Harimau Pagi Yang Bangun Lagi

Posted: 23 May 2013 in Catatan Senja

Tak aman.
Mungkin sekarang aku sudah berani berasumsi demikian. Agaknya bukan hal yang mudah untuk mengelabui biduk-biduk catur yang berjaga-jaga di asrama suci ini. Heran saja, celah-celah yang biasa kucuri-curi masuk kini perlahan tertutup keras. Dan aku harus pandai-pandai bermain strategi itu.

***

Keamanan di pondok ini sudah bangun lagi. Dan ini jelas membuat langkahku semakin terbatas. Apa? Batas? Persetan dengan kata itu! Bukankah sekarang ini aku memang sengaja hidup di tempat terbatas?
Tidur terbatas. Waktu terbatas. Makan terbatas. Dan, well. Semua terbatas kecuali aktivitas berpikirku yang tak terbatas.

Sepertinya sekarang aku harus pandai-pandai berbenah. Tak dapat lagi ikut rapat malam sampai dini hari, karena dampaknya cukup riskan. Pintu gerbang dikunci rapat-rapat. Aku pasti tak dapat masuk. Dan aku bosan jika terus-terus menyelundup melalui celah-celah pintu di depan pondok. Seperti maling. Ah, beginilah santri badung nomer wahid di pondok al-amin, AKU!

Jika bangun telat dan tak mengaji subuh bersama Abah, cukup riskan walau hukuman (takziran) nya sederhana dan mendidik. Tapi memalukan!
Yakni harus membaca satu halaman al quran di lapangan, menghadap ke Utara, tepat mendongak ke asrama putri. Hingga dilihat oleh serombongan santri putri yang tengah sibuk berbelanja sarapan pagi. Cukup parah bagi seorang santri badung macam aku.

Tapi aku punya soulusi sendiri. Niatanku harus kembali ditameng dengan mantap. Inisiatif yang tinggi dan harus bersikap cerdas. Oke oke saja, kalau suatu saat aku galau dan hendak “kabur” sementara dari pondok, bisa jadi akal yang tepat adalah sms petugas keamanan, bilang saja ada tugas kelompok, lalu izin menginap di kosan teman. Konfirmasi usai. Clear, kan?

Atau apabila suatu kala ada rapat di SEF, bisa jadi aku akan menggunakan dalih yang sama. Ada keperluan ini itu, mau ini itu, dan intinya izin ini itu, tidak mungkin tidak diizinkan.

Dan aku pun sadar, aku ini tak ubahnya santri badung yang sungguh bajingan. Ibarat tasbih yang rusak. Tapi setidaknya aku harus mencatat, aku pun tahu aku hitam, namun setidaknya, aku punya jati diri putih yang hanya aku sendiri yang dapat mengoreknya.

Baguslah kalau keamanan kembali jalan. Setidaknya, kasus sepeda hilang seperti milikku kemarin tak akan terulang lagi. Apa? Sepeda hilang? Sejak kapan keamanan pondok ini mengurus sepeda hilang? Who care.

Entahlah, intinya selamat berjaga-jaga kembali keamanan. Semoga kau tak jenuh menghadapi santri-santri yang tak lebih baik dariku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s