Mayat Berjalan

Posted: 24 March 2013 in Puisi

Kertas itu tertulis dengan tinta merah
nyaring ketika aku dan kamu, atau mereka
yang mencoba masuk kamar ini,
membacanya

dunia ini begitu gelap, kata mereka
seumpama malam tanpa secuil siluet lentera
lalu Abah bilang tentang malam
yang gulita itu,
seumpama baju yang menutupi
benar saja wong
itu kalam Tuhan

bergidik aku,
ketika mataku tumpah
pada sekotak putih
berjubah merah
berteriak seolah memaki,
membuatku teringat,
masa lalumu
menyoal wujuduhu ka’adamihi

“Sampai kapan aku jadi mayat berjalan?”

kudengar,
ada gempa yang pecah di gendang telingamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s