanku.

“kakak tau pengamen kan?” aku mengangguk, karena aku yakin Aina tak butuh kalimat jawaban dariku. Di kota ini, bahkan di seluruh negeri ini mana mungkin ada yang tidak tahu pengamen. Bahkan mungkin sering bertemu dengan manusia yang berprofesi sebagai pengamen.

“Aina yakin, kakak pasti sering bertemu pengamen. Karena di kota ini hampir di setiap sudut ada pengamen” diplomatis seorang gadis kecil.

“Dulu sewaktu aku masih kecil sampai dua tahun lalu, aku adalah seorang pengamen jalanan. Tapi seiring bertambah usiaku menginjak remaja, aku malu dan merasa risih untuk terus menjalani profesi itu. Dulu, ketika aku ngamen, terkadang orang-orang akan memberi sebagian rezekinya setelah satu lagu kuselesaikan. Tapi juga ada kalanya mereka mengisi kantong plastikku sebelum aku selesai. Atau malah terkadang, mereka tidak ada yang memberi, tidak memberi apa-apa”

“Sering aku memikirkannya, mengapa begitu. Lama-lama aku tertarik untuk mengamati, ingin tau penyebabnya. Sekian waktu, aku sampai pada kesimpulan yang mungkin boleh jadi adalah sekedar untuk menghibur diri, memberi kekuatan pada diri sendiri. Jika laguku indah, suaraku merdu, maka mereka akan sabar menunggu sampai aku menyelesaikan lagu itu baru kemudian mereka mengangsurkan recehannya ke kantong kecilku. Tapi jika laguku tidak indah, suaraku tidak merdu, mereka akan bosan, sehingga segera mengisi kantongku, agar aku menyudahi saja. Ya…aku mengibaratkan hidup yang kulalui kini seperti itu kak, mungkin laguku lebih indah sehingga Tuhan ingin lebih lama menikmati laguku. Aina tak mengerti dan tak paham betul dengan yang kakak sampaikan tadi, karena Aina belum atau mungkin tak akan pernah menjalaninya. Tapi…mungkin seperti itu juga kakak, anggap saja suara kakak lebih merdu dari teman kakak, lagu kakak lebih indah dari teman kakak, karenanya Tuhan ingin lebih lama menikmati suara dan lagu kakak. Ingin mendengar lagu dan suara kakak, sampai kakak menyelesaikannya. Karena indah lagu kakak, merdu suara kakak, Tuhan melamakan waktu untuk menikmati indah itu ” kata-kata yang lebih dewasa dari usianya. Kedewasaan telah terlampaui oleh umurnya. Analogi yang indah bagiku. Analogi yang tak pernah terpikirkan olehku yang lebih dewasa dari usianya, tak terbersit oleh otakku yang sudah lebih banyak dijejali oleh berbagai ilmu daripada otaknya. Tapi aku tidak sebijak adik kecil, aku tidak se dewasa usiaku bahkan lebih kanak-kanak dari dia si gadis kecil yang manis.

Tiba-tiba tanpa kusadari, aku sudah memeluk gadis kecil Aina. Tidak ada lagi rasa malu padanya meskipun hanya sebongkah kecil yang mengintip di celah hatiku. Aku kini merasa ia seperti seorang sahabat bagiku meski umurnya jauh dibawahku. Beberapa saat kami berpelukan, tidak hanya raga tapi juga memeluk hati.

“Engkau gadis kecil yang hebat dik” desisku.

“Hidup yang ku miliki dan kujalani sebagai pemberian Tuhan, yang membuat aku seperti ini kak. Karena dengan seperti ini aku merasa menjadi lebih kuat, merasa lebih bahagia, merasa lebih beruntung, daripada mereka yang memaksakan diri memiliki kehidupan yang tidak dikehendaki Tuhan”

Kutatap bening matanya, wajah tulusnya, sekali lagi kubawa ia dalam dekapku. Bukan hanya untuk mengalirkan kekuatan untukku, tapi juga untuknya. Gadis kecil yang baru ku kenal tapi serasa begitu dekat dan telah mengenalnya jauh sebelum ini. Adik yang manis yang kini telah kujadikan sahabat meski tanpa kesepakatan diantara kami.

“Oiya kak, sudah terlalu sore ini. Bentar lagi sholat Magrib, Aina pulang dulu. Biar ga kemagriban di jalan” merasa tak perlu menunggu persetujuan dariku ia sudah bergegas cepat. Satu menit kemudian sebelum pulih dari keterkejutanku, ketakjubanku pada si gadis kecil, Aina sudah menghilang di balik tembok yang tak jauh di depanku.

“Aina, makasih ya sudah menjadi sahabat berbagi buat kakak sore ini. Kapan-kapan kita ketemu lagi disini, kakak menunggu” entah dia mendengar atau tidak teriakanku. Tapi aku puas, meski banyak hal belum ku ketahui tentang dirinya. Dimana sekolahnya, kelas berapa, dimana rumahnya, apa profesinya sekarang dan banyak hal lain tentang dia yang terlupa oleh sedihku, terabai oleh pesona adik kecil yang manis.

“Ya…mungkin laguku lebih indah, dan suaraku lebih merdu dari temanku. Tapi tak lebih indah dari lagumu, tak lebih merdu dari suaramu adik manis. Lagumu lebih indah dan suaramu lebih merdu” ucapku pelan sembari mengengadah ke kanvas langit dengan perpaduan warna-warninya yang indah seperti kata Aina, adik kecil yang manis. Langkah semangat kuayunkan meninggalkan lapangan, tempat yang sangat indah di senja ini.

Rahmiati Fiksiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s