Lima Dua, Sampai Kapan Kau Berarti Bagiku

Posted: 18 January 2013 in Catatan Senja

Aku terkesima menatap burung-burung yang asyik berdendang pagi ini. Nada-nadanya tak hanya terkepak melalui sayap-sayapnya yang indah, namun sepertinya dahan-dahan tempat mereka bernyanyi pun terdengar pula akan lirik-lirik cinta yang menggema. Ada hasrat ingin ikut berdendang bersama mereka.

Aku masih terjaga pagi. Bersama lantunan kalam alquran yang bergema di sudut kamarku, kawanku membacanya penuh khusyu.

Tiba-tiba saja, aku tak tahan. Setelah sholat subuh berjamaah, jari-jariku merengkuh tubuhmu. Meski tubuhmu kecil, kau pun mampu menemaniku berbagi kisah, segi empat berwarna merah putih yang bisa ku geser-geser, jari-jarimu banyak yang patah entah karena lapuk, tubuhmu sudah sangat ringkih. Sekali kau terjatuh, kau langsung bertebaran menjadi serpihan yang berserakan.

Tapi aneh saja, dalam kondisi yang sakit itu, kau masih bisa menemani kegundahanku pagi ini. Dibalik tulang-tulang yang ringkihmu itu, aku bisa menulis. Aku mampu melukis pagi, aku mampu membaca, dan yang terpenting melalui jari-jarimu yang tak lengkap itu aku bisa menatap dunia!

Sebenarnya aku sedikit heran, kasihan dan amat mengagumimu. Tapi begitu, aku tak bisa mengatakan kalau tak berguna dimataku. Kalau aku mengingat-ingat kisah itu, ah, aku tak tahan meledakkan tawa. Sebenarnya, kau merupakan salah satu bagian hidup yang sampai sekarang masih mendatangkan manfaat.

Tak ada salahnya kali ini aku hendak bercerita tentang sejarahmu.

Dulu, aku diperkenalkanmu oleh salah seorang teman satu kelas sekolahku dulu, waktu itu aku masih kelas XI SMA semester dua. Apakah kau masih ingat siapa orang yang menawarkan tubuhmu ke kelas? Ah, barangkali kau lupa. Ia adalah seorang rentenir yang baik hati. Ia seorang putra pak haji Simbang Wetan yang kaya raya. Habib namanya.
Heran saja, kukira kau miliknya, ternyata kau yang ia bawa itu milik orang lain yang tak kutahu siapa namanya. Dan yang kudengar, tuan mu adalah seorang anak kecil kelas V SD.

Aku masih ingat waktu itu kau masih segar dan badanmu kokoh. Tubuhmu ramping dan nyaris tak ada bercak-bercak yang menempel di bahumu, jari-jarimu lengkap dan mulus. Ah, aku sedikit terpikat oleh tubuhmu yang ayu. Aku menjajali meraba-raba jari-jarimu. Lalu, aku tak berhenti melihat-lihat seluruh tubuhmu itu. Nyaris sempurna.
Tapi satu hal, ah, ternyata kau tak mampu menangkap sinyal dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s