Yang Kembali Terdengar

Posted: 14 May 2013 in Catatan Senja

Aku masih menatap semut-semut malam yang merangkak di dinding kamar. Sesekali kaki-kaki mungilnya berbuky-kupu memancal pilar horizontal itu. Setidaknya aku berpikir dan berimajinasi. Apakah dia merasa senang jika mendegar sajak kehilangan?

Sebagaimana aku yang malam ini terpaut gila gara-gara balita nakal yang aku sendiri kasihan sebanarnya.
Sajak kehilangan itu ruapnya ia bunyikan lagi, ia bacakan lagi, bahkan ia retorikakan di hadapan hidubgku yang kepalang ciut.
Aku takut.
Suaranya membuatku menggigil oleh euphoria duka yang semakin mengikis.
Menetes di ubun-ubun lalu merobek nadi yang sebentar mati.

Palsu? Harapan itu bisa jadi palsu. Karena yang kutahu, sajak kehilangan itu tak kenal ampun.
Hanya doa, sebait puisi, segumpal harapan meski secuil, untuk dapat mengembalikan segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s