Bocah Selugu Aku, Berkelahi Dengan Waktu

Posted: 25 February 2013 in Puisi

Aku masih lugu.
Bahkan pun sampai sekarang, aku masih merasa lugu dan tercupu.
Karena, Well. sampai sekarang tiang-tiang ringkih yang menjulang di kelopak otak ini
belum jua mampu mengepak,
belum jua dapat melihat
jarum-jarum hidup yang terkunci di balik bundaran biru

atau karena aku memang terlalu lugu untuk mengerti dan dimengerti
perihal sekarung igau yang mengganjal khayalku,
menjadi bantal tidurku,
atau menjadi mimpi burukku

Tuhan, selamanya hamba mengerti
akan dua belas yang terus meroda
berkayuh tanpa henti, tanpa bisik-bisik yang terus berlarian
memberontak ubun-ubunku

memang ini Kuasa Engkau Tuhanku, Tuhan yang mengirimkan angin sebagai kawan malamku
sebagai penasihat senjaku
sebagai debur igau yang menggebu rinduku
sebagai ayah dan ibu,
yang terus membelai ini itu

Apa pun
karena aku iri
atau mungkin sakit hati
memantulkan sosok perempuan yang amat begitu aku kagumi
tiba-tiba menutup kelopak senja,
terbang,
melayang menuju kejora
yang amat begitu aku benci

Seperti dua daun yang kemarin runtuh
di kursi nenekku,
langkahnya begitu rinai dan temaram
terseok pula pada persimpangan jalan itu

Melihat diri yang terus berkelahi
pada dua belas
pada celah lingkaran
pada kertas tembok yang tiba-tiba gugur
pada hati yang masih mengukir mimpi

tapi aku masih berbahasa
dan
bersandung
pada tangan
yang masih mengepal
pada tangan yang masih mampu
memeluk waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s