Desperately Hope

Posted: 16 April 2014 in Catatan Senja, Cerpen, Entittled Note, Puisi
Tags: ,

I Used toKali ini aku hanya bisa menatap langit-langit basah. Sesekali menghitung daun-daun kenanga yang kian memudar ritus manisnya. Ia kembali jatuh, sebagaimana aku senja ini.

Bukankah aku adalah orang sudah sekian Dengan alunan dan sakitnya, dengan gundah senja yang sampai saat ini rupanya masih saja membekas, memberingas dan mengupas satu demi satu ingatan masa lalu.

Aku hanya bisa berteriak, “Sesal itu.. hanya ada saat aku memahami langkah salah jalan ini.” Aku kembali merenung, bersama dendang jangkrik di semak-semak,

“Ceritamu itu, tak pantas kubagi”

Kembalilah aku pada sajadah subuh, seharusnya memang begitu. Bukan melulu pada sinar lampu temaram yang menyilaukan kacamata minusku.

Luar binasa, disaat-saat gerhana seperti ini, bulan di hati tak mau diajak berkisah. Ia terlalu sibuk didunia yang lain. wajar saja, kalau aku pergi karena takut menemuinya, khawatir ditamparnya, dan…Seharusnya mereka tak perlu menganggap kalau ada aku disana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s