Mengunci Pagi

Posted: 24 April 2013 in Puisi

1

Tak ada yang bisa kubuka
kecuali lorong kosong pada segunduk igau
sisa akar mimpi kuadrat dua tadi malam

pagi menggerayangi kokok ayam
atau alarm ayam yang berefreksi pada tetes-tetes embun

Serebum menguap,
aku yang tak mencium kabut subuh
berkolab diatas sajadah berembun

tungau masih menari-nari pada ketiak mereka
tidak juga aku?
sesekali dipukulinya seperti
secarik kertas diurak-arik
cairan keluar, mata nanar

itu mungkin arti sebuah kekuatan

2
Hitam diatas putih yang beradu
dalam arena perhelatan sandiwara
empat lima jam lagi,
ditabuh
mungkin seperti calung
tapi api
menyuam dalam genggaman tangan

ku
dan
letupannya masih berkibar-kibar

-Purwokerto, April, Kamar Usman 2013-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s