Belati Sang Tuan

Posted: 16 March 2013 in Cerpen

Cerpen Sekar Mayang

Pagi ini aku dipanggil Tuan ke kamarnya. Sewaktu mendengar suara rendahnya menyebut namaku dengan lantang, kupikir ia sedang minta dipijat punggungnya, atau minta diambilkan sesuatu, atau minta spreinya diganti dengan yang baru karena – biasanya – semalam terkena noda anggur. Tapi, ternyata tidak. Ia hanya duduk di kursi jatinya yang menghadap ke jendela kembar yang besar. Kulihat cerutunya masih separuh dan ujungnya menyala, namun benda itu hanya terdiam di tepi asbak perak. Tuan hanya memandangku dari ujung rambut sampai kaki, berulang-ulang, perlahan-lahan.

“Bagian mana yang perlu saya bersihkan, Tuan?” Aku memberanikan diri bertanya.

“Tidak ada,” jawabnya dengan tenang. Aku makin kikuk.

Lalu, tiba-tiba Tuan berdiri dan melangkah ke meja kerjanya. Di sana ada sebuah kotak kayu kecil. Ia membuka kotak kayu itu dan menunjukkan isinya – yang sudah kuketahui sebelumnya – padaku. Sebuah belati perak dengan ukiran bunga melati pada gagangnya, bunga kesukaan Tuan. Apa lagi kiranya yang akan Tuan katakan padaku perihal belati itu?

Dua hari yang lalu, aku harus merelakan satu setengah jam waktu kerjaku hanya untuk mendengar cerita-ceritanya tentang belati itu. Katanya, belati itu akan ia gunakan untuk mendapatkan wanita yang akan menjadi istrinya. Entah bagaimana caranya, Tuan tidak menceritakannya. Tuan memang masih sendiri. Tidak seperti teman-temannya di kantor VOC yang banyak memiliki selir dari bangsa pribumi, Tuanku ini menganggap wanita bukan makhluk yang pantas menjadi koleksi. Bagi Tuan, wanita harus diperlakukan seperti ratu: dihormati dan dijaga. Tapi, menurutku, Tuan adalah fenomena langka di karesidenan ini.

Kembali lagi ke soal belati. Itu bukan belati tua. Tuan baru membelinya sebulan lalu. Atau, lebih tepatnya, ia memesan pada seorang pembuat keris di kampung sebelah. Harganya 500 gulden. Aku tidak mengerti, apakah itu harga yang tinggi atau rendah. Yang kutahu pasti, Tuan menganggap itu harga yang pantas. Tuan bilang, ia tidak menawar dan langsung setuju saat si pembuat keris menyebut angkanya.

“Tuan. Kalau tidak ada yang perlu dibersihkan, ijinkan saya kembali ke belakang. Masih banyak yang harus saya kerjakan sebelum jam pulang nanti.” Semoga ucapanku tidak terlalu lancang.

“Jangan,” katanya setengah menggumam. “Aku ingin menceritakan sesuatu.”

Tuan duduk di kursi kerjanya. Tangannya masih memegang belati perak itu. Sesekali ia mengusap benda mengkilap itu dengan hati-hati. Mungkin takut menggores kilapnya.

“Besok malam….”

Tuan tidak melanjutkan kalimatnya, lama sekali.

“Ada apa dengan besok malam, Tuan?”

“Aku akan mendapatkan wanitaku.”


Oh, rupanya Tuan sudah punya pilihan. Mungkin seorang wanita, anak priyayi, telah meluluhkan hatinya. Biasanya, banyak priyayi menawar-nawarkan anak gadisnya kepada kumpeni macam Tuan. Banyak alasannya. Tapi, yang paling sering muncul, untuk meningkatkan derajat mereka di mata masyarakat. Padahal, apa itu menjamin mereka benar-benar terangkat derajatnya? Kebanyakan dari mereka – kulihat – malah jadi jongos bagi mantunya sendiri. Diminta ini itu, disuruh ini itu, dengan dalih demi kelancaran urusan-urusan para kumpeni itu, yang nantinya – para kumpeni itu bilang – juga akan melancarkan urusan-urusan para priyayi itu. Sungguh tragis!

“Rachma,” kata Sang Tuan. Dia tidak pernah bisa memanggilku dengan benar, padahal namaku sebenarnya adalah Rohma.

“Iya, Tuan.”

“Nanti siang ada tamu datang. Biarkan dia masuk, turuti apa saja yang dia minta,” kata Tuan lagi.

“Iya, Tuan.” Toh, aku tidak bisa berucap lain, kan?! “Tapi, Tuan,” aku mulai membandel sedikit, “tamu Tuan itu lelaki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Tuan menaruh lagi belatinya di kotak kayu, lalu menghampiriku. Ia berdiri di hadapanku, jaraknya dekat sekali. Jadi, aku mundur selangkah, pelan-pelan. Tuan memejamkan mata dan menarik napas pelan-pelan, seperti ketika ia sedang menghirup aroma kopi yang kerap kusajikan di pagi dan sore hari. Saat ini, aku benar-benar berharap tidak ada aroma aneh yang muncul dari sekitar cuping hidung Tuan. Aku sendiri, aku suka aroma minyak wangi Tuan, yang katanya ia bawa khusus dari negaranya.

“Rachma.” Tuan sudah membuka matanya kembali.

“Iya, Tuan.”

“Kembalilah ke dapur. Siapkan aku kopi hitam yang kental seperti biasanya.”

“Tapi, Tuan. Tuan baru saja minum kopi dua jam yang lalu.” Yah, aku mulai lebih membandel dibandingkan tadi. “Jadwal minum kopi masih nanti sore, Tuan.” Kuharap Tuan tidak marah dengan sikapku yang mulai lancang.

“Buatkan saja,” sahut Tuan dengan tenang.

Aku mengangguk, lalu pergi menuju dapur.

***

Tuan sudah berangkat ke kantor. Tadi dijemput pegawainya. Sekarang aku agak santai, aku bisa mengerjakan banyak hal di dapur tanpa harus terganggu dengan panggilan Tuan. Jujur, kadang Tuan banyak meminta yang aneh-aneh. Pernah dia meminta dibuatkan pisang goreng. Bukan dengan pisang raja seperti biasanya, tapi dengan pisang ambon. Akhirnya, aku harus berlari ke warung Bu Sariman hanya untuk membeli beberapa buah pisang ambon. Untunglah dagangan Bu Sariman yang satu itu belum ludes dibeli ibu-ibu muda untuk penganan bayinya, jadi aku bisa membawa pulang pisang-pisang itu dan segera menggorengnya. Tapi, kabar buruknya, aku harus kehilangan banyak waktu untuk mengkanji seragam kerja Tuan. Padahal pekerjaan mengkanji tidak mungkin memakan waktu sebentar.

Yang paling parah adalah seminggu terakhir ini. Tuan bisa kapan saja memanggilku ke kamarnya dan memintaku mendengar soal belati barunya. Tak peduli apa yang sedang kukerjakan, Tuan ingin aku segera datang ke hadapannya. Pernah juga, ketika aku sedang mengajari salah satu keponakannya – yang juga tinggal di rumah ini – pelajaran ilmu sosial. Ya, kadang aku memang diminta mengajar oleh Tuan. Tuan tahu, aku dulu seorang guru di sekolah keputrian, tepat sebelum aku menikah dengan Kang Yono. Jadi, ketika aku sedang menerangkan peta kadipaten Cirebon kepada Mikael, Tuan memanggilku dengan nada yang tidak biasa. Setengah berteriak panik, kurasa. Jadi, aku tergopoh-gopoh menuju kamarnya, namun aku segera mencelos karena ternyata Tuan sedang ongkang kaki di kursi malas sambil membelai belatinya. Dan, ketika aku pamit ingin kembali mengajar Mikael, Tuan malah melarangku. Akhirnya, aku harus merelakan Mikael merajuk gegara aku mangkir mengajarinya.

Mang Rais, tukang kebun Tuan, datang menghampiriku ketika aku sedang mengupas bawang. Lelaki beruban itu bilang, ada tamu yang datang. Ah, mungkin itu tamu yang Tuan maksud. Kusuruh Mang Rais mempersilakan si tamu masuk, sementara aku membereskan bumbu-bumbu ini, lalu berganti pakaian dengan yang layak.

Aku mengintip dari tepi tembok yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah. Aku merasa gugup. Entah. Apa karena aku merasa bukan orang yang pantas menghadapi urusan seperti ini? Atau, karena amanat Tuan yang mengharuskan aku melayani dengan baik si tamu ini? Maksudnya, melayani seperti apa, ya? Aku belum paham.

Baiklah. Aku memberanikan diri muncul ke ruang tamu. Tadi dari tempat persembunyianku, wajah si tamu tidak begitu jelas. Maklum, mungkin mataku memang kurang nutrisi. Dan, sekarang, ketika aku dan si tamu hanya berjarak satu kursi, aku benar-benar melihat wajahnya. Aku bisa katakan, si tamu ini adalah salah satu kreasi Tuhan yang aduhai bentuknya. Mungkin, si tamu ini lelaki paling tampan yang pernah aku temui selama aku hidup. Mungkin. Entah, karena memang tidak banyak lelaki yang aku kenal. Dulu aku menganggap suamiku adalah makhluk paling indah. Tapi, kini tidak lagi. Setelah botol tuak itu seolah menempel di tangannya dan enggan lepas. Setelah telapak tangannya yang ketika tak tertempel botol tuak, sering menghampiri wajahku dengan kecepatan luar biasa. Setelah Bu Sariman mengajakku ke desa sebelah untuk melihat rumah baru Kang Yono.

“Tuan Van Meyer sudah berangkat ke kantor, ya?” tanyanya. Suaranya pelan, tapi tegas dan terdengar gagah.

Aku tahu itu basa-basi saja. Aku menjawab sekadarnya sembari mengangguk. Lalu, kembali hening dan aku mulai gelisah dengan pekerjaan yang kutinggal di dapur tadi. Aku takut, pertemuan ini menyita waktu lebih banyak dari yang kuperkirakan sebelumnya.

“Nama saya Daniel.”

Hmm…. Ini harus segera kuakhiri agar aku dapat bertugas lagi di dapur.

“Ehm…. Tuan Daniel ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan Van Meyer?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.

“Oh, tidak. Bukan untuk Tuan Van Meyer.” Kulihat dia meraih sebuah kotak yang agak besar dari samping tempatnya duduk. “Kata Tuan Van Meyer, ini untuk Nona Rachma.”

Rachma?! Ya, ampun. Si setengah pribumi ini pun salah menyebut namaku. Namaku Rohma, bukan Rachma! Tapi, ah, sudahlah. Aku tidak punya urusan dengan orang ini.

“Maaf, Tuan Daniel. Saya sudah menikah. Mungkin panggilan ‘Nona’ kurang tepat.”

Kulihat Daniel jadi kikuk dengan koreksiku. Tapi, buru-buru ia mengalihkan perhatianku kepada kotak besar yang ia bawa.

“Anda boleh membuka kotak ini nanti sore, sekitar pukul empat. Langsung dipakai dan Anda diminta menunggu di kamar Tuan.”

Mungkin saat ini telingaku tersumbat sesuatu sehingga aku hanya menangkap beberapa kata saja. Atau, aku memang mendengar apa yang laki-laki ini katakan – sesuatu tentang menunggu di kamar Tuan?! Entahlah.

Aku rasa aku tidak perlu menunggu sampai sore datang hanya untuk tahu apa isi kotak ini. Aku tidak punya dugaan apa-apa terhadap isi kotak ini. Jadi, baiknya kubuka saja sekarang agar aku tidak terus terbelit rasa penasaran.

Isinya ternyata sepotong pakaian. Kebaya biru berpotongan sederhana dengan hiasan bordir dan benang perak. Cantik sekali. Tanganku tanpa sadar menempelkan kebaya itu di badan dan berjalan menuju cermin besar di ruang tengah. Aku merasa bukan diriku yang berada di pantulan cermin itu. Seumur hidup, pakaian terindahku adalah baju pengantin yang khusus dijahit oleh ibuku. Indah karena banyak tempelan bunga-bunga yang dibentuk dari ratusan payet mengkilap, juga bersulam benang emas imitasi. Dan, ketika melihat kebaya ini, aku mulai beranggapan sulaman benang emas imitasi itu amat berlebihan.

***

Di sinilah aku sore ini. Duduk di salah satu kursi jati di kamar Tuan. Kebaya darinya sudah kupakai. Aku pun menyisir rambutku, kuolesi minyak melati, dan kuurai. Kamar Tuan memang sejuk. Banyak jendela di tiap sisi dindingnya. Hawa sejuk selalu tersaji kapan pun. Pantaslah Tuan betah di kamar ini. Kadang, ketika libur bekerja, Tuan sering manghabiskan waktu di sini. Duduk di kursi malas atau kursi jati kesukaannya, sambil membaca buku dan menghisap cerutu. Kadang juga aku menemaninya. Maksudku, ketika Tuan asyik membaca buku, aku pun asyik dengan pekerjaanku merapikan tempat tidur Tuan, atau mengelap hiasan-hiasan perak yang terpajang di rak bukunya.

Jam besar di samping rak buku itu berbunyi empat kali. Sudah waktunya Tuan pulang. Perjalanan dari kantor ke rumah hanya lima belas menit. Kang Halim, supir Tuan, selalu mengantar Tuan ke rumah tepat waktu. Tidak heran, Tuan enggan gonta-ganti supir seperti yang kerap dilakukan teman-teman sebangsanya yang tinggal di karesidenan ini.

Aku mendengar suara mobil memasuki pekarangan. Detak jantungku makin tak beraturan. Aku sadar, aku berkali-kali menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, hanya untuk mengusir kegugupanku. Tapi, selintas aku berpikir, kenapa aku harus gugup? Ah, tentu saja. Aku akan bertemu Tuan sebentar lagi.

Benar saja. Laki-laki empat puluh satu tahun itu membuka sendiri pintu kamarnya. Tangan kanannya membawa kotak belatinya, sedangkan tangan kirinya menenteng tas kulit lembu yang biasa ia bawa ke kantor.

“Sudah di sini kamu rupanya,” kata Tuan sambil meletakkan kedua benda tadi di atas meja.

“Iya, Tuan.”

Aku berdiri dan menghampirinya, membantu membuka satu persatu kancing bajunya. Belum selesai, Tuan sudah menghentikan tanganku, mengecupnya, lalu bergantian mengecup kening, mata, pipi, dan akhirnya melumat pelan-pelan bibirku. Sesudahnya, Tuan tersenyum puas.

“Kamu cantik sekali dengan kebaya itu,” bisik Tuan sambil membelai rambut panjangku. “Bulan depan,” kata Tuan lagi, “kita akan berlayar pulang ke negaraku. Kita akan hidup bahagia di sana.”

“Iya, Tuan.”

“Setelah itu, kamu tidak perlu lagi memanggilku dengan sebutan menjengkelkan itu.”

Aku tersenyum, lalu perlahan melepaskan diri dari pelukan Tuan. Aku mendekati meja kerja Tuan, membuka kotak belatinya, dan mengeluarkan benda berkilat itu.

“Ini darah siapa, Tuan?” tanyaku, yang lalu kusesali karena terlontar begitu saja dari mulut lancangku.

“Ah, itu… darah seseorang… yang telah menghalangi aku mendapatkan wanitaku.”

Aku yakin, senyumku jauh lebih mengembang dibanding sebelum-sebelumnya. Kuletakkan lagi belati itu dan kembali mendekati Tuan. Dia duduk di kursi jati.

“Bagaimana Tuan melakukannya?” tanyaku sambil duduk di pangkuan Tuan.

Tuan tersenyum. “Kamu tidak perlu tahu. Itu sudah tidak penting sekarang.”

Tuan benar. Itu sudah tidak penting sekarang.

@sekarmayz

Editor :
Jodhi Yudono
Comments
  1. Sekar Mayang says:

    Halo, Rifan. Salam kenal.

    Makasih ya udah majang tulisan saya di blog kamu. Ehm cuma kurang satu hal sih. Biasakan juga untuk mencantumkan link aslinya ya. Kalo nggak salah, ini ngambil dari oase.kompas.com kan?!
    Oke deh. Itu aja saran saya. Keep blogging ya🙂

    • Rifan Yusuf says:

      oke sipp.. thanks. itu memang sengaja buat koleksi aja kok mbak. wah, itu sebuah kebanggan tersendiri cerpen mbak diposting sebagai cerpenc pilihan saya. bagi2 tips ya mbak giimana caranya bikin karya agar dimuat di media? gehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s