Puasaku, Panen Ganjaran, Hemat Pengeluaran

Posted: 15 July 2013 in Catatan Senja

ramadhan

Waktu memang selalu saja mempunyai cara untuk berlari. Dan aku selalu mempunyai caraku sendiri bagaimana berlari bersama waktu. Selama bulan puasa, aku memang sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk giat menulis. Seolah ini menjadi aktifitas berkalaku saat puasa, disamping tadarrus, sholat tarawih, ngaji bersama Abah, menonton movie saat menanti sahur, atau sesekali chek notifikasi di akun facebook-ku. Paling tidak, ada kurang lebih 1000 kata yang bisa kutulis dalam sehari. Ehm, masih dalam tahap sederhana memang, Walau belum pada tahap mengarang fiksi. aku malah lebih suka mengutip kehidupanku sendiri. melukis momen yang meski orang bilang momen itu tak unik, tapi unik bagiku. Aku memang sudah berkali-kali ditantang dan ditagih kawanku yang seorang penulis untuk menulis sastra, tapi dengan jawaban yang kuulang-ulang, aku selalu berkata, ‘Ah, nanti dulu. Aku sedang belajar menulis dan melukis tentang hidupku sendiri’. and well, Blog inilah pelampiasannya.

Tepat terhitung sejak 10 Juli, berarti Senin ini adalah hari ke-lima aku puasa disini, Kampung Pabuwaran. Bersama kawan-kawanku satu Al-Amin, aku merasakan ramadhan ini begitu menyenangkan, dalam balutan kesan ramadhan yang damai, Sederhana. Dan tentu saja, penuh sukacita.

Penduduk Al Amin banyak yang masih setia tinggal disini, walau sebagian ada yang sudah pulang kampung duluan. Akan menjadi kesan tersendiri saat menikmati Romadhon dengan sentuhan kalbu Abah, Sholawat dan tadarrus berjamaah di Baitul Muttaqin, ngaji pasaran, atau sesekali bergurau ria sembari menunggu buka puasa tiba dengan tausyah Abah. Dan kami senang akan hal itu. momen spesial yang hanya ada di bulan istimewa seperti ini.
Well, sampai sekarang aku masih tetap disini, Purwokerto. Tidakkah aku rindu kampung halaman? Ah, pertanyaan yang tak butuh jawaban dan penjelasan yang panjang-panjang. “tentu saja aku rindu. Sangat rindu”. Aku rindu baitul Muttaqin pertamaku yang ada dirumah. Aku rindu familiku. Aku rindu semuanya! Dan aku sudah berencana. Besok, impianku bertandang ke Pekalongan harus terlaksana. Awalnya hari ini aku berniat pulang, namun karena ada undangan buka bersama bareng organizers SEF, terpaksa rencana pulkam kutunda. Tapi ini tak jadi soal, semoga kesan buber itu menjadi momen terakhirku menikmati indahnya kebersamaan Ramadhan di kota ini.

Yang bisa kurasakan, Ramadhan di Al Amin adalah ramadhan yang penuh berkah. Rupanya aku masih betah hingga puasa ke-lima ini . Bulan puasa memang bulannya panen pahala, ketika amalan sunnah berubah derajat pahalanya menjadi pahala ibadah fardhu bilamana kita mengerjakannya. Sholat terawih, tadarrus Quran, Sholat tahajjud atau amalan lain. Deretan amalan yang sangat sia-sia bilamana ditinggalkan begitu saja.

Disamping panen pahala, aku bisa berujar sendiri dalam hati kalau menjalani puasa disini penuh limpahan Rizki. Entah aku sendiri juga kurang tahu, barangkali Alloh memang sengaja memberi kami rizki agar senantiasa disyukuri. Dia lah Sang Maha Pemberi Rizki. Dan aku mensyukuri ini semua. Bagaimana tidak? Disaat hari-hari biasa aku bahkan menghabiskan biaya hidup untuk makan saja sampai 10ribu/hari, sekarang, di bulan puasa seperti ini, Aku hanya cukup mengeluarkan Rp.3.000/hari untuk sahur saja. masalah buka, aku tak begitu ambil pusing. Karena saat buka puasa, warga sekitar Kampung Pabuwaran sudah menyediakannya untuk para shoimiin di masjid, termasuk para santri yang mengaji disana bersama abah. Jadi tak ada istilah buka di warung, karena kami pada hakikatnya memang sudah diberi kemudahan akan hal itu, sederehana, tapi itu penuh makna. Dan kami terus berharap, semoga warga yang ikhlas memberi rizki bagi Shoimin itu mendapat ganjaran yang berlipat-lipat. Bukankah surga rindu dengan orang-orang pemberi buka para Shooimiin? Amin.

Selain itu, aku beruntung lagi. Dengan satu kamar bersama Kang Chayun rupanya membuat segalanya menjadi lebih simpel. Untuk perkara sahur saja misalnya. Aku tak perlu repot-repot pergi ke warung tengah seperti santri-santri lain. Kang Chayun, yang sudah kuanggap sebagai tetua di kamarku itu, sudah menyiapkan aku dan beberapa penghuni kamar Sunan Giri lainnya beberapa cepon nasi. Dini hari sekitar pukul 2, dia sudah bangun awal. Menanak nasi pada sebuah magic jar yang katanya dia temukan saat khataman. Entah aku kurang tahu cerita lengkapnya soal magic jar yang hampir satu bulan itu berpenghuni di kamar kami, Kamar Sunan Giri. Otomatis, keberadaan mesin penanak itu membuat waktu sahur menjadi lebih simpel, lebih murah dan tentu saja, Hemat pengeluaran.

Orang-orang seperti Aku, Suryadi, Mas Anam, atau Kukuh, hanya butuh iuran bareng-bareng untuk membeli lauk-pauk di warung tengah. Dan itu bukan perkara susah. Secara tidak langsung, kang Chayun sudah membantu kami. Disaat harga sepiring nasi rames di warung tengah sekarang melambung tinggi hingga 5000/piring, menanak nasi sendiri adalah pilihan yang tepat dan hemat. dan kamar kami menjadi kamar kedua yang mempunyai ‘makan sahur gratis’ setelah kamar lantai 3. Bahkan, Mudrik atau sesekali mas Ongko, penghuni ex-kamar Usman yang dulu pernah menjadi tempat pertama pijakanku di Al Amin itu, kamar yang pertama kali menjadi tempat tidur pertamaku itu, mereka gemar sekali bertandang ke kamar kami, kamar Sunan Giri. Ikut sahur bareng bersama mas Chayun dan kami. Kebersamaan itu sudah layaknya kekeluargaan yang menjadi benih di Kamar kita bersama.

Sekali lagi, penghuni kamar Sunan Giri seperti aku memang sudah sepatutnya bersyukur mempunyai orang macam kang Chayun. Kukira, awalnya aku kurang begitu ‘sreg’ saat aku tiba-tiba ditempatkan satu kamar bersama kang Chayun. Entah karena senioritas atau apa aku kurang mafhum. Aku masih saja belum bisa merelakan kebersmaan Kamar Usman yang dulu pernah kurajut, tapi tiba-tiba pupus semenjak adanya perombakan. Namun sekarang akhirnya betah juga di kamar baru itu. kukira orang macam kang Chayun gemar berlaku keras dengan junior macam aku, tapi tidak juga. asalakan aku memang ikut grumungan dengannya, selama aku tak berbuat kesalahan, mengapa aku harus takut? Menjadikannya sebagai kawan tidak cukup berat meski terkadang aku dihadapkan pada perbincangan yang aku kurang mengerti. Ah benar, aku memang sudah sepatutnya akrab dengan siapapun.

Keberuntunganku rupanya ada pada sisi yang lain lagi, ini bicara soal kebersamaan juga. selain kang Chayun, orang kedua yang sekamar denganku, yang sudah sepatutnya aku berterimakasih kepadanya adalah Suryadi. Bocah kocak asli Cilacap ini diam-diam menjadi alasanku mengapa aku bisa bertahan menulis. orang humoris macam dia sudah berlaku teramat baik padaku karena sudah ‘melepas’ begitu saja netbook-nya. Bukan berarti ia jual, meski aku pernah menawar namun ditolaknya. ia hanya memberi kebebasan bagi siapapun untuk memakai netboknya, termasuk aku. Dari kamar yang satu ke kamar yang lain, disentuh dan dijamah dari jari satu ke jari yang lain. Seolah menjadi ‘inventaris bersama’. Aku juga heran sekali, tidakkah ia merasa khawatir jika netbooknya itu rusak? Tidakkah ia merasa cemas kalau pada suatu saat kejadian jahat menimpa? Tapi begitulah ia. Seolah tidak peduli dengan netbook yang katanya kepunyaan kakaknya itu. Sudahlah, kukira itu lebih baik daripada hidup di pondok tapi bersikap ‘casdi’. Tapi, begitu juga aku. Aku juga harus menggaris bawahi, sebagai seorang peminjam, aku sudah memiliki kewajiban untuk bisa merawatnya juga. entah, sudah berapa ribu kata yang kutulis lewat netbook ini –yang sedang kupakai untuk menulis kisah ini. Sudah berapa puluh film yang sudah kutonton lewat layar netbook ini. Sudah berapa puluh tugas yang kukerjakan lewat netbook ini. Sudah berapa puluh Giga dokumen-dokumen yang kutitipkan di netbook ini. Tak terhitung. Tapi aku juga yakin, tak hanya aku yang harus berterimakasih pada Suryadi, namun semua penduduk pondok tiga lantai ini yang merasa pernah menyentuhkan jemarinya diatas netbook yang suka error saat proses booting ini. We’ll. Itulah arti penting sebuah kebersamaan, dan kesederhanaan.

Terima kasih Ya Allah. Engkau masih memberikan hamba kesempatan untuk menikmati bulan istimewa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s