Ayah, Bunda… Betapa kau sangat… Senja..

Posted: 20 January 2013 in Catatan Senja

Aku katakan dengan indah, Ini Ajib! Benar-benar ajib.

Bagaimana tidak? Kecemasan itu berujung pada kebahagiaan. Kegalauan itu berujung pada haru yang membiru. Kekhawatiran yang sudah seharusnya kubuang, kini berubah jadi keajaiban yang tak kuasa diprediksi siapapun, kecuali Tuhan!

Aku mafhum pada senja, ini semua sudah ada yang mengatur, Gusti Allah kang Maha Luhur. Tak ada lain.

***
Pagi tadi, aku khawatir akan kedatangan ayah dan ibu yang tengah di perjalanan menjengukku ke Pesantren. Aku salah memendam rasa khawatir ini, harusnya aku senang menyambut mereka datang dengan senyum yang mekar, seperti bunga-bunga yang berjajar harum di beranda ndalem Abah.
Aku khawatir kalau kali kedua mereka datang ini, tak juga bertemu Abah. Bertemu untuk silaturahm, berjumpa untuk sowan, menitipkanku secara resmi untuk tinggal dan menuntut ilmu disini, Pon Pes Al amien.

Segenap penjuru nadiku berdenyut-denyut, sebagian dadaku sesak kalau membayangkan Ayah dan Ibu datang, lalu nihil tak berjumpa lagi dengan Abah. Ah, beliau, Abah itu, sibuknya bukan main. Meski di usianya yang senja, pak kyai sekaligus pak dosen ini memang orang penting yang benar gemar sibuk. Aku mafhum, di musim maulid seperti ini memang suasana tidak kondusif. Beliau mungkin sedang laris ditanggap pengajian sana-sini. Belakangan, Abah sering tak mucal karena sering tindakan. Tindakannya bahkan sampe berhari-hari. Tak jarang pula, imam di masjid kalau tidak diisi Mas Eko ya Gus Kholil, atau mas Khoiri sesekali. Begitulah kesan kalau abah lagi tindakan.
Ah, namanya santri beda-beda tanggapan dan ekspresi kala mendengar Abah lagi tindakan. Sebagian ada yang jingkrak-jingkrak senang, sebagian ada yang biasa dan datar-datar saja, lalu kecil orang, banyak yang senang.
Hm, begitulah santri.

***
Aku masih terjaga dalam cemas. Sebenarnya mataku sudah sangat berat. Tapi meninggat sebentar lagi handphoneku pasti kembali berdering. Bakal ada telfon dari Ayah yang di Terminal minta dijemput.
Tapi, duh… Mobil Abah belum juga nongol.
Kecemasan semakin menjadi-jadi!

***
aku terbangun saat bunyi Lagu “RED” milik Taylor swift memecahkan sunyi kamar. Aku melonjak. Ah, Ketiduran juga aku rupanya. Satu setengah jam, lumayan.

“Nak, Ayah dan ibu sudah sampai di terminal”

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s