Rumah Kecil untuk Orang Kecil

Posted: 29 May 2013 in Puisi
Tags: , , , , ,

Seorang ayah bertanya kepada anak lelakinya
di pagi itu, lantaran semalaman hujan tak karuan
genting-genting, plafon di sudut kamar anaknya
kian deras bocornya hingga menetesi wajah
yang cuek terus pulas,

“nak, kita butuh rumah
maafkanlah ayah, belum sampai memberi rumah
nak, apa kau tak malu kepada kawanmu
sebab rumah kita belum megah?”

lelaki remaja itu menjawab biasa-biasa saja
ataukah ia tengah menghibur hati ayahnya
“rumah kita adalah dimana ayah dan ibu
bersatu disitu, dimana aku bisa pulang
memanggil-manggil ‘ayah… Ibu… Dimana?’
rumah kita adalah dimana ayah dan ibu
kuciumi tangannya di saat aku pamit pergi dan pulang kembali….”

tahu haru sang ayah, anak perempuannya yang juga beranjak remaja turut bicara
“janganlah ayah berpusing dengan rumah.
Bukankah rumah kita ada di dalam hati?
Tatkala ayah dan ibu selalu hadir
hati senantiasa berdesir
oleh kasih sayang yang abadi mengalir”

ibu pun tak mau menangis, bahkan senyumannya
tak mampu dilukiskan para pelukis
ibu pun membisikkan sebait tanka yang manis

“rumah kecil untuk orang kecil
tapi tubuhmu tidak kerdil
tapi jiwa jantanmu begitu menggigil
aku di pertiga malam bunga kantil”

November, 2007
(Abdul Wachid BS, “kepayang”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s