Tersengat Kalimat di Toko Buku Gramedia

Posted: 7 July 2013 in Catatan Senja
Tags: , , ,

buku-ojo

Aku sehabis pulang dari toko buku senja ini. tadinya aku kesana karena berniat menemani mas Agus, menghibur diri, cuma sekedar numpang baca-baca. Aku tahu, kondisi dompet yang memang lagi kempes ini tidak memungkinkan Aku untuk membeli buku di toko itu, meskipun hanya satu buah. Ya, memang, kau tahu sendiri kan kawan? Gramedia ini pusatnya buku-buku berkualitas. Dan disini harganya pun tentu bukan layaknya harga kelas buku loakan atau kelas buku pameran. Ah, tak apa. Meski sekedar mampir-mampir baca. Setidaknya bisa tahu apa saja buku-buku keren yang tengah meledak di pasaran Indonesia. Lagipula, Aku memang dari awal hanya berniat menemani mas Agus yang katanya kebelet sekali ingin bermain baca-baca ke toko yang berlokasi di Sriratu itu. dan ia pun sama rupanya, hanya berniat mampir baca, mondar mandir mengelilingi deretan buku. Manakala aku mendapati buku keren, melihat covernya, dan membaca satu dua halamannya, dalam hati aku terus bergumam,

‘Ini buku keren. Aku ingin membeli. Tapi tak punya uang!’.

Berjalan mengelilingi stan Sastra dan Fiksi Pilihan, aku kembali bergumam, ‘Ini novel keren. Aku ingin membeli. Tapi tak punya uang!’

Aku hanya bisa ‘ngiler’ karena gemas sekali manakala di depan mata ada buku bagus, rupanya dompet yang menghalangiku.Ah, aku yakin pasti mas Agus juga bergumam begitu.

Ketika aku sampai pada stand sastra, aku melihat deretan buku karya Dewi Lestari disana. Kumpulan novelnya berjajar rapih. Sebut saja yang sekarang memang tengah meledak dan ramai diperbicangkan kaum remaja tanah air, ada ‘Perahu Kertas’, ‘Rectoverso’, trilogi Ksatria Bintang Jatuh, ‘Akar’, ‘Petir’, ‘Partikel’ dan lain-lain. Sekali lagi, aku hanya bisa menelan ludah karena tak sanggup membeli buku-buku itu. kulirik dompet,

“sial!”.

Oke, tak apa. Untuk mengobati rasa penasaran, kusamber satu buah buku dari rak itu. sengaja kuambil dari sampelnya yang tidak disegel. ‘Akar’. Aku baca sekilas. Terkesan dengan gaya bahasa Dee. penulis wanita ini memang luar biasa! Jujur, semenjak nonton ‘Perahu Kertas’ ‘Rectoverso’ atau bahkan dengan cerpen ‘Malaikat Juga Tahu’ yang sampai sekarang terus kuhapal soundtracknya, aku terkesima dengan Dee. atau semenjak membaca ‘Filosofi kopi’ nya. Untaian bahasanya menusuk dengan ending yang sulit diterka. Prosanya fantastis dan, romantis!
Hingga tanpa sengaja aku membuka halaman terakhir di buku seharga 50ribuan itu. Sebelum bab Profil penulis, aku menemukan satu slogan, atau poster, atau kata mutiara atau apalah aku kurang tahu, intinya persuasi. Dan aku terkejut sekali setelah membacanya. Aku gemetar, tersindir. Wah! Ini fakta dan luar biasa menusukknya!
Bunyinya begini…

Tahukah Kamu?
Did you know?
Nyaho teu?
Dibotohodo ?
PEMINJAM BUKU LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBAJAKAN!
Survei membuktikan, seorang pemilik buku di Indonesia rata-rata meminjamkan bukunya ke empat orang. Ambil saja contoh simplenya, Apabila satu judul buku dicetak 1000 kopi, maka akan ada 4000 peminjam buku dan angka ini bisa jadi lebih besar dan lebih cepat daripada kemampuan pembajak yang setidaknya masih membutuhkan modal untuk beli bahan baku,biaya cetak, dan sebagainya. Ini berarti
PEMINJAM BUKU BAJAKAN LEBIH KEJAM LAGI!
Karena merekalah yang paling tidak ngemodal, alias bondo nekat (bonek). Namun, diatas segalanya, tidak ada yang lebih kejam dari
PEMINJAM BUKU YANG TIDAK DIKEMBALIKAN!
Apabila kita ingin memajukan perindustrian buku Indonesia, termasuk meningkatkan apresiasi kita terhadap karya tulis anak bangsa, marilah kita coba untuk mulai membeli dan tidak meminjam. Berhenti membajak, terlebih lagi meminjam buku bajakan.
***
Dan tidakkah kamu tahu? Aku berada dalam situasi ‘b’ saat ini!
‘Tuhan, betapa kejamnya aku!’

Comments
  1. siisni says:

    mas, brarti orang yang tidak punya duit untuk beli buku menjadi kejam disaat dia hanya bisa pinjam buku? benar-benar pada akhirnya yang punya uang saja yang akan jadi baik dan mendapatkan informasi lebih… serius saya gak setuju dengan slogan slogan ala bukunya dewi lestari itu.

    • Rifan Yusuf says:

      well, itu bukan kata2 Dee. kayaknya persuasi penerbit saja. memang terdengar begitu frontal dan menusuk, terutama bagi saya sendiri orang yang gemar sekali meminjam buku karena tak sanggup membeli sendiri buku..hohoho.. ambil positifnya aja. lagipula, meminjam buku itu sama halnya transfering knowledge kan, masalah buku itu bajakan atau nggak, yang penting kita sudah melestarikan budaya membaca.
      ngomong2 terimakasih sudah bersedia mampir neng😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s