The Pedestrian

Posted: 1 April 2013 in Cerpen

2042_12_tips_memotivasi_diri_untuk_berjalan_kaki

“I’m tired of being a loser
I’m bored of being a fool”

Barangkali hari kemarin kamu akan menemukan kata-kata itu di suatus facebook/twitterku. Memang benar, itu langsung dari kata hati yang tengah melonjak untuk mengaduk emosi.
Loh? Emosi? Pada siapa aku emosi? Memangnya belakangan ada oranglain yang mengganggu ketenanganmu hidup? Tidak.
Ya, aku emosi pada diriku sendiri.
Letih dengan sikap bodohku ini.
Bosan dengan segala jenis kelalaian yang berujung pada petaka dan bad time.

Tentang ini misalnya. Kunci sepeda yang hilang, akhirnya berdampak pada akibat yang cukup melelahkan.
Akibatnya, aku berangkat ke kampus Jalan kaki.

Masih untung bagi seorang mahasiswa pejalan kaki yang letak kos nya dekat dengan kampus, tanpa sepeda atau motor pun, jalan beberapa menit pun sampai. Lalu bagaimana dengan aku? Dari ujung Pabuaran sampai ke kampus Karangwangkal dengan jalan kaki?

Ketika kedua kaki ini menjelajah tanah keras pada semenanjung jalan, sementara terik mentari kian mengganas, sekujur tubuh bermandikan peluh, bajuku juga terlihat basah karena mandi keringat sehingga menimbulkan bau yang kurang mengenakkan.

Jujur, aku kurang biasa jalan kaki seperti ini. Tapi kenapa si Winda, teman satu kelasku itu begitu nikmat jalan kaki dari pondok ini menuju ke kampus?
Perempuan ini luar biasa juga. Berkali-kali aku juga sedikit kepo sama gadis pendiam asli Cilacap ini,
“Win, kamu masih jalan kaki?”

“iya, fan. Kenapa emang?”

“nggak apa-apa sih, emang gak capek ya?” aku hanya bisa melontarkan pertanyaan tak penting itu dengan gaya salah tingkah.
Kadang ia tertawa mendengar pertanyaan itu.
Luar biasa juga si Winda ini.
Kami sengaja menjaga jarak ketika di manapun. Meski satu kampus dan satu kelas, juga satu pondok. Karena ini bisa jadi masalah yang cukup kurang menyenangkan jika suatu ketika kepergok jalan bareng oleh salah seorang santri di pondok ini. Habis sudah riwayat.
Tapi, aku masih merasa aman-aman saja jika yang melihat bukan Abah Kyai sendiri. Hoho

Ha, barangkali dia sudah terbiasa jalan kaki jadi tak merasa capek atau gimana.
Biasanya, cewek itu paling males kalau yang namanya jalan kaki. Capek, Takut kulitnya item atau segala macem. Tapi dia beda, nggak begitu.
Ah, kenapa jadi banyak ngomongin dia?
Bukannya si Anindya, kawan satu kampung pekalongan itu juga jalan?

barangkali itu semua kuibaratkan seperti jalan tempuh menggapai cita-cita.
“Perhaps, I have to be a strong man!”
begitu sambungku dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s