100 Kotak Jamu

Posted: 16 March 2013 in Cerpen

FOTO-1011

Cerpen Khair Khairuddin Lubis

Aku masih terbaring di atas dipan yang penasaran. Kedua tanganku masih melayang-layangkan kotak-kotak misterius ini. Sambil mereka-reka garis wajahmu di atas pasir putih di depan rumahku. Apa mungkin wajahmu seperti Primus? Atau barangkali seperti Amir Khan? Ah… Entahlah. Sejak kapan aku menjadi penghayal begini.

Ratusan kotak yang kini kosong masih tersusun rapi di bibir kamarku. Sesekali aku coba untuk menghirup aroma mereka dan surat-surat yang dikirim bersama mereka satu persatu. Bila kau tahu bagaimana perasaanku saat ini, aku pasti… Ah, mudah-mudahan saja kau tak tahu.

Bagaimana kabarmu hari ini Jelita? Semoga kau tidak jera menerima sebuah kotakku ini.
Aku selalu berharap kita dapat bertatap wajah. Tapi akhirnya aku pun harus menunggu.
Meskipun hari itu tiba tidak terlalu lama, aku tetap berdoa semoga kau senantiasa selalu dilindungi Tuhan dan tidak terganggu menerima kotakku ini.
Za.

Lima belas menit aku selesai membaca sebuah surat yang dikirim di dalam sebuah kotak berwarna merah hati. Sampul kotak itu bergambar dua buah wayang jawa sedang berkelahi.

Aku tidak pernah marah ataupun benci kalau kau menghadiahiku kotak-kotak yang ku anggap lucu ini. Karena aku merasa terhibur, aku bahagia karena masih ada kau yang memperhatikanku. Meski selama setahun ini kau tak pernah mengirimkan gambar wajahmu, aku tahu kau orang yang paling dekat denganku. Bagaimana kau bisa tahu kalau aku suka kotak-kotak jamu yang lucu ini? Dan kata-kata yang selalu aku inginkan dari orang sekelilingku selama ini?
“Bu… Kakak pergi ngajar ya.” ujarku setengah berteriak dari ruang tengah.

Aku masih memasang kaos kaki dan sepatu di ruang tengah. Selama lima menit itu, tidak ada suara jawaban dari ibuku. Meskipun beliau sedang ada di teras samping rumah, biasanya suaraku pasti terdengar sampai ke sana.
“Ini ada kiriman dari Pak pos. Hati-hati ya.”

Ibuku tiba-tiba muncul dari arah belakang badanku. Sontak saja aku terkejut. Terlebih lagi ada sesuatu yang sudah aku tunggu-tunggu selama seminggu ini.
Akhirnya datang lagi…
“Kak, gak apa kan?”
“Eh. Gak apa, bu.”
“Kok senyum-senyum begitu?” tanya ibuku.

Aku lihat dahinya menggernyit. Sepertinya beliau sedang bertanya-tanya tentang tingkahku yang aneh ini. Ya itu karena kau, Za!
“Tidak apa, bu. Kakak pergi ya.”
*
Langit pagi hari ini memamerkan warna biru nya yang terbaring bersih sekali. Tidak ada awan sedikitpun. Barangkali mereka tahu tentang hatiku dan sebuah kotak jamu yang sedang aku genggam ini. Cerah dan tanpa ada yang mengganggu indahnya langit pagi ini. Persis menyamai hatiku yang tengah tersenyum-senyum sendiri.

Perjalanan satu setengah kilo meter yang ku tempuh dengan berjalan kaki itu menjadi tak terasa. Perjalanan ini menjadi terpengaruh dengan hati dan perasaanku ini.
Apa kau sedang tersenyum hari ini, Jelita? Ku harap begitu.

Yang ku kirim adalah kotak yang berwarna biru muda dan bergaris-garis putih. Itu yang kau suka kan?
Semoga hatimu secerah langit dan matahari yang indah hari ini ya, Jelita.
Za.
Lagi. Aku tersenyum-senyum sendiri.
“Wah… Ada yang baru. Lucu banget lagi.”
“Eh, Hani. Entahlah , Han. Hampir setiap minggu aku mendapat kiriman kotak-kotak jamu seperti ini.”

Sekilas pikiranku terlempar ke tumpukan kotak-kotak jamu yang tersusun di pinggir kamarku. Aku masih belum bisa memutuskan siapa pengirim mereka yang lucu-lucu itu.

“Dan aku pun tahu kau pasti bahagia karena mendapatkan perhatian seperti ini?” tanggap teman dekatku itu sambil menyunggingkan senyum menggodanya padaku. Aku paling tak tahan bila Hani yang menggoda. Ia orang yang tahu tentang diriku setelah pengirim kotak jamu ini.
“Semoga kalian cepat berjumpa ya. Hehe.”

Demi semua kotak ini, bagaimana denganmu, Za? Akankah kau setuju tentang hal ini? Akankah kau selalu mengirimkanku kotak lagi? Tapi sebenarnya yang ku rindukan adalah kau.

Apa kau bisa mendatangiku sebentar saja di dalam mimpi? Agar aku bisa mencoba menggambar-gambar hati dan bibirmu di atas pasir putih di halaman rumahku.
*

Selamat pagi, Jelita.
Bagaimana keadaan hatimu saat ini? Maafkan aku karena tidak memberimu kesempatan untuk membalasku. Kau tidak marah kan?

Di dalam doaku, semoga kau lebih cepat lagi dapat melihat bibirku dengan tanpa tulisan ini.
Agar tidak ada keraguanmu, aku memberikanmu sesuatu di dalam kotak jamu ini.
Mungkin ini tidak terlalu bernilai dibanding hatiku yang semoga ingin kau lihat. Secepatnya aku akan menjumpaimu.
Za.

Kotak berwarna oranye itu ku tunggingkan ke bawah. Ting… Sesuatu jatuh darinya. Bunyinya seperti besi atau koin. Tapi semuanya salah, yang ku lihat adalah sebuah cincin emas yang berwarna kuning berkilau.

Apa kau benar-benar serius denganku, Za? Kotak ini? Ia ku ajak bicara, tapi kenapa tidak ada jawaban? Ini kotak-kotak yang sempat ku torehkan. Tentang betapa indahnya menjalani tugas-tugas ini, tentang betapa indahnya menggambar garis wajahmu! Aku sudah mengukirnya pada tunas-tunas daun yang bila ia gugur akan terhempas kepada hatiku, lantas akan tumbuh menyuburkan senyuman di hatiku. Mampirlah di antara sunyiku, menelurkan warna-warna di hidupku, mematri langit-langit mimpiku. Apabila memang kata-kata bukanlah yang cukup menganakemaskan hatimu, maka dengan doalah perhiasan itu mendulang pada tuntunan para hati.
Sudah berapa senyuman yang membuat orang-orang terheran yang sudah tercipta. Tapi aku selalu menghempaskan senyuman itu di liang-liang mimpi. Meski fajar menghambatku agar aku terbangun, aku pun masih tersenyum di hati ini.

Kau yang menorehkan warna indah di kamarku hingga sekarang ini. Timbunan ratusan kotak jamu masih terhias sendu sambil menyapaku dengan ucapan selamat pagi. Biar saja kau menyiapkan tulisan-tulisanmu dan akan ku simpan sementara kotak-kotak ini. Nanti, setelah ini aku berharap kau menghadiahi tubuh dan wajahmu ke hadapanku dan berbagi semua kotak yang kau punya. Aku akan datang kembali. Aku akan pergi untuk orang-orang yang aku cintai. Bukan untuk melupakanmu. Tapi untuk meminjam anugerah Tuhan. Agar aku dapat meminta kepada-Nya untukmu juga. Aku tidak ingin membuat benang-benang kusut kepada mereka yang berada di sekelilingku. Ibu dan dua orang adik perempuanku.
“Hani!”
“Hai. Selamat datang di rumahku.”
Mungkin hanya Hani yang tahu. Setiap hari ia selalu mengajarkanku tentang menjaga diri. Bukannya kau tak tahu bagaimana caranya menjaga diri seorang gadis.  Tentu! Tentu aku tahu! Ayah dan ibuku pasti tidak lupa membenahiku. Apalagi guru-guruku hingga aku beranjak ke jenjang universitas, tapi aku juga perlu saran dan ayoman untuk menyandarkan kegelisahanku. Terlebih, Hani tahu tentang diriku sejak kami masih bermain boneka, ia mengerti benar tentang hati dan pikiranku, bahkan itu tentang kau, Za!
*
Memang malam ini, seperti biasa aku memilih selonjoran di depan TV. Tadinya aku ingin membaca buku yang mampu menggenapi menit-menitku di sini. Aku sedang menimbang kalau-kalau di suasana ini singgasana ingatanku akan mata kuliah hempas oleh coretan, koreksi tugas, coklat, , cabai, entahlah…..
“Sabar ya, nak. Ibu selalu mendoakanku agar bisa melanjutkan kuliah lagi. Ibu yakin kalau kamu konsisten, kamu akan menjadi orang yang berhasil.”
Aku yang masih mencermati huruf-huruf buku kuliah, berbalik menatap ibuku. Tersenyum seakan ingin ku beri saksi atas hatiku bahwa aku mampu memikul hari-hari ke depan. Walaupun hanya Tuhan yang tahu!
“Iya, bu. Semakin hari, rasanya kakak semakin bisa…”
Tak mampu aku meneruskan. Melihat wajah ibuku yang masih tersenyum itu membuatku tidak tega untuk berkata yang macam-macam.
“Dan ibu pun tahu kamu anak yang berbakti.”
”Setiap yang bersabar akan mendapat rahmat berlimpah.”
*
Selamat sejahtera dan kebahagian selalu tercurah kepadamu , Jelita.
Tidak pernah bosan aku berdoa agar hatimu tetap cerah sama persis seperti pagi ini.
Ini mungkin kotak terakhir dariku. Maafkan aku.
Za.
Sekian hari yang saling mendorong, menguber, menyelidik perihal rahasia waktu. Aku masih menanti kotak darimu. Kotak yang dindingnya adalah keputusan Tuhan. Kau yang merangkainya. Sembilu lara telah ku tanam dalam-dalam. Aku akan menyerahkan ratusan kotak ini pada dunia. Hari itu semakin menampakkan lambaian tangannya. Seakan pesisir yang pernah kami kunjungi dalam liang mimpi, memanggil-manggil dan menunggu kau untuk bersimpah dalam pelukan sahabat angin sejuk. Dibuatkan oleh keyakinan diri ku, semakin mengukir dengan pasti pada seonggok karang tempat para ikan bermain layang-layang, tentang ubur-ubur yang mengindah di permukaannya menjadi permainan laut, bergelombang menyembunyikan berjuta tong kekuasaan Tuhan.
“Selamat siang.”
“Siang. Anda mencari siapa ya?”
“Saya ingin mengantarkan kiriman ini.”
“Oh. Untuk saya?”
“Benar. Dan kalau boleh saya ingin berbicara dengan mbak sebentar saja tentang pengirim beberapa kotak jamu kemarin?”
“Maaf. Maksud anda? Mari. Silahkan duduk.”
Aku masih takut, Za. Ada apa denganmu? Kau bilang tidak akan mengirimkan kotak lagi? Kenapa tukang pos ini ingin berbicara tentangmu, Za?
“Apa mbak bisa membuka kiriman itu?”
Selembar akta kelahiran yang tertulis Sanza Galih Putra. Rasaya aku pernah mengenal nama ini. Tapi aku tidak kuat lagi untuk berpikir karena takut. Apa ini berhubungan denganmu, Za?
“Sanza?”
“Maaf, mbak. Pengirim kotak-kotak yang sering mbak terima dahulu adalah melalui saya. Dan hari ini pengirimnya…”
“Za?”
“Ya, mbak. Dia…”
“Za kenapa? Jawab mas!”
“Dia adalah Sanza. Apakah mbak pernah mengingat teman mbak yang bernama sama di waktu SMA dulu?”
“Sanza… Ya. Tapi dia sudah meninggal. Ketika kami berlibur di pantai Putra Deli, ia menghilang di tengah laut.”
“Maafkan saya, mbak. Dia adalah saya.”
“Sanza! Ya Tuhan!”
Aku berteriak hampir mati. Aku melihat wajahmu, Za!
Aku tidak bisa percaya pada mataku lagi setelah kematian kekasihku di pantai itu.
“Tapi apa ini benar kau, Za?”
“Apakah ada orang lain yang memanggilmu Jelita?”
Aku belum percaya.
”Besok aku akan pergi. Mungkin lebih jauh.”

Dan pun menyemi di kelopak mataku. Namun, ku lengkapi dengan senyuman.
“Za…?”
“Aku akan datang secepatnya dan melamarmu. Aku akan membantumu, keluargamu.”
“Za…?”
“Kuatkanlah hatimu, Jelita. Aku masih tetap menyayangimu sejak bertahun-tahun yang lalu.”
“Hati-hati, Za.” Kataku sambil memberikanmu senyum yang terindah yang ku punya.
Sementara, kotak-kotak darimu yang bisa menghiburku.

***

Khair Khairuddin Lubis, Lahir di Medan pada 20 Februari. Hanya seorang mahasiswa biasa yang sedang belajar untuk tetap hidup di dalam detak nadi sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s