Being One Part of SEFers is …

Posted: 22 February 2013 in Catatan Senja

Kalau ini memang sudah menjadi komitmen dari awal, mau bagaimana lagi? Memang tak semudah membalikkan tangan kala aku hendak sejenak berputar balik pada arus yang lalu, arus dimana yang selalu menjepitku pada situasi-situasi yang membingungkan langkahku untuk melaju.
Entahlah
Sudahlah
aku sendiri masih menanti sampai kapan aku bertahan.

***

Menurut pribadiku sendiri, karena aku tahu ini adalah hidupku sendiri, tiba-tiba saja aku berpandangan bahwa sepertinya SEF, UKM berbasis Bahasa Inggris di Universitas yang kabarnya tengah korup itu, bakal menjadi suatu hal yang membawaku pada proses belajar. Dan, aneh saja, aku sendiri tak akan heran jika disinilah nantinya kisah-kisah kasih, lucu, mengagumkan, unik atau pun . . Cinta, bakal tergubah.
Aku sendiri percaya itu.

Dalam hati aku sempat bergumam, memang menjadi seorang SEFers (julukan bagi seorang organizers) itu berarti memilih untuk berada di zona tak nyaman. Kok gitu? Ya, memang. Karena, menjadi seorang SEFers berarti siap sibuk, siap capek, siap pusing, siap korban fisik atau barangkali yang berwujud materi, demi menghidupi sebuah logo biru bergambar segitiga di tengah lingkarang itu.
Mungkin bagi mereka oke oke saja, karena kondisi mereka jauh berbeda denganku. Mereka bisa bebas keluar atau berbuat apa pun karena tinggal di Kos. Nggak usah ada acara izin-izin segala untuk pulang malem, nggak usah khawatir pulang malem karena pintu kos mereka mungkin selalu terbuka, Lah lantas bagaimana dengan situasi diriku yang tinggal di pesantren? Keluar harus izin, harus mengaji setiap sore, tidak boleh keluar malem hingga batas jam 11, harus bangun pukul 4

ini lah yang menuntut aku untuk disiplin mengatur waktu. Belum lagi, tugas kuliah, ngaji di pondok, tugas jadi pengurus pondok juga, dan. . . Ini. Everything!

Oke. Ini semua risiko. Ini semua memang tergantung diriku yang mengatur segalanya.
Aku mengerti sikap beberapa teman-teman satu kamarku melihatku sering keluar pondok, pulang malem, ato berkali-kali izin nggak ngaji karena urusan organisasi. Memang agak rikuh juga izin izin terus. Dan pastilah reaksi itu bermacam-macam. Sebagian cuek bebek, sebagian pengertian, atau sebagian memang merasa gimana gitu. Ah, itu sudah biasa. Toh mungkin itu artinya apa peduli atau benci terserah. Intinya memang di saat-saat yang tepat, aku mencoba sekuat hati untuk membagi-bagi waktuku.
Kapan di pondok
Kapan di kampus
Kapan mengurus SEF
atau kapan mengurus diriku sendiri. Harus rapih! Harus. Itu.

Lalu, tiba-tiba saja aku teringat mbak Ira, salah seorang santri Al Amien yang juga tiba-tiba nimbrung di SEF. Dia asli pekalongan juga. Dan, yang mempertemukan kami berdua karena berasal di pondok yg sama, juga kota yang sama, adalah. SEF!
Allah memberiku kesempatan untuk kenal dengan santri mahasiswa Biologi ini melalui SEF pula.
Satu hal, mengapa dia begitu enjoy dengan masuk di SEF? Bukankah dia santri Al Amien juga? Santri putri pula, yg dilarang keluar malem? Mahasiswa biologi yang praktikum setiap hari? Sedangkan aku sastra indonesia, memangnya ada praktikum segala? Tidak kan.
Dia saja bisa. Mengapa aku tidak?

Oke well. Sudah kubilang. Aku terlanjur tercebur di SEF. Aku sudah terlanjur basah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s