Amin

Posted: 9 February 2013 in Cerpen
Tags: ,

Cerpen F Rahardi (Kompas, 20 Januari 2013)

Amin ilustrasi Felix S Wanto

LAKI-LAKI itu berusia setengah baya, berperawakan biasa, berkulit biasa, berwajah biasa, berambut biasa, berbaju dan bercelana biasa, mengenakan sepatu yang juga biasa-biasa saja.

Barangkali di kantong baju dan celananya juga tersimpan benda-benda biasa seperti dompet, sisir, ballpen, dan dalam dompet itu ia taruh uang, kartu identitas, dan lain-lain.

Laki-laki itu duduk bersila dengan takzim. Dua tangannya ia sedekapkan ke dada, dan pandang matanya mengarah lurus ke depan. Dia diam saja, hanya kalau ada orang lewat di depannya ia akan berkata: “Amin”. Orang-orang menengoknya sebentar lalu berlalu. Satu dua orang segera menjatuhkan uang logam lima ratusan, lembaran ribuan, dua ribuan, lima ribuan, bahkan ada beberapa yang menaruh lembaran uang dua puluh ribuan, lima puluh ribuan, dan seratus ribuan. Ketika orang-orang itu menjatuhkan, melemparkan atau menaruh uang di depannya, laki-laki itu berucap dengan suara dan nada biasa: “Amin”.

Tidak lama kemudian, uang itu menumpuk cukup banyak di depannya. Tetapi laki-laki itu tetap hanya menatap jauh ke depan, dan ketika orang-orang lewat, dengan atau tanpa menjatuhkan uang, ia berucap “Amin”. Satu dua orang lalu menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, di dekat tempat laki-laki itu duduk bersila. Beberapa orang kemudian juga ikut berdiri di sekitarnya, sambil terus memandangi laki-laki yang hanya duduk dengan biasa itu. Orang-orang berkerumun, memandang curiga, ada yang bertanya-tanya dalam hati, ada yang menduga-duga. Bagi mereka, laki-laki itu sungguh tidak biasa.

“Mengapa ia duduk bersila di trotoar Jalan Merdeka Utara, pas di depan Istana Merdeka?” tanya seseorang dalam hati. “Mengapa tatapan matanya ia arahkan lurus ke depan, tertuju ke pintu Istana Merdeka?” tanya yang lain juga dalam hati. “Siapakah dia?” tanya yang lain lagi, juga dalam hati. Lama-lama ada yang memberanikan diri bertanya entah kepada siapa, dan pertanyaan itu ia ucapkan pelan tetapi jelas: “Ada apa sih ini?” Serentak beberapa orang mengarahkan pandangan mereka ke orang yang bertanya tadi, dan satu dua orang segera menimpali: “Dia ini minta-minta, atau demo, atau semedi, atau apa ya?” Ketika pertanyaan-pertanyaan itu selesai diucapkan dengan tak beraturan, laki-laki yang duduk bersila itu menjawab: “Amin.”

***

Di gerbang Istana Merdeka itu ada beberapa Paspampres. Di ujung barat laut Jalan Silang Monas itu juga selalu ada polisi berjaga-jaga. Mereka segera mengarahkan pandang mata mereka ke arah kerumunan orang di trotoar Jalan Merdeka Utara itu. Ketika kerumunan orang itu tambah banyak, dua orang polisi segera mendekat, memberi isyarat agar kerumunan orang itu menyibak, lalu tampaklah gundukan uang, dan laki-laki yang duduk bersila, memandang Istana Merdeka. Dua polisi itu juga heran. Bagi mereka, laki-laki ini tidak biasa. Maka mereka berdua lalu mendekat dan bertanya: “Ada apa ini?” Belum sempat kerumunan orang menjawab, laki-laki yang duduk bersila itu berucap: “Amin”.

Dua polisi itu lalu menyuruh kerumunan orang bubar. Setelah kerumunan orang itu bubar, salah satu dari dua orang polisi itu menyuruh laki-laki yang duduk bersila untuk segera pergi. Laki-laki bersila itu menjawab: “Amin”. Polisi itu kesal: “Saudara mau main-main dengan aparat ya?” Laki-laki itu tetap duduk bersila, tangannya tetap sedekap, matanya tetap mengarah ke Istana Merdeka, dan mulutnya kembali berucap: “Amin”. Salah satu polisi mendekat lalu menendang laki-laki yang duduk bersila itu dengan sepatu larasnya. Laki-laki itu menerima tendangan sepatu dan menjawab: “Amin”. Polisi kembali menendang lebih keras lagi dan kembali laki-laki itu menerima tendangan dengan jawaban: “Amin”. Berulang kali polisi itu melayangkan tendangan dan selalu dijawab dengan “Amin”.

Polisi yang sebelumnya berada di dekat truk yang diparkir di pojokan Silang Monas itu, segera berdatangan, demi melihat teman mereka melayangkan tendangan berulang kali kepada laki-laki yang duduk bersila. Ketika kerumunan polisi itu datang, maka laki-laki yang duduk bersila itu menyambut dengan ucapan: “Amin”. Salah satu polisi yang membawa bedil segera mengarahkan popor bedil ke kepala laki-laki yang duduk bersila itu, lalu mengayunkannya: Prak! Laki-laki itu menyambut pukulan popor bedil dengan ucapan: “Amin”. Beberapa polisi lalu ikut mengeprukkan popor bedil mereka ke kepala, leher, pundak, perut, dada, bokong, pinggang, dan kaki, dan semua selalu dijawab dengan: “Amin”. Kejengkelan para polisi itu naik sampai ke ubun-ubun.

Mereka menyepak tumpukan uang itu hingga berhamburan ke jalan raya. Mobil-mobil serentak melambatkan jalannya hingga Jalan Merdeka Utara macet. Para polisi lalu bergotong-royong mengangkat tubuh laki-laki yang duduk bersila itu. Ada yang memegangi kepalanya, ada yang menjambak rambutnya, ada yang menarik bajunya, ada yang mencengkeram pundaknya, dan semua dijawab laki-laki itu dengan ucapan: “Amin”. Polisi-polisi itu kecapekan dan laki-laki itu tetap duduk bersila, tetap mendekapkan tangannya di dada, dan pandang matanya masih terarah ke Istana Merdeka. Sesekali ia ucapkan: “Amin”. Dan ucapan itu membuat hati para polisi yang kecapekan jadi galau.

***

“Amin”. Kata laki-laki itu ketika dari arah seberang serombongan Paspampres datang. Kata undang-undang, kalau polisi tak mampu mengatasi keadaan, maka tentara akan membantu. Gas air mata segera disemprotkan: Bres! Kanon air juga ditembakkan: Byur! Salah satu Paspampres segera mengokang bedil dan menembakkannya ke arah laki-laki yang duduk bersila itu: “Amin”. “Ini tadi kau tembakkan peluru tajam atau peluru karet?” tanya polisi kepada tentara. Dijawab tegas: “Amin”. Dari arah barat lalu datang forklift, dengan dua paruhnya yang runcing mencecar ke depan. Forklift itu mengarah ke trotoar tempat duduk laki-laki setengah baya itu. Setelah maju mundur dan goyang kiri kanan, meratakan paruhnya sejajar trotoar, forklift itu maju dengan lurus mencocok pantat dan paha laki-laki yang duduk bersila itu.

Setelah posisi paruh itu pas, forklift segera menderu-deru mengangkat tubuh berukuran biasa itu dengan sekuat tenaga. Laki-laki itu tetap duduk di sana dengan takzim, tetap bersila dengan khidmat, tetap menyilangkan tangannya di dada, dan pandang matanya lurus ke arah Istana Merdeka. Ia menyalami forklift yang tak berdaya mengangkatnya itu dengan ucapan: “Amin”. Maka, tak berapa lama kemudian bertebaranlah melalui BB, melalui FB, melalui kicauan di Twitter, melalui SMS, ihwal ada seorang laki-laki biasa, yang diberondong peluru tajam, disemprot gas air mata, disiram kanon air, diangkat dengan forklift, dan semua itu selalu dijawab: “Amin”. Di antara mereka yang disambar berita berseliweran itu, ada yang kemudian menyempatkan diri datang ke depan Istana Merdeka. Maka kerumunan massa pun tak bisa dicegah.

Massa itu datang dari Sentiong, Salemba, Kramat, Kwitang, Tanah Abang, ada yang berkaus merah, ada yang berbaju kuning, ada yang berkolor hijau, mereka mengacung-acungkan tangan sambil berteriak-teriak: “Amin, Amin, Amin…!” Bersamaan dengan itu, aparat keamanan juga disiagakan. Mereka datang dari mana-mana dengan naik truk, jip, mobil kanon air, dikawal panser, dan ambulans. Sirene meraung di mana-mana, dan semua itu dijawab oleh lautan massa dengan teriakan “Amin, Amin, Amin……!” Polisi berupaya untuk melingkari laki-laki yang duduk bersila itu dengan pita kuning dan dilapis dengan untaian kawat berduri. Dari kejauhan, laki-laki yang duduk dengan takzim itu lalu tampak seperti pengantin, yang dihias pita dan bunga-bunga, yang diterimanya dengan ucapan: “Amin”.

Cuaca di sekitar Monumen Nasional dan Istana Merdeka sebenarnya juga tetap biasa-biasa saja. Kadang sedikit mendung, tetapi ketika angin datang, matahari kembali tampak dan udara jadi panas. Laki-laki itu tetap masih duduk di tempat semula dan basah kuyup oleh semprotan kanon air, yang menyejukkan badan dan jiwa, dalam cuaca siang kota Jakarta yang gerah. Ia tetap duduk bersila dengan dua kaki disilangkan, dengan dua tangan disedekapkan, dengan pandangan mata tertuju ke Istana Merdeka. Rombongan berkaus warna-warni itu mendekat, salah seorang di antara mereka naik ke pundak dua orang temannya, lalu dengan megaphone di tangan ia berorasi: “Saudara-saudara semua, di depan kita ada ‘satrio piningit’. Lihatlah, ia sakti, matanya terarah lurus ke pintu Istana Merdeka, ialah Ratu Adil yang akan memimpin negeri ini.” Laki-laki itu menjawab: “Amin”.

***

Dari langit yang biru cerah, terdengar raungan suara helikopter. Setelah berputar-putar selama empat kali, heli itu merendah, lalu mendarat di halaman Istana Merdeka. Turunlah kemudian beberapa laki-laki yang berperawakan biasa, berwajah biasa, berkulit biasa, rambutnya tak ketahuan biasa atau tak biasa, sebab tertutup topi. Pakaian dan sepatunya juga biasa, tetapi di pundak dan di dada mereka tertempel tanda-tanda pangkat. Salah satu di antara mereka membawa tongkat komando, mendekati laki-laki yang duduk bersila itu, lalu bertanya: “Anda ini siapa dan maunya apa?” Dijawab: “Amin”. “O, jadi nama saudara Amin?” Dijawab: “Amin”. “Saudara Amin, Saudara telah melanggar Perda Nomor 8 tentang Ketertiban Umum dan juga Pasal 6 UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Apakah Saudara bisa mendengar saya?” Dijawab: “Amin”.

Laki-laki bertongkat komando itu kesal hatinya. Dia mencabut pistolnya, ia kokang, ia arahkan laras pistol itu ke pelipis laki-laki di depannya, lalu pelatuk ia tarik: Dor! Laki-laki yang duduk bersila itu menyambut tembakan pistol dengan ucapan: “Amin”. Ucapan “Amin” itu ternyata telah membuat kalap laki-laki bertongkat komando dan berpistol yang berdiri di depannya. Dia segera memberi aba-aba agar panser, tank, dan buldoser mendekat. Maka tank berjalan di depan seraya menembakkan senapan mesin. Batang pohon trembesi yang berdiri kokoh itu bolong-bolong. Tank terus melaju mendekati laki-laki yang duduk dengan takzim itu. Massa yang menyemut di sekitar Jalan Silang Monas merangsek maju: “Amin, Amin, Amin.” Laki-laki itu tetap duduk, bersedekap, dan memandangi Istana Merdeka dengan pilar-pilarnya yang kokoh bercat putih.

Tank maju naik ke trotoar, menabrak dan melindas laki-laki yang duduk bersila di trotoar itu, lalu disambut dengan ucapan: “Amin”. Buldoser menyerok laki-laki yang telah diberondong senapan mesin dan dilindas tank itu, dan juga dijawab: “Amin”. Massa terus maju diiringi teriakan: “Amin, Amin, Amin.” berulang kali terus-menerus susul-menyusul. Kawat duri, pita kuning garis polisi semua ditabrak dan dilindas massa. Mereka melingkari laki-laki yang tetap duduk dengan takzim itu, dan massa juga ikut duduk bersila menyedekapkan tangan, dan mata mereka memandang ke Istana Merdeka. Laki-laki itu menyambut kedatangan massa yang ikut-ikutan duduk di sekitarnya dengan ucapan: “Amin”. Dan massa melanjutkannya dengan gema yang menggemuruh: “Amin, Amin, Amin!”

Panser, tank, buldoser, semua capek dan pegal-pegal. Sekrup-sekrup dan baut terasa ngilu. Mereka lalu minggir dan berteduh di bawah tajuk angsana yang rimbun. “Kami ini sudah terlalu tua,” kata tank memelas. Disambut panser: “Gua juga agak gemetaran karena tadi belum sarapan.” Buldoser mendekam dekat pagar besi, dan laki-laki itu menjawab: “Amin”.

Berikutnya, laki-laki itu menarik napas agak panjang, berkedip-kedip, menengok ke kiri dan kanan, tangan ia rentangkan, lalu ia berdiri. Pelan-pelan ia berjingkat melangkahi massa yang duduk bersila itu, lalu berjalan di antara orang-orang, anak-anak muda, kaus merah, celana putih, seragam polisi, baju tentara, ia terus berjalan, sementara angin dari Laut Jawa melompati atap Istana Merdeka, menggoyang-goyang dahan angsana dan ranting trembesi. Laki-laki itu terus saja berjalan dan hilang ditelan kerumunan massa: “Amin”. (*)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s