Berbahasa, Jangan Hanya Berprinsip “Asal Bisa Dimengerti”

Posted: 22 May 2013 in Essay Sastra
Tags: ,

Anda mencintai bahasa Indonesia? Gunakan dengan baik!

https://i0.wp.com/sydneylanguagesolutions.com.au/blogs/wp-content/uploads/2012/05/bahasa-indonesia2.jpg

Bahasa adalah salah satu syarat mutlak dalam berkomunikasi. Ia menjembatani proses komunikasi antara komunikator dan komunikan. Agar hal-hal yang hendak dikomunikasikan antara keduanya terpahami dengan baik—dengan demikian komunikasi berdaya efektif—maka keduanya harus bisa berbicara dengan bahasa yang sama atau yang mereka saling mengerti. Jika tidak, dijamin komunikasi macet. Atau tampaknya terjadi komunikasi namun komunikasinya gagal mencapai sasaran.

Bahasa komunikasi atau lingua franca kita adalah bahasa Indonesia. Mengacu pada pernyataan di atas (Agar hal-hal yang hendak dikomunikasikan antara keduanya terpahami dengan baik, maka keduanya harus bisa berbicara dengan bahasa yang sama atau saling mengerti), maka setiap orang yang terlibat dalam komunikasi berbahasa Indonesia harus memiliki konsep, pemahaman, pengetahuan atau keterampilan yang sama dari sudut pandang bahasa sebagai sarana komunikasi praktika. Setidaknya dalam hal kosa kata dan tata bahasa yang sangat praktis. Jika tidak, akan terjadi salah paham.

Agar hal yang saya maksudkan menjadi jelas, saya buat contoh. Ketika masuk di sebuah toilet umum saya menemukan tulisan berbunyi: “Yang buang air harap disiram sampai bersih”. Saya kaget membaca tulisan tersebut lalu buru-buru keluar dari toilet karena khawatir disiram air. Dalam hati saya juga menaruh cadangan pemahaman bahwa pastilah yang dimaksud oleh sang pembuat pengumuman adalah agar yang menggunakan toilet menyiram bersih toilet yang ia gunakan.

Jika terjadi seperti arti yang tersirat dalam kalimat tersebut, maka setiap hari bisa terjadi perang di sekitar toilet itu. Sumber persoalan adalah kesembronoan menggunakan bentuk pasif.

Contoh lain, suatu ketika saat saya ikut menangani sebuah majalah,  seorang reporter tergopoh-gopoh datang dan terbata-bata berkata, “Maaf terlambat, Bang! Padahal saya sudah naik bus way. Macet banget! Maaf, ya Bang….!” Dengan santai saya berkata, “Ha? Kau naik di atas bus way? Kok masih bisa selamat sampai di kantor?” Sang reporter terbingung-bingung. “Saya lalu katakan, “Mestinya kau menumpang Transjakarta yang menggunakan bus way”. Dia kembali menjelaskan, “Iya, Bang. Tadi saya naik bus way”. Tampaknya sang reporter belum mengerti juga maksud saya. Saya lalu bilang, “Bus way dan Transjakarta adalah dua hal yang berbeda. Bus way itu sama dengan jalur bus, sedangkan Transjakarta adalah salah satu moda transportasi umum di Jakarta ini. Jadi kalau kau naik bus way, sudah pasti kau tertabrak oleh Transjakarta. Berdiri di tepi jalur itu pun, kau pasti tersambar saat Transjakarta itu lewat sebab badan bus way hanya cukup untuk ukuran badan Transjakarta.”

Sampai di sini, sang reporter yang hitam manis itu tersenyum dan berkata, “Benar juga, ya….?” Tapi dia masih menimpali, “Tapi Abang tahu maksud saya kan? Kan yang penting bisa dimengerti”. Kembali saya berkata, “Kau kan wartawan. Kau harus menyampaikan informasi yang benar, logis dan sesuai tata bahasa. Bagaimana jika orang yang membaca tulisanmu menangkap arti secara berbeda isi tulisanmu, sebab yang kau mengerti berbeda dengan yang pembaca mengerti?” Dia lalu menyelinap masuk ke ruangannya dan segera menranskrip hasil wawancaranya.

Masih ingat ketika di Halimun, Manggarai ditempat beberapa boat? Saat itu ramai istilah water way. “Anehnya”, istilah ini tidak dilekatkan pada boat seperti halnya pada Transjakarta dilekatkan sebutan bus way.

Ketika di desa tempat tinggal saya akan ada pemilihan kepala desa, seperti di tempat-tempat lain diadakan kampanye sebagai ajang penyampaian visi misi calon. Suatu kesempatan kampanye, seorang calon kepala desa, setelah berbicara panjang lebar dengan jabaran visi misi yang agak kabur, sang calon tiba pada bagian mengajak audience untuk memilih dirinya. Kalimatnya begini, “Dari hati yang paling dalam, saya mohon doa dan dukungannya. Jika terpilih nanti, saya akan pasang paving di gang-gang di perumahan ini”.

Ketika tiba hari pencoblosan yang disusul dengan penghitungan suara dan pengumuman, sang calon kalah telak. Saya lalu berkata, “Bapak itu kalah karena salah saat berkampanye.” “Emangnya, dia salah apa, Bang?” tanya seseorang pada saya. Saya menjelaskan, “Perhatikan saja waktu kampanye, dia tidak minta warga memilih dirinya. Perhatikan kalimatnya saat itu, ”Dari hati yang paling dalam saya mohon doa dukungannya. Dia kan tidak minta dukungan warga di sini. Dia hanya menyampaikan berita bahwa dia meminta dukungan seseorang. Perhatikan, dia berkata mohon dukungannya. ‘Nya’ kan pengganti diri ketiga tunggal. Mestinya dia berkata, “Dari hati yang paling dalam, saya mohon doa dukungan Bapak, Ibu dan Saudara, Saudari”. Dengan kalimat ini, benderang bahwa yang dia mintai doa dan dukungan adalah para hadirin, bukan seseorang, entah siapa itu.

Ketika menumpang pesawat Lion Air, saya menemukan tulisan pada bagian punggung kursi penumpang di depan saya yang berbunyi begini, “Mohon dijaga barang-barang bawaan Anda. Kami tidak bertanggungjawab atas kerusakan dan kehilangan”. Ajakan tersebut ditulis dengan huruf kapital semua. Kalimat ini tidak jelas. Siapa yang dijaga? Kalau saja dia menggunakan kalimat, “Mohon menjaga barang-barang bawaan Anda”, sangat jelas siapa menjaga apa.

Nah! Kalau ada orang seperti saya yang agak rewel dengan kalimat-kalimat seperti contoh-contoh semacam di atas, orang selalu mengatakan “Yang penting bisa mengerti maksudnya”. Saya selalu mengatakan, “Yang tertulis, itulah yang dipahami. Hanya kalau orang sudah salah paham semua, mereka bisa mengerti maksud yang tidak jelas. Kita perlu membenahi konsep berbahasa kita. Jika tidak, kita akan mewariskan cara berbahasa yang salah kaprah ini dari generasi ke generasi lalu dianggap sebagai kebenaran. Salah tapi dianggap benar!

Sekali lagi, jika kita benar-benar mencintai bahasa Indonesia kita, mari lakukan pembenahan itu kini dan di sini! Merdeka!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s