Kesan Terakhir

Posted: 15 July 2013 in Catatan Senja

Kesan pertama sungguh menggoda, selanjutnya terserah Anda!

Hari ini perjalananku telah sampai pada detik-detik terakhir menikmati puasa di kota Purwokerto. Rencanaku sudah bulat-bulat untuk pulang Pekalongan esok hari. Dan, sengaja, hari ini kunikmati momen terakhir bersama kawan-kawan SEF dengan kebersamaan yang jarang kudapatkan di organisasi kampus manapun.

Awalnya, aku memang sudah meng-agendakan untuk pulang kampung hari ini. Namun karena saat dini hari waktu sahur, aku mendapati sms dari Miss Agnes, aku menundanya. Isi sms itu mengundang para organizers untuk datang buka bersama di rumahnya Mba Ama. Mungkin, dalihku, ini sekaligus momen merayakan ulang tahunnya yang ke -entah aku tak tahu- itu. Tepat sekali, aku langsung mengiyakan untuk datang, dan secara simpel berarti aku menunda lagi planning ku ke Pekalongan.

Senja hari sekitar pukul 5, semua organizers berkumpul di HOS, sekre tercinta kami yang sudah seperti rumah kami. Sekitar belasan kawan-kawan SEF ini mulai ramai membagi jatah transportasi. Berpasang-pasang. Meski tak ada kendaraan bermotor, aku tak menganggap semua susah. Karena disini arti kebersamaan dan solidaritas itu tumbuh dan berkembang dari jiwa. Tebengan tentu saja ada bagi siapapun yang menjadi bagian dalam organisasi ini, termasuk aku.

Mba nida, Ita, Mas Lukman, Yunas, Tya, Andri, Sahrin, mba Ira, mas Andiyanto, kak nizar, mba Nadya, mas anom –yang pacarnya- tentu saja,  bahkan kak Doni yang nonis pun ikut menikmati acara ini. Kami begitu suka cita menikmati momen ngabuburit ini. .

Sholat berjamaah kala itu diimami mas Lukman. Dia, agaknya sudah menjadi profil sentral dalam hal-hal yang berbau islami di organisasi ini. Selain bahasa inggrisnya fasih, bacaan qurannya juga fasih. Suaranya merdu mengalun saat membaca surat-surat di rokaat-rokaat sholat setelah fatihah. Maklum, dia lulusan pesantren juga. beruntung sekali aku bisa belajar banyak hal darinya. Karena kami satu departmen di Education, tentu saja keakraban itu sudah terjalin begitu solid.

“nanti terawih giliran kamu yah yang jadi imam, Fan” Mas Lukman langsung main tembak dengan tawaran itu saat aku dalam santapan buka puasa.

“Oh, jangan lah mas, yang lain yang lebih tua juga masih banyak kok. Saya mempesilahkan mereka” jawabku sekenanya. Basa-basi. Menolak secara halus.

Nah, ini dia masalahnya. Aku sadar sekali dengan identitasku sebagai anak pesantren. dan orang-orang ini, mereka juga jelas tahu bagaimana background-ku seperti apa. dan untuk acara-acara religi semacam ini, pandangan mata mereka selalu tertuju padaku. Untuk menjadi imam, menjadi seorang pemimpin tausyah, atau apapun. tapi aku selalu mengelak akan hal itu. aku tak mau menjadi tumpuan. Karena aku sadar pada dasarnya aku ini bodoh. Walau kadang disisi lain aku kerap kali menangis,

“Duh, mengapa aku masih saja gemar bertindak bodoh? Bukankah aku anak pesantren? bukankah aku lulusan madrasah Aliyah terbesar di Pekalongan? Bukankah aku anak seorang …? “

Ah. Entahlah. Aku terlalu sedih kalau mengungkit-ungkit masalah backgroundku. Ah, entahlah. Barangkali aku belum menemukan sosok jati diriku yang sebenarnya. Hingga aku senang bertindak bodoh. Tapi kukira, itu tak menjadi masalah besar ketika aku tinggal satu majlis bersama forum itu. memangnya Cuma aku doang yang santri? Disana masih ada mas Anang, mas Lukman, atau mungkin mas Sahrin yang mereka semua ilmunya lebih tinggi dari aku.

Mas lukman pulang duluan. Ia tak bisa mengikuti acara terawih bersama kami di kediaman mba Ama. Katanya, ia ada undangan menjadi imam terawih di masjid mana aku kurang tahu. Duh, luar biasa sekali dia. Dia memang layak menjadi ustadz nya SEF. Selain gayanya yang memang khas, lucu, dan friendly. Dia menjadi sosok organizer yang berskill mahal.

Lagi, setelah mas Lukman, rupanya mas Anang pun menunjuk-nunjuk aku agar menjadi imam solat terawih. Aku menyerah lagi.

“njenengan mawon, mas. “ jawabku terkekeh.

“yasudah. Saya yang jadi bilal deh sama muadzin.” tambahku mengalah. jujur, itu sebuah penolakan yang sama halnya seperti pembodohan!

***

malam ini juga bisa menjadi kali ke-dua aku sholat terawih jamaah 12 rokaat. Singkat dan cepat sekali. tunggu dulu! bukankah ini amalan orang Muhammadiyah? tidakkah aku orang Ahlussunah? orang NU? atau orang Rifa’iyyah?

Entahlah. aku tak begitu menganggap itu sebagai masalah serius. perkara terawih 23 atau 12, soal ganjaran itu hanya Allah Tahu. Aku memang hidup di lingkungan keluarga Ahlussunah, sekolah di madrasahny orang NU, dan disana, aku sudah belajar banyak soal teori dan dalail perdebatan Tahlil, Sunah, Talqin, Sholat Terawih 20 atau 12, dan lain-lain bersama Pak Syafiq. dan dulu, aku masih ingat betapa beliau begitu fanatik menyebut-nyebut Muhammadiyah sebagai golongan yang ini itu. Sudah. aku berada di lingkungan dimana aku harus membuka cakrawalaku. aku harus tahu diri. hilangkan ego. menjadi sok pemimpin? Hey! memimpin diri saja masih belum becus. meluruskan diri saja masih kepuntal-puntal, mau meluruskan orang lain? pikir donk!

Jelas. Clear. itu semua memberiku banyak pelajaran

***

Lampu dimatikan. Seluruh ruangan gelap. lalu dari pojokan pintu, 3 orang membawa 3 kado kecil berlilin merah yang hanya menjadi penerang di ruangan itu. lalu serempak,

“happy birthday to you!

happy birthday to you!

happy birthday to you! “

Senyum mba Ama mengembang. Mas Nizar. juga mas Anom. Ultah mereka langsung dirayakan bersama-sama di kesempatan yang penuh suka cita itu.

Wish Them All The Best!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s