Menyelami Misteri Empat Fiksimini

Posted: 16 March 2013 in Essay Sastra

Mari, saya ajak Anda untuk menyelami misteri dan teka-teki empat fiksimini. Keempat fiksimini ini langsung membuat saya terpikat. Keempatnya memperlihatkan, bagaimana pesona fiksimini terus menghantui dan mengganggu.  Berikut ini, keempat fiksimini yang saya maksud. Judul-judul, adalah dari saya, untuk memudahkan pembacaan.

@AndyTantono
SEHABIS NONTON PERTUNJUKAN SULAP

“Ma, lihat aku bisa menghilangkan kelingkingku seperti pesulap tadi” jawabnya sambil menggenggam pisau.

@dimatanya
ANJING
Ketika orang-orang itu berteriak “Anjing!”, aku jadi teringat akan masa laluku sendiri.

@nanapai:
NASIB SIAL SEORANG PENCURI
Seorang pencuri tertangkap setelah handphone yang dia curi menelpon ke kantor polisi.

@sandiskanok:
UDIN
“Bu, si udin mau dikubur kapan?”
“Setelah UN-nya selesai, Pak Haji”

Fiksimini bukan sekedar menulis cerita dalam kalimat pendek. tetapi ia adalah sebuah pergulatan untuk menemukan plastisitas kisah, yang membuat fiksimini itu memberi kita ruang imajinasi yang luas. Kisah itu sendiri boleh “sekelebat”, tetapi ia merangsang kita, sebagai pembaca, untuk berimajinasi dan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan tafsir. Kelebatan kisah itu, menjadi semacam rangsangan bagi pembaca untuk menafsir memecahkan teka-teka di dalamnya.

Fiksimini “Sehabis Nonton Pertunjukan Sulap” @AndyTantono, adalah contoh yang baik untuk itu.  Dalam satu kalimat, kita sudah langsung terbayang kejadian: seorang ibu dan anaknya yang mungkin saja baru saja menyaksikan pertunjukan sulap. Kita tak tahu: pertunjukan sulap apakah itu? Dan justru karena itulah kita jadi terangsang untuk membayangkan pertunjukan sulap seperti apakah yang ditonton si ibu dan anaknya itu. Sampai kita kemudian terhenyak dengan “jawaban” si anak: “Ma, lihat aku bisa menghilangkan kelingkingku seperti pesulap tadi”. Dari jawaban  si anak itu, terbayanglah bermacam adegan: mungkin si pesulap tadi memotong tibuhnya, menghilangkan kepalanya atau melakukan atraksi lain yang begitu mempesona si anak, hingga bocah itu ingin menirunya: ingin seperti si pesulap yang ditontonnya, ingin menghilangkan kelingkingnya.

Bagaimana cara sibocah melakukan “trik” sulapnya? Kita tak pernah tahu. karena kita hanya bisa membayangkannya lewat kalimat ini: “jawabnya sambil menggenggam pisau”.

Perhatikan pemakaian kata “jawab” itu. Ini efektif sekali: kita jadi seperti mendengar pertanyaan Mamanya pada bocah itu. Inilah yang saya sebut dengan “ruang kosong yang merangsang imajinasi” pembaca, sebagai salah satu pesona fiksimini. Tanpa ada kalimat pertanyaan dari Mamanya, saya seperti “mendengar suara Mamanya yang bertanya renyah pada si bocah”. Terbayang ibu muda yang cantik, yang begitu sayang pada anak semata wayangnya, dan mereka baru pulang dengan hati riang setelah menaksikan pertunjukan sulap. Suasana yang penuh kebahagiaan itu, ditohok oleh kenyataan: bahwa anaknya meniru adegan situkang sulap yang ditontonnya dengan cara menghilangkan kelingkingnya!

Dengan cara apa si bocah itu menghilangkan kelingkingnya? Kita tak pernah tahu. Karena kita hanya bisa menduga-duga ketika si anak itu “menggenggam pisau”. Apakah bocah itu memotong kelingkingnya dengan pisau itu? Ya, itulah yang terbayang dalam imajinasi kita: bagaimana si bocah telah memotong kelingkingnya dengan pisau yang digenggamnya itu. Kita terbayang adegan itu, kita pun merasa ngeri dan sekaligus takjub!

@AndyTantono, dalam fiksimini itu, sangat berhasil mensugesti kita untuk membayangkan adegan “memotong keingkin dengan pisau” itu. Tapi benarkah itu? Jangan-jangan, itu haya ada dalam imajinasi kita!! Inilah misterinya. Inilah pesonanya.

Ya, dari jawaban si anak kecil itu, kepala kita memang dipenuhi imaji mengerikan: bagaimana pisau yang “digenggam bocah itu”, sebelumnya dipakai buat memotong kelingkingnya, karena ia ingin meniru adegan sulap yang ditontonnya. Imajinasi itu ada dalam kepala kita sebagai pembaca, dan fiksimini itu “hanya menjadi api kecil pelentik imajinasi”, karena memang tak eksplisit mengisahkan adegan itu. Tapi, bagaimana kalau pisau itu memang “hanya digenggam” si bocah, tak dipakai buat memotong (karena adegan meotong denan pisau itu hanyalah yang kita bayangkan)? Dengan cara apa si bocah itu memotong kelingkingnya? Sementara kita terus dihantui berbagai pertanyaan dan kemungkinan, kita tetap saja bergidik membayangkan darah yag menetes-netes dari kelingking si bocah itu.

Fiksimini “Anjing” yang ditulis @dimatanya, juga penuh teka-teki yang merangsang kita untuk memecahkannya. Kita baca kembali fiksimini itu:

Ketika orang-orang itu berteriak “Anjing!”, aku jadi teringat akan masa laluku sendiri.

Kita tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya terjadi. Setiap pembaca bisa membayangan sendiri adegan dan peritiwanya. Mungkin, suatu sore ada perkelahian, lalu ada yang berteriak “Anjing”, dan di sana “aku” langsung teringat masa lalunya. Atau saat itu mungkin seorang pencopet atau pencuri tertangkap, dikejar, dihajar, dan diteriaki, “anjing”, dan ada “aku”  yang menyaksikannya. Atau mungkin si “aku” itu juga ikut memukuli pencuri itu, atau mungkin kawan pencuri itu? inilah misterinya, inilah yang membuat pembaca begitu penasaran untuk menafsir. Siapakah yang diteriaki “anjing”? Dan kenapa, ketika mendengar teriakan itu, si “aku” langsung teingat masa lalunya?

Atau jangan-jangan, yang diteriaki “anjing” oleh orang-orang itu adalah memang seekor anjing?! Mungkin anjing kampung buduk yang ketahuan menggigit bocah atau mencuri daging. Ketika melihat anjing itu, si “aku” teringat sejarah masa lalunya? Terbayanglah proses reinkarnasi: jangan-jangan dalam kehidupannya yang dulu, si “aku” memang seekor anjing? Kita tak tahu, kita handa menduganya, terangsang menduganya.

Kemungkinan rtafsir lain: mungkin yag diteriaki “anjing” justri si “aku” sendiri? Mungkin ia bertengkar dengan orang-orang kampung, atau para tetangganya, dan orang-orang itu meneriaki si “aku” dengan makian “anjing”, yang membuat si ‘aku’ tergeragap karena teriakan itu mengingatkan pada masa lalunya.

Tapi masa lalu seperti apa? Apakah seperti tafsir perama di atas: masa lalu dalam pengertian proses reinkarnasi? atau masa lalunya yang kelam: yang hidup bagai anjing? Dan kita pun membayangkan: masa lalu seperi apakah yang dijalani si ‘aku’ hingga ia merasa seperti ‘anjing’? Apakah ia penipu? Apakah ia penjahat kambuhan? Atau dia ulama yang sesungguhnya punya masa lalu kelam dan menjijikkan? Semakin kita membayangkan, semakin kita merasa: betapa kayanya kisah yang hanya ditulis dalam “satu larik kalimat” itu.

Begitulah, fiksimini itu mempesona kita: ia selalu memnyediakan tafsir dan kemungkinan yang melimpah, hingga meski berkali-kali saya membacanya, saya tak pernah bosan. Saya malah semakin penasaran. Ia berbeda dengan kebayankan fiksimini yang ditulis: yang sekedar pendek, tetapi tak mampu menyuguhkan semacam teka-teki.

Banyak yang memakai efek humor, saat menulis fiksimini. Tetapi, bagi saya, fiksimini bukalah sekadar sebuah “lelucon pendek” atau “anekdot mini” atau sekedar joke dan sejenisnya. Bila ia mebuat kita tertawa, karna kita melihat ada “sesuatu yang menggoda” di dalamnya, sesuatu yang merangsang syaraf tawa kita. Fiksimini yang dituli @nanapai ini, bisa menjadi contoh menari:

NASIB SIAL SEORANG PENCURI

Seorang pencuri tertangkap setelah handphone yang dia curi menelpon ke kantor polisi.

Tentu saja, itu tak dimaksudkannya untuk melucu, tetapi kita tersenyum saat digoda oleh hanhphone yang bisa menelpon ke kantor polisi. Saya langsung terbayang adegan film kartun: telepon yang bisa menelpon sendiri. Tetapi bukan di situ letak lucunya, tapi justru pada proses bagaimana si pencuri tertangkap! Ada ironi, ada sindiran, ada kritik yang getir: bagaimana polisi kita bekerja tak becus, hingga perlu sebuah handphone yang dicuri untuk menelponnya. Bagaimana si korban menelpon polisi, dan kita menjadi geli. Dan bagaimana nasib pencuri itu? Kita langsung terbayang bagaimana nasib penceri handphone seperti tu. Alangkah sialnya. Alangkah tragis dan mengelikan, karena nasibnya ditelikung ole ponsel yang dicurinya.

setelah membaca fiksimini itu, setiap adegan itu melintas, saya selalu tersenyum. Kisah itu tak semata-mata dimaksudkan untuk melucu. Tak semata-mata ingin membuat kita tertawa. tetapi, kita terus merasa konyol setiap mengingatnya

Begitu juga “lelucon pahit” dari percakapan seorang ibu dan pak haji dalam fiksimini yang ditulis @sandiskanok:

UDIN
“Bu, si Udin mau dikubur kapan?”
“Setelah UN-nya selesai, Pak Haji”

Percakapan itu efektif dan sugestif: kita jadi tahu siapa yang bercakap-cakap: seorang ibu, dan sesorang laki-laki yang dipanggil Pak Haji. Siapa ibu itu? Mungkin ibu si Udin. Tapi mungkin juga bukan.

Perama-tama, kita membayangkan, ibu itu ditamya Pak Haji, yang menanyakan, kapan anaknya, Udin, mau dikubur. Dan kita tersentak dengan jawabnya: “Setelah UN-nya selesai, Pak Haji” Wow! Sebuah pukulan telak yang menohok imajinasi!! Permainan logika yang cerdas dan luar biasa: Kita membayangkan Udin yang (sudah) mati, yang sedang atau terus bersikeras mengikuti Ujian Nasional, sementara para takziah sudah menunggu di rumah dengan tak sabar, hingga Pak Haji bertanya, “kapan mau dikubur?” Dan kita tahu jawaban si ibu. Ironic. Tragis. Tapi kita tersenyum dibuatnya Bila ini lucu, sudah pasti kita tak hanya tertawa. bahkan  bocah yang mati pun harus ikut UN. Atau bahkan, proses kematian dan penguburan, bisa ditunda atau dikalahkan oleh UN.

Tapi bagaimana kalau ternyata yang ikut ujian bukan si Udin yang mati? Atau yang mati ternyata bukan si Udin? Siapa yang dirujuk oleh penggunaan kata ganti “nya” dalam kata “UN-nya” tersebut? Si Udin yang mengikuti Ujian Nasional? Atau  seseorang yang  mati itu yang mungkin saja Udin tapi mungkin saja bukan? Kembali: kita berhadapan dengan pemrinan teka-teki, yang bila semakin digali semakin membuat kita menemukan kelimpahan tafsir.

Kelihatannya fiksimini hanyalah kolam kecil, tapi begitu kita menceburkan diri ke dalamnya, kita makin sadar bahwa kolam itu tak berdasar, dalam dan penuh misteri. Semangkin kita menyelam ke kedalamannya, semakin kita merasakan diri kita pelam-pelan kian terbenam tenggelam. Dan mayat kita mungkin tak pernah ditemukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s