MEMOAR BADAK

Posted: 8 July 2013 in Catatan Senja

            080720132436-1

Mengunjungi dukuhnya memang suatu hal yang kucita-citakan sejak aku di tanah Kesesi. Dari dulu memang aku sempat terpikat saat ia bercerita-cerita tentang dukuhnya yang gemeh ripeh lih jinawi itu. sempat terbayang keindahan alam di desanya. jujur saja, saat kawan-kawanku dulu seperti Limin, Azzin, atau Ahmad bertandang ke rumahnya sementara aku tak bisa ikut, aku menyesal sekali. Karena aku yakin, banyak sekali hal-hal unik yang ada di kampungnya, namun tak ada di kampungku. Dan hari ini, Tuhan akhirnya mengijinkaku untuk sejenak bertandang ke dukuhnya yang asri itu. meskipun pemandangan itu teramat jauh berbeda dibanding beberapa tahun yang lalu.  well, hanya sejenak. Hanya sekejap. Bagiku tadi memang terlalu singkat dan cepat. Sesingkat mengedipkan mata, secepat angin kentut menyebar ke penjuru kamar.

Sebenarnya, kalau boleh kukatakan, tadi itu hanyalah mampir ‘ngombe’ saja ke rumahnya yang dikelilingi kabut alami itu, Dukuh Pete. dan kemudian, kalau boleh kukatakan lagi, aku merasa ada yang kurang dengan kunjungan perdanaku itu. Karena aku belum sepenuhnya diberi kesempatan Tuhan untuk menjelajahi ke seluruh penjuru dukuhnya yang ruas-ruas jalannya berliku dan berlobang-lobang selebar kolam renang. tapi tak apa, kawan. Meskipun aku tak memiliki kesan spesial, meskipun aku belum sempat jalan-jalan ke curug Pitu, paling tidak, bisa berceloteh dan berbagi kabar tentangnya adalah hal yang menarik, kawan.

‘Ada yang beda denganmu!’ aku bergumam demikian.

Tentu saja. dan ia pun pasti akan bergumam demikian tentangku.

‘tapi kau masih tetap hebat, kawan!’

Tentu saja. ia memilih jalan yang tepat, jalan dimana orang-orang masih jarang sekali menapakinya, jalan menuju ridho Allah. Well, aku cukup terkejut saat kutahu ternyata ia masih haus ilmu, ia masih tetap setia ‘nyantri’ rupanya, sebagaimana hari-harinya yang lalu. Hal yang membuatku terus menganga lagi, sekarang, ia rupanya adalah santrinya Mbah Maimun Sarang!

Aku salut sekali dengan keluarganya. meskipun sederhana, orangtuanya selalu memiliki prinsip yang teguh dalam mendidik putra-putrinya. Sebut saja Mif, kawanku yang unik ini yang paling hebat. 3 tahun nyantri di Kesesi sambil sekolah di MTs, tempat kami saling mengenal dan saling gila-gilaan. Maf, sekarang mondok di Pati sembari bersekolah SMA. Muf.

aku hanya bisa geleng-geleng kepala saat berbincang di ruang tamu itu. dialeknya sudah khas wetan-an. Logat ‘ngapak’ nya benar-benar sudah sirna. Pantas saja, agaknya ia memang terlalu lama tinggal di daerah-daerah berlogat wetan. Dulu Pati, sekarang Sarang. pantas saja ia sampai menamai akun facebooknya ‘Ojo Ngono’.

Di ruang tamu itu, aku sendiri yang malah bereksplorasi banyak tentang kabarnya. Tentang pondok di sarang seperti apa, ngajinya kitab apa saja, atau sesekali bernostalgia saat kami dulu menuntut ilmu bersama dan gila-gilaan di Pondok Assamiany, pondok pertama kami yang dulu diasuh ustad Hamzah.

“Qil, kapan ke dolan ke Pekalongan? Berapa kali kau sowan ke Pak Kyai hamzah?” aku menyeletuk. Ia

‘belum pernah. Rencana malah lebaran ini, kawan. Wah, bayangkan nyong malah hampir lima tahun ndak sowan kesana. “

Lalu kami bercerita-cerita soal kegemaran kami.

Hingga aku mulai pada pengakuanku.

“Qil, you know what? Saiki ki nyong dadi bocah gemblung tili. Santri po’o ki yo tetep wae rusak kyo ngene. Terkontaminasi dunia luar! Hehehe ” kataku terkekeh.

Dan ia hanya ketawa mendengar jawabanku itu.

Bagaimana dengan kang Agus? Ah, aku sendiri yang jadi pakiwo sama orang ini . Aku sendiri memang yang mengajaknya untuk bertandang ke rumahnya. dia pun yang agaknya memang antusias untuk ‘bepergian’. Entah karena konsepnya ‘daripada nganggur di pondok’ atau gimana.  Aku yakin dalam bayangannya mungkin kunjungan ini bakal menyenangkan. Tapi sepertinya kunjungan ini malah lebih terkesan pribadi. Ia belum mengenalnya, dan ia pun sama-sama hanya diam saja di kediamannya itu, mendengarkan celotehku. Padahal aku memang sudah berusaha memancingnya untuk nimbrung ke perbincangan, mulai dari basa-basi atau trik kikak-kikuk.

‘kenalkan, ini yang mengantarkan saya penulis kenamaan! Sudah nulis banyak buku lhoh. Kayak sampean, penggemare Andrea Hirata’

Hingga bla-bla-bla. Kukira ia, sebagai seorang calon sarjana Komunikasi, tahu sikon. bisa nimbrung celoteh, ora ketang kepa-kepo biar rame sedikit. Namun seperti itu rupanya, kang Agus tetap tak bersuara. Hanya mesem sesaat. tapi itu tak jadi soal, yang penting aku sudah memancingnya ikut cuap-cuap, yang penting hajatku silaturahim ke dukuhnya itu kelakon.

Rencana awal, aku memang hendak menginap semalam saja di kediamannya. Biar aku pagi-pagi buta bisa menikmati keindahan Alam Dukuhpete yang rindang. Atau menikmati sunrise, pergi ke curug. Oleh sebab itulah mengapa kami berjaga-jaga membawa kamera digital segala. Siapa tahu ada pemandangn unik yang dapat kami jepret, untuk dijadikan kenang-kenangan. Itu memang rencana awal, dan aku sudah mengatakannya duluan padanya, ia pun dengan senang hati meresponnya.

“jangankan sehari, seminggu disini pun tak jadi soal, kawan” aku masih ingat begitu jawabannya.

Ah, it’s just a plan. Manusia memang bisa merencanakan, dan hanya Allah yang menentukan. Saat aku tengah tertidur di sofa ruang tamu itu, aku tiba-tiba dibangunkan kang Agus.

‘bangun, fan! Iki tok woco’nen!’

Aku belum seratus persen sadar. Mataku kunang-kunang, tak henti kukucek. Kang Agus menyodoriku handphonenya. Aku disuruh membaca berita di hp itu. isinya menyatakan kalau puasa jatuh tepat Selasa besok.

“Yuh balik siki bae! Aku khawatir mbok besok kecape’an kalo siang-siang balik ke pwt” Kang Agus merengek, menambahkan. Aku bangun, solat Ashar. Lalu tepat kurang lebih pukul lima, aku tiba-tiba dengan wajah ‘pakiwo’ , pamit padanya, ibu dan bapaknya.

080720132445

Satu hal, berjumpa kawan lama sepertinya adalah hal yang menyenangkan. Aku berasa seperti menyanyikan kembali lagu-lagu lama. Saat dimana aku lupa liriknya, ia datang dan mengingat-ingatkan aku akan lirik itu. Semoga kapan-kapan aku bisa kembali lagi bertandang ke dukuhpete, dengan cerita yang berbeda.

Semoga sukses menuntut ilmu, kawan.

Jangan pernah jadi santri yang ‘failed product’ sepertiku, Qil. Hahaha!

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s