Panggung Sisyphus

Posted: 11 March 2013 in Cerpen

Panggung Sisyphus

Cerpen Apendi (Kompas, 27 Januari 2013)

Panggung Sisyphus ilustrasi I Wayan Wirawan

HIDUP ini absurd. Tak layak dijalani. Dan karena itulah ia tidak terkejut lantaran menyadari bahwa ia tidak merasa sedih andaikata malam ini juga ia ditinggal pergi oleh neneknya yang sedang terbaring koma karena kelelahan.

Namun meski demikian bukan berarti ia tidak dilanda perasaan bersalah dan penyesalan. Laki-laki itu sebenarnya sudah tahu dari dulu, sewaktu neneknya masih sehat, bahwa ia akan sama seperti orang lain pada umumnya—menangis dan menyesal ketika ditinggal pergi orang yang dicintai, dan bukannya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya ketika mereka masih hidup.

Seharusnya ia yang cuci piring. Seharusnya ia yang pergi belanja ke pasar, dan memasak, dan menyapu, dan mengepel dan… dan… segala tetek-bengek lainnya yang ia anggap sebagai pekerjaan “tak penting” karena menghabiskan banyak waktunya yang seharusnya bisa digunakan untuk menulis.

Lima tahun ia telah berjuang di jalan pena ini, dan selama lima tahun itu hidupnya bagai raja dalam dongeng. Ia tak perlu mengkhawatirkan perutnya karena makanan akan selalu siap saji di atas meja. Neneknya yang memasak untuknya, mengurus rumah, dan bahkan mencuci pakaian kotornya.

Seharusnya ia yang mencuci baju.

Seperti kebanyakan penulis lainnya, laki-laki itu pada mulanya menganggap bahwa ia hanya perlu bekerja keras selama satu-dua tahun, dan setelah novel pertamanya terbit dan meledak di pasaran, maka ia akan punya cukup banyak uang dan waktu untuk menemani dan membahagiakan neneknya. Ia tak perlu menjadi seperti orang lain yang menghabiskan delapan sampai sepuluh jam waktu mereka hanya untuk mencari uang dan mengabaikan kebersamaan dengan orang terdekat.

Malam ini, ketika sedang menjaga neneknya, laki-laki itu sadar bahwa tidak diperlukan sepeser pun, pada waktu itu, untuk membantu neneknya mencuci piring atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Namun setelah menyadari kenyataan itu pun, ia tetap merasa risau. Andaikata neneknya siuman dan kembali pulih, lalu apa yang akan terjadi? Siklus akan kembali bergulir. Sisyphus akan menggelindingkan batu kembali. Lelaki itu akan menghabiskan banyak waktunya untuk menulis dan membaca dan membiarkan neneknya mengurus rumah tangga.

Jika ia mempunyai kesadaran, ia akan pergi bekerja. Tapi hati kecilnya tahu kalau uang banyak juga tidak akan menyelesaikan masalah. Uang tidak bisa membantu neneknya untuk mencuci piring, mengepel atau menyapu lantai. Mungkin uang bisa menggaji seorang pembantu untuk melakukan semua itu, tapi melakukan hal itu sendiri dan menggaji seseorang untuk melakukan itu, akan berbeda sama sekali. Apalagi jika tujuannya adalah untuk mewujudkan rasa bakti.

Lalu, jika ia memilih untuk tinggal di rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga (dan mengorbankan waktu menulisnya), ia akan merasa seperti parasit lajang, dan laki-laki itu tahu kalau neneknya juga cemas memikirkan masa depan cucunya setelah ia pergi nanti.

Laki-laki itu tahu kalau neneknya berharap ia pergi keluar mencari kerja seperti pemuda-pemuda lainnya, tapi persoalannya ialah ia tidak ingin menjadi seperti orang lain pada umumnya. Ia ingin menghasilkan uang dalam pekerjaan yang benar-benar dicintainya.

***

Seolah masalahnya belum cukup, masalah yang lain pun bermunculan. Mahasiswi kedokteran itu datang lagi pada malam jaganya yang ketiga. Seperti biasa, mahasiswi itu mengatur cairan infus, dan menanyakan seberapa banyak neneknya minum air.

Sikap ramahnya tidak dibuat-dibuat dan ia menjalankan tugasnya dengan baik. Pada malam jaganya yang pertama ketika ia bertemu dengan mahasiswi itu, laki-laki itu merasa hidup benar-benar sebuah lelucon. Neneknya menderita penyakit serius sementara mereka (mahasiswa dan mahasiswi magang) menganggapnya hanyalah sebuah persoalan. Sebuah ujian yang harus diselesaikan tak peduli apakah si pasien pada akhirnya dalam kondisi hidup atau mati. Dan ia sendiri, si lelaki, merasa tidak berdaya akan panggung kehidupan yang ditawarkan padanya. Ia tidak mempunyai pengetahuan medis untuk membuktikan apakah seorang dokter atau asisten magang menjalankan tugasnya dengan baik, atau mungkin malpraktik.

Andaikata dahulu ia memilih untuk menjadi seorang dokter daripada seorang penulis, mungkin saat ini ia dapat berdiri bersebelahan dengan mahasiswi yang ingin dikenalnya itu dan menyamakan derajat sosialnya. Tapi nyatanya, di sinilah ia sekarang. Hubungannya dengan gadis itu hanyalah sebatas pemain dan penonton.

Gadis itu akan menyelesaikan kuliahnya, magang, dan menjadi dokter sementara ia sendiri tidak pasti dengan karirnya sebagai penulis. Gadis itu akan dapat hidup mandiri, menolong orang, dan mempunyai masa depan yang cerah sementara ia akan mengemis sepanjang hidupnya demi menyelesaikan novel-novelnya yang ia pikir akan bestseller. Ia juga akan lebih banyak membuat pembacanya bunuh diri ketimbang mendapat manfaat dan “pesan moral” dari buku-bukunya.

Namun tentu saja ada kemungkinan di masa depan sang gadis terlalu jenuh melihat kematian dan sudah terlalu lelah dan bosan untuk menolong pasien sehingga menjadikannya lebih materialistis. Dan karena itulah si lelaki ingin mengenal sang gadis saat ia masih memiliki jiwa idealisnya. Ia pun ingin tahu apakah sang gadis masih ingat dirinya andaikata mereka bertemu dua puluh tahun lagi sebagai pasien dan dokter.

Laki-laki itu telah melatih percakapan imajiner itu di malam kedua. Sang gadis sedang menuangkan air seni neneknya yang ada di dalam kantong ke ember plastik untuk diukur.

Laki-laki itu bertanya, “Kamu sedang magang ya, di sini?”

Gadis itu menoleh, setengah terkejut kebekuan di antara mereka pecah, dan setengah terusik karena hubungan profesionalnya terganggu.

“Boleh kenalan? Aku Casey.”

Gadis itu melirik ke arah pintu, khawatir rekan kerjanya memergokinya dalam situasi seperti ini.

“Casey?” gadis itu mengerutkan kening.

“Ah, ya, nama samaran!” jawab laki-laki itu.

“Kau ingin berkenalan denganku dan menggunakan nama samaran?” tanya gadis itu sedikit tertarik.

“Kuberi tahu nama asli pun kau pasti akan melupakannya,” sahut Casey.

Gadis itu sedikit terganggu atas perasaan rendah diri lawan jenisnya.

“Aku Maria Francisca,” ia mengulurkan tangannya dan Casey menyambutnya.

“Nama asli?”

“Ya. Kau tak akan lupa?”

“Tidak akan pernah,” sahut Casey mantap.

Selama beberapa saat mereka berdiam diri satu sama lain.

“Kau percaya kalau kukatakan aku belum pernah mengajak berkenalan seorang cewek pun?”

Maria tersenyum. Casey menebak jalan pikirannya. “Ya. Aku percaya.”

“Kau tahu mengapa aku ingin mengenalmu?” tanya Casey.

“Tidak karena kau tertarik padaku? Karena kau ingin mengajakku nonton?”

“Itu karena kita tidak akan pernah bertemu lagi. Atau bertemu dua puluh tahun dari sekarang sebagai dokter dan pasien tapi kau tak mengingatku.”

Maria terkesima, “Kau punya imajinasi yang bagus.”

Casey tersenyum pahit. “Aku senang kita bisa bertemu pada saat sekarang ini. Apa kau punya e-mail atau nomor HP? Aku mungkin membutuhkan bantuanmu dua puluh tahun lagi!”

“Aku tidak punya utang apa-apa padamu. Dua puluh tahun lagi mungkin aku akan menolak membantumu.” Meskipun demikian ia tetap menyerahkan nomor HP-nya karena mengira Casey akan meneleponnya seminggu lagi.

“Itu pilihanmu,” sahut Casey.

Sepuluh atau dua puluh tahun lagi dia membutuhkan seorang dokter yang mau membantunya menjual ginjalnya atau melakukan eutanasia. Seorang dokter yang berani mempertaruhkan izin praktiknya. Maria mungkin mau membantunya. Dan mungkin tidak. Tapi tidak ada salahnya dia berkenalan dengan gadis itu dan menabung mulai dari sekarang.

Sayangnya, percakapan imajiner itu tetaplah menjadi sebuah ilusi yang ada di dalam pikiran laki-laki itu. Ia tidak pernah berani mengajak gadis itu berkenalan sampai pada saat neneknya sembuh. Maria tidak pernah menyadari keberadaan Casey. Baginya laki-laki itu hanyalah keluarga pasien yang datang dan pergi. Terlupakan.

Casey meringis. Dia bukanlah apa-apa di dunia nyata ini. Rumah sakit ini bukan panggungnya. Satu-satunya cara agar gadis itu mengingatnya adalah dengan membuat cerpen atau novel yang bagus. Mungkin gadis itu akan sadar bahwa sosoknya telah menghiasi salah satu malamnya. Ia berharap gadis itu membacanya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s