Just Silence

Posted: 27 January 2014 in Catatan Senja

348133569_1377196621

Gemuruh apalagi yang harus kudengar, bila begini saja adalah kebisingan. Tanahku masih saja basah, sebagaimana harapan lama yang kusimpan sedari aku belum mengenal bumi ini. Harapan lama yang masih terkubur dalam-dalam, entah kapan aku akan membukanya. Mungkin nanti saja, sesudah aku mengenal siapa aku, siapa kamu, dan bagaimana aku harus seharusnya padamu.

Bahkan aku lupa, aku lupa kapan terakhir mendengar suaramu. Duh, bahkan aku terlalu munafik menganggap ini sebagai rindu. Rindu macam apa ya? entahlah aku tak tahu. Dan kamu pun seharusnya, ohm tidak, maksudku, kamu seharusnya tidak berkewajiban menitipkan rindu pada hujan, lalu meniupkan rindu itu padaku.

Setidaknya kamu cukup tahu saja, kalau rindu dalam diri ini kian gersang.

Lalu mengapa aku masih menganggap ini masih sunyi? sementara di luar riuh sekali. Aku mendengar deru hujan yang berkibar-kibar. Aku merasakan gempa bumi yang bergetar-getar, menggegerkan seisi kampungku. ya, tetap saja ini namanya sunyi bagiku sendiri. Aku suka seperti ini. Aku senang dengan hal ini.

dan,

aku sakit menjadi seperti ini.

Cukuplah catatan senja ini memantulkan hujan yang tiada henti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s