Suddenly, You Said It

Posted: 25 February 2013 in Puisi

Ini sulit kupercaya!
Dan sampai kapan pun aku akan terus meluapkan decak heran yang luar binasa, padamu!
karena ini terjadi secara tiba-tiba.

Karena ini adalah elegi senja yang sangat begitu berat untuk kusapa.

Lalu izinkan aku sejenak mengingat-ingat itu dalam Igau.
Dalam pertemuan yang sedahulu, yang menyeruakkan canda tawa, seolah kita adalah keluarga.
Pada waktu dimana kita mengayuh sepeda bersama, dengan diam-diam.

Meski tak berdampingan. Setelah kamu dan aku pulang pada sebuah derik-derik obrolan sepatu rombengan.
Pada momentum dimana aku dan kamu dengan gugup mengumpulkan berkas-berkas surat di saat deadline berbenturan.
Pada masa dimana aku dan kamu bertemu,
di sebuah gubug kecil, rumah sejuta senyuman atau rumah sejuta kebingungan
Lalu tiba-tiba aku berasa seperti disetrum listrik
ketika bibirmu berucap itu
Ketika kacamata itu menjadi saksi akan “satu” tempat
atau “satu” kota yang lalu mengisikan kita pada “satu” penjara suci.
Aku merindu mendengar ucap di bibirmu kala itu
serius, aku benar rindu.
Karena aku rasa indah untuk kedengar kembali.

Tahukan dulu.
Kamu juga satu-satu nya perempuan yang sempat membuat semangatku berkibar-kibar. Melihat kau begitu lincah menaklukan angin
Menyaksikan betapa hebat kamu berkelahi dengan waktu.
Itu membuatku tak henti berdecak kagum!

Tapi ya sudahlah. Aku tiba-tiba hanya bisa bungkam.
lalu mengulang pertanyaan itu kembali.
Seolah tak percaya.
Karena memang sejak awal aku tak percaya.
Ketika kamu tiba-tiba memutuskan untuk
berhenti melawan arus waktu yang sudah separuh jalan kita lalui
Ketika kamu dengan raut yang datar tiba-tiba mengaku,
hendak berlari bebas!
Hendak memutus ranting daun hijau!

Dan sekarang, aku adalah seorang diri, yang terapung, dan yang masih terpasung, dalam gubug itu.
Lalu kamu dengan raut masih juga datar. Atau, sedikit meluruhkan senyum padaku,
berkata.
“Aku telah bebas. Bagaimana dengan kamu?”

Aku masih bungkam.
Terdiam menunggu angin bicara.
“Sudahlah, tak usah menanti angin bicara. Pesanku, jangan kamu lepas pasung itu. Tunggu waktu yang manis datang menghampirimu. Jangan seperti aku!”

ucapmu padaku.
Lalu angin setuju itu berlabu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s