What Do I Writing For?

Posted: 28 March 2013 in Catatan Senja

Saat-saat seperti ini, memang aku merasa bukan saat-saat yang “pewe”. Aku menganggapnya biasa-biasa saja, tapi lama-lama kelamaan kok kurang ajar juga! Bosan, terhalang, capek, bodoh, tolol ah what the f*ck lah!

Sorry wordpress, kali ini aku sedang tak berselera berbagi sajak-sajak sendu, kali ini barangkali naluriku berhendak untuk melukiskan catatan-catatan bodoh yang menimpa diriku, bersama embun basah yang luruh pagi ini. Dan ini dirasa berbeda. Apa yang berbeda? Maksudku, terkadang suatu saat aku butuh sesuatu dengan menulis beginian. Merasa nyaman dengan beginian. Meskipun tidak semuanya memecahkan permasalahan, tapi paling tidak memenangkan permasalahan. Seperti dalam Ilmu Psikologi yang aku dapat, ini masuk dalam Emotion Problem Solving, yakni memecahkan masalah tanpa berdasar pada masalah itu sendiri. Entahlah.

Kalau dibandingkan, rasanya berbeda jauh antara aku menulis puisi dengan bangkaian curhatam seperti ini. Ini bicara soal psikis, bukan fisik. Karena sudah berkali-kali aku deklarasikan. aku menulis sebagai obat. Obat penyembuh jiwa. Obat gila atau apalah tai kucing. Sehingga, feel nyaman yang aku rasakan ternyata lebih cenderung menulis bangkai curhatan dibanding puisi. Di bangkai curhatan, aku langsung “tanpo tedheng aling-aling” bebas mencurahkan isi hati. Tanpa simbol-simbol senja atau rima. Dan ini menyenangkan. Bahkan dalam 5 menit pun bisa saja selesai catatan hingga 500an kata lebih. Dan aku puas karena telah berbagi penderitaan di saat orang-orang sekelilingku tak mau mendengarkan.
Ibarat ilmu telepatika, menulis di bangkai curhatan ini ibarat “ngomong” sama jawa sendiri, “speak to myself” dan rasanya totalitas bisa melegakan dibanding puisi yang singkat dan selalu bersembunyi di balik simbol. Aku sedang tak sedikit berselara bersajak. Tapi aku tak akan pernah meninggalkan tradisi kedua jenis menulis ini. Barangkali sajak dan bangkai curhatan adalah bagian dari hidupku yang susah untuk kutinggalkan.

Dengan Puisi, Aku mampu melukiskan diriku sendiri
Dengan Puisi, Duniaku lebih anggun dari surga dalam kartun DisneyLand
Dengan puisi, aku mampu memeluk senja dan seperangkat kawan-kawannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s