PUISI AFRIZAL MALNA

Posted: 9 February 2013 in Puisi

Apartemen Identitas

one hyde park apartment mahal mewah megah internasional dunia nyaman indah

Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya.

Menatapnya. Menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang

lain. Biji-biji bahasa berjatuhan. Seseorang melihatku melalui

mata sebuah bangsa dari jendela apartemennya, di jalan Eugene

Sue, telah berlalu meninggalkan yang telah berlalu. Empat

kelompok angin besar, kelabu, bergerak. Membuat perempatan

angin di langit. Kelompok awan putih dibaliknya, menyimpan

perpustakaan Utara dan Selatan. Bergerak dari empat arah. Biji-

biji bahasa memecah identitas, kamus-kamus tercabik, setelah

Perancis dan Afrika. Malam datang bersama suara

ambulan. Kita belajar sendiri-sendiri ketika bersama. Udara dari

tubuhmu membuat biji-biji bahasa tumbuh di atas debu-debu

yang berkumpul di balkon apartemen. Asap tembakau

menjemput seorang penyair yang bermukin dalam tas kopernya.

Burung-burung, anak-anak musim yang setia, menjaganya

dengan cerita-cerita botanikal. Penggaris yang mengukur

kematian, dan pidato seorang pengangguran di kreta metro,

melintasi stasiun Stalingrad.

Apartemen itu berisi:

-Pemberontakan tali sepatu daerah kubusmu

-Slide cincin pernikahan di atas lidah

-Tarian tak selesai Henri Matisse

-Bung-bunga bunuh diri di Saint Muchel, Notre-Dame

-Seorang tua berkulit hitam bicara dengan dua tas besarnya di

Stasiun metro, Duroc

-Kematian post-modernisme dalam aliran keuangan

internasional.

Alarm apartemen merontokkan semua bunyi di dinding, minyak

goreng yang hangus di kompor elektrik. Asapnya mengumpal,

tak bisa kulihat, tak bisa kugenggam, tak bisa kutatap,

menjemput identitas dalam tas koper yang terus bergerak tanpa

rekening bank. Membuat perempatan angin untuk potret-potret

luka setiap bangsa.

Lupakan aku. Lupakan aku, setelah semua kultur membisu.

Mesin Jahit Bayangan

Hello Ulrike Draesner

Malam, sebelum agak malam. Buku-buku mengaborsi suami,

setelah suami mulai kehilangan lelaki. Radius yang tidak pernah

berubah antara daftar surat masuk dan surat keluar. Pisau bedah

di ujung bahasa, botol infus dari balik gerbang Berlin,

mengaborsi lampu-lampu malam. Ukuran kemeja yang tidak bisa

memperbesar bayangan lelaki di luar rumah. Apakah puisi,

tanyamu: di antara kursus-kursus bahasa, memindahkan kultur

kota dari mural East Side Gallery ke tembok yang lain, dan bau

mentega yang menciptakan lidah di antara pisau. Dekontruksi

memori dari rahim ke bekas reruntuhan pesawat. Lebih turun

lagi ke rasa berantakan. Kau rasakan, puisi mengambil jiwaku

untuk mendapatkan bayangan bahasa, ruangnya yang tak punya

luar dan tak punya dalam. Gravitasi cinta yang melampaui benua,

menyentuh seorang anak India dalam pelukanmu. Lebih naik

lagi, kata yang meruntuhkan setiap representasi. Agak malam

setelah malam. Kau rasakan dinding-dinding rumah masih

merasakan setiap memori yang melepaskan diri dari sejarah,

dengan membaca, melalui dan mengalami membaca, jembatan-

jembatan yang mengantar cerita. Apakah puisi, tanyaku: sebuah

potongan tiket kereta di stasiun Beusselstrasse, menciptakan

bayangan angin ke Rosenthaler Platz. Memindahkan puisi antar

benua dari perangkap kata, dari setiap terjemahan yang mencium

bau luka. Aku masukkan lenganku ke dalam bahasa, kau tanam

musim berwarna putih dalam senyummu. Aku masih bisa

mencium rempah-rempah yang melangkah di belakangku,

memunggungi waktu, merayuku antara dekorasi Jawa dan aku

yang diperbanyak dalam mesin foto copy. Malam, setelah

melalui malam. Apakah puisi. Kita potret bahasa. Banyangan

mengelupas. Mengaborsi cahaya dari setiap rahim yang ingin

melahirkannya. Apakah puisi: mesin jahit yang terus menjahit

bayangan antara tubuh dan setelah tubuh. Membuat kobaran

sunyi dalam pakaian yang telah ditinggalkan. Malam, setelah

malam tak lagi di sini.

Jembatan Iblis dari Keningku

Buat BOT, Marianne dan Elia

Sebuah gereja dalam salju. Kursinya membekukan kekosongan.

Pintunya menutup musim dingin. Salin masih terus membekukkan

sunyi. Di Gotthard, melewati Zurich ke Andemartt, sebuah hotel

dalam salju. Albergo San Gottardo. Pintunya menutup musim

dingin dari 5 menit musim panas. Lima jam mendaki,

menyesatkan diri dalam lubang-lubang udara. Kota telah berlalu

dalam kenangan memasak dan mesin printer. Lembah-lembah

Urseren dan Laventina. Setiap belokan, melingkar. Arsitektur

kesunyian, melingkar. Konstruksi kesedihan, melingkar.

Mengubah warna kenangan dan gua-gua bekas peninggalan

militer. Melingkar di bawah tebing-tebing batu di atas tebing-

tebing batu yang kembali ke bawah dan ke atas. Ke luar dan ke

dalam.

Cahaya dari bukit-bukit batu, mengelupas melewati erangan

Salju di musim panas, benturan antara yang berlalu dan

berkelanjutan. Ruang di sini terus menciptakan dirinya berulang-

ulang, untuk menyesatkan waktu dalam perjanjian antara iblis

dan pendeta suci Gottardo, antara monumen kesunyian dan

tebing-tebing sejarah. 800 tahun lalu melewati tebing-tebing

Schollenen dan Reuss, di atas jembatan Teufelsbrucke, iblis yang

tertipu seekor kambing. Di bawahnya, air dari lelehan salju

masih terus mengalirkan potret-potret perang Napoleon. Tubuh

melawan tubuh, membuktikan waktu. Jiwa melawan jiwa,

membuktikan yang berulang. Udara menjadi begitu curam, 9

derajat di bawah kultur yang ketakutan.

6 jam berjalan kaki, turun dari kecuraman waktu, sampai di

Airolo. Makan malam di Lauzers, di tepi sungai. Di tepi

Bayanganku yang curam.

Aku Setelah Aku

:eyelight

Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai

reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang-

gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang

mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas

kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para

petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu

bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh.

Berenang, dalam yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati

di mataku.

Ketukan-ketukan kecil, putaran di kening, lembah-lembah yang

belum pernah kulihat. Aku berdiri melihat garis bibirmu dari

matamu, garis yang dilalui sebuah truk. Seorang perempuan

menyetirnya dengan lengan kirinya yang patah. Ia gulingkan

cermin-cermin busuk ke dalam keca: aku pada batas-batas

berakhirnya aku. Perempuan yang kecantikannya melumpuhkan

batas-batas militer. Parit-parit bekas peperangan, membuat mata

rantai baru ke telaga. Bebaskanlah aku, bebaskanlah aku dari

kultur yang menawan kebinatanganku.

Ia bergerak, kejutan-kejutan pendek dari setiap bayangan puisi.

Garis pantai lurus dari matanya, semakin lurus dalam horison

keheningan: batas setelah manusia menyerahkan dirinya kembali

sebagai binatang. Perempuan yang kecantikkannya menyihirku

sebagai lelaki setelah lelaki, sebagai aku setelah aku. Kecantikan

yang mengisi kembali botol-botol kosong dalam puisi, setelah

kekejaman di luar tutup botol.

Aku ambil kembali manyatku dari lidahnya. Perempuan yang

kecantikannya terus menerus merajut pecahan-pecahan kaca. Aku tak

percaya, tubuh penuh jahitan setelah aku di depanku.

Perempuan yang kecantikannya membangun sebuah hutan di

mataku, siang-malam, mengisinya dengan binatang-binatang

kecil, pagar jiwa dalam cincin yang mengusir kehancuran makna.

Gua bagi pemuja tubuh dan burung-burung dalam kicauannya.

Di dalam sarangnya, aku dan waktu menjadi purba.

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Selain

Menulis puisi dan prosa, ia banyak bekerja untuk teater,

tari, dan seni rupa. Buku puisinya antara lain

Pada Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010)

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 FEBRUARI 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s