Dekrisasi Hukum dan Keamanan di Pondokku

Posted: 10 April 2013 in Suara Al Amien

Saya menulis begini bukan berarti sok meng-kritik, bukan. Sedikit menyuarakan unek-unek saja meskipun tidak terdengar warga pondok ini.

Adakalanya, saya merasa bahwa semakin hari pondokku ini semakin tidak karuan tingkat hukumnya. Maksud saya, mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Entahlah, saya sendiri bukan pengamat hukum, bisa jadi saya adalah salah satu dari kesekian orang pelanggar hukum. Ah, saya pun ngaku saja dengan sendirinya.

Benar, saya menyebutnya ini adalah dekrisasi hukum di pondok Al Amin. Tentang penurunan kualitas hukum yang berjalan dalam struktur kepemimpinan pondok, dinilai dari yang tadinya “keras dan tegas” menjadi terkesan lemah dan lembut.
Faktor apa?
Menurut saya sendiri sih bisa jadi karena pemimpin pondoknya, atau dalam hal ini lurah yang mempunyai peran penting dalam struktur tatanan kepemrintahan, tak hanya itu , juga pengurus pondok yang perlu juga mengambil sikap.

Ambil contohnya saja. Dulu ketika pemerintahan dalam periode Kang Anu, setiap kali ada santri yang tidak ngaji/subuhan ke masjid lalu bertadris Abah, ia akan mendapati sanksi baca Alquran di parkiran dan di halaman pondok, menghadap gedung santri putri. Walau dulu saat itu saya merupakan salah seorang pelanggannya.
Ini merupakan salah satu bentuk praktik hukum. Sanksi yang jelas. Meskipun ini sederhana, tapi ini bagus dan sifatnya edukatif. Mendapat hukuman Baca Quran setidaknya dapat memberikan motivasi dan dorongan, meski di sisi lain mendapat pahala.

Tapi kenyataan yang terjadi sekarang, lihat saja betapa bobrok nya pemerintahan di bawah Kang Anu. Mungkin beliau masih mengandalkan toleransi sesama, sehingga sangat dirasa belum begitu tegas dalam mengambil tindakan. Nah, dalam kasus ini, kemana departmen Keamanan? Siapa yang bertugas oprak oprak santri untuk bangun subuhan? Bukankah itu tugas mereka?
Performa keamanan pun disini sangat minim.

Memang. Sekarang era nya sudah berubah. Disadari atau tidak, menurut saya periode kepengurusan tahun ini gagal.
Ternyata mimpi-mimpi lebih baik dalam konferensi hanyalah semu.

Dan ini adalah tugas kita semua sebagai santri. Elemen lurah, pengurus, dan seluruh keluarga santri harusnya semangat berubah dari sekarang.
Menuju kepemrintahan yang lebih baik, bijak dan tegas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s