Lobang Bangunan Itu …

Posted: 12 March 2013 in Catatan Senja

Dulu aku takut senja. Takut sekali. Benar, aku juga kurang mengerti mengapa aku begitu khawatir bila senja datang menghampiri. Jantungku berdegup hebat setiap kali mendengar kumandang Adzan magrib Kang Agustin, santri senior kami yang suaranya meliuk merdu.
Tapi benar saja, barangkali bukan aku saja yang takut kala senja datang. Bahkan pun mereka, para santri-santri baru dengan wajah-wajah yang baru kukenal waktu itu. Sudah jelas terjiplak dari raut muka mereka begitu lesu ketika suara mas Agustin meliuk di suatu senja. Lalu sebenarnya apa yang aku atau kami takutkan ketika senja datang?

Jawabnnya adalah karena waktu itu juga kami harus melakukan “apel” wajib. Yakni setoran atau lalaran langsung di depan Abah kyai. Permasalahan setoran sih sebenarnya bukan begitu jadi soal. Dengan siapapun dan kondisi yang bagaimanapun sebenarnya gampang-gampang saja. Yang jadi soal adalah, , ,

bagaimana setoran atau hafalan juz Amma di depan Abah dengan raut yang santai? Dengan lancar, dengan benar bacaan tajwid dan makharijul hurufnya, tanpa terbata-bata atau gugup? Bagaimana?

Nah itu Dulu. Dulu yang katakan aku benar-benar benci ketika senja datang mengampiri.

Bersambung

Comments
  1. Ditunggu sambungannya nih ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s