Ya Allah, Pertemukanlah Kami!

Posted: 20 January 2013 in Catatan Senja

Saat gelap malam membelah, saat aku terjerat dalam bait-bait malam yang nyiurnya mulai merombak, aku melonjak.
Mataku membelah, tumpah di atas layar handphoneku.
Kulihat sebuah sms datang dari Ayah,
“Anakku, besok ayah bersama Ibu akan berangkat sowan ke pondokmu. Sowan ke Abah Kyaimu.”

Aku sejenak terjingkat membaca pesan singkat itu. Sms yang memang sudah kutunggu-tunggu masuk di Kotak masuk hpku, menjadi senarai harapan yang akan membuncah. Bertemu ayah ibu!
Subhanalloh

Namun satu hal, batinku yang meletup-letup itu dirasuki rasa cemas yang cukup hebat.
Bagaimana mungkin tujuan Ayah ibu kesini untuk bertemu Abah Kyai, sedang Abah Kyai tengah “tindakan”?
Duh, bimbang mengawang-awang ke seluruh penjuru otak. sesak.

Aku masih dalam kekhawatiran yang meluruh, dalam bimbang itu aku balas sms Ayah dengan ragu yang membuncah.

“Ayah, abah sedang tindakan ke Jogja. Ada pengajian. Jadi tidak di ndalem”

Aku tak sampai hati mengirim sms itu ke ayah. Rasanya ‘pakiwo’ saja. Aku tahu kerinduan ayah dan ibu padaku, anaknya yang menuntut ilmu yang jauh dari kampung kelahiran. Berbagai persiapan pun pasti sudah jauh-jauh hari dimatangkan.
Aku juga mafhum benar, ibuku tipikal perempuan yang suka repot-repot. Sudah ada di awang-awang, pasti beliau membawa banyak sesuatu untukku dan untuk kawan-kawan satu pesantrenku ini. Duh, cemas itu kian meledak!

Sebenarnya, Aku sudah berkali-kali memohon ayah untuk datang kesini. Tak ada tujuan lain, Sowan /pasrah kepada Abah kyai. Karena sejak hari pertama datang ke pondok dan saat pertama kali ayah menitipkanku di sebuah pondok besar ini, kami belum bernasib baik. Belum sempat ditakdirkan Allah untuk bertemu langsung dengan beliau untuk sowan.
Aku masih ingat, dulu aku dititipkan sama pengurus yang sampai sekarang begitu akrab sekali dengan kami para santri Baru, kang Latif . Satu hal mungkin orang yang pertama kali berbincang dengan ayahku ya kang Latif itu.

Lalu, apakah nanti hari ini juga akan ditunda lagi perjumpaanKu, ayahku, dan ibuku dengan Abah Kyai? Mengingat beliau masih tindakan sejak sehari yang lalu dan belum juga ‘kondur’?

Lagi, cemasku membuncah.
Sementara bus jurusan Pekalongan-Purwokerto masih mengerjap-ngerjap di atas deru metropolia pegunungan.

Selamat datang kembali, ayah, ibu.
Semoga kali ini kita tak salah moment.

Untuk Abah, segeralah pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s