Serabut Malu

Posted: 16 March 2013 in Catatan Senja

387f72Malu atau kemaluan? Terserah, intinya jangan keluar dari kata dasar itu.

Aku malu pada aku. Pada dia, mereka, atau pada angin.
Yang memaksaku berdiri pada seutas rantai suci yang tergerai di gudang ilmu berlantai tiga ini. Atau tentang masjid tempat menopang gundah berlomba-lomba memetik pahala dari sang Tuhan. Berlomba-lomba merapal doa yang bersemilir menembus kubah dan sajadah.

Adakalanya malu berlalu dan henti. Kala al ibriz atau sejurus amma yatasaalun masih terkulum oleh mulut merahku, merapal kalam Tuhan.

Malu itu pasti berlalu kala kududuk bersila di masjid dengan nama sebagaimana masjid di kampungku. Malu itu pergi, ketika deretan dari kami tertawa-tawa, mendengar siraman taufik dari sang Al Mukarram, di usia senja namun belia.

Lalu malu menggaris, pada selebar telapak tangan. Ketika aku tak berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s