Goes to Kampus ISI: “Jogja? Sehari mana cukup?”

Posted: 9 May 2014 in My Journey, My Life
Tags: , , , ,

Sasindo unsoed 2012Sehari setelah Ujian Mid semester usai, kami kawan-kawan Sastra Indonesia Unsoed 2012 berniat untuk sejenak refreshing atau jalan-jalan atau hang out atau apalah istilah gaoel nya, tapi mereka bilang trip itu dinamakan Studi Banding. dan tahukah kamu kawan kemana tujuannya? betapa waktu itu saya sangat bersemangat manakala usulan dari ketua kelas mengajak berkunjung ke Jogjakarta!

Jogja, kota paling ngangenin sedunia. jadi, entah kemanapun tujuannya, saya sudah pasti sangat antusias untuk menikmati perjalanan itu. Sudah pasti sangat bergairah untuk menikmati kota dengan sejuta budaya itu.

Menjelajahi kota Pelajar sudah barang tentu mengasyikkan. Begitu pikirku.

Rupanya kabar itu datang, saya kala itu hanya mengangguk-angguk ikut saja saat usulan Studi Banding ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta disepakati. Oh, bukan disepakati juga sih sebenarnya, tapi ditawarkan. Wildan, sang ketua kelas sengaja memilih lokasi itu katanya agar bisa sharing bersama budayawan-budayawan Jogja. Terlebih, sebulan kedepan kami akan mengadakan pentas Dramaturgi, diantara tujuan lain memang berguru ilmu soal drama di kampus sejuta seni itu.

Oke, ISI. Saya memang belum pernah kesana sebelumnya, toh alih-alih ikut, yang jelas ada Jogja disana. Yang jelas saya bisa kembali menikmati keramaian Malioboro, Pantai Indrayanti, Candi Borobudur, dan sebagainya. itu yang membuatku nekat mengeluarkan kocek Rp.65.000 untuk berangkat dengan Bus Unsoed. Setidaknya, saya bisa terbayar dengan keindahan alam jogja meskipun saat itu budget di saku lagi limited banget.

***

Bus datang, kami sekitar 23 orang, kawan-kawan satu jurusanku di Sasindo, datang berkumpul di PKM. Beberapa dari mereka campur-campur dari berbagai divisi, namun kebanyakan adalah para aktor yang nanti akan pentas “Pagi Bening” dan “Bingkisan Istimewa”. Untuk anak-anak Manajemen produksi seperti saya, hanya beberapa saja yang ikut. Dibilang kompak nggak kompak sih, soalnya sosialisasinya kurang. dan, bus unsoed memang hanya terbatas 25 slot.

ISISesampainya disana istirahat, makan dan sebagainya selesai pukul 7. Kami baru turun ke kampus Institut Seni Jogjakarta pukul 8, dan saya pribadi dibuat tercengang, atau mungkin saja mereka kawan-kawanku yang lain,

“kok masih sepi?”

“nggak ada apa-apa?”

“lengang?”

“Terus mau ngapain? Ini gimana selanjutnya?”

Dalam benak saya ketika turun, saya langsung beranggapan kalau trip ini bakal sangat menyenangkan.

Saya dapat menikmati pameran-pameran kerajinan tangan mahasiwa-mahasiswa kreatif ISI, saya bisa menikmati pementasan Budaya Jawa yang indah, saya bisa melihat-lihat lukisan-lukisan, patung, arsitektur, lagu, tari dan lain-lainnya.

Dan karena waktu itu yang saya lihat hanya pohon besar rindang, dan pemandangan kawan-kawan yang lain yang asik foto ‘selfie’ di taman, di ‘bus’, ya sudah, saya langsung desperate. Entah harapan itu bakal terjadi atau tidak.

Perjalanan masih berlanjut, tiba-tiba ada satu mahasiswa ISI yang mendatangi kami. Entah saya lupa namanya, yang jelas cewek. rambutnya pirang, dibilang cantik sih biasa saja, coz agaknya dia baru bangun tidur. Matanya masih sayu-sayu dan sipit. Ia mengajak kami ngobrol soal ISI, atau tanya-tanya. dan ia menyatakan sebuah pernyataan yang membutku tercengang,

“Kalo hari Minggu kayak gini, anak-anak Seni tuh lagi pada belum keluar dari sarangnya, mas, mbak.” begitu jelasnya.

Ia lalu menjelaskan lagi dengan jujur, bahwa mahasiswa seni mayoritas dari mereka lebih sering melakukan aktivitas di malam hari, kalau pagi-pagi seperti jam “7an atau 8an” seperti ini, katanya malah tiduran. Belum pada bangun. Waktu itu saya langsung bergumam dalam hati, “O, jadi begini toh rupanya.” Kebiasaan bangun siang mungkin sudah menjadi budaya mahasiwa seni, yasudahlah saya tidak bisa memberi stigma miring soal hal itu. Yang jelas, mereka sudah banyak menyumbang banyak soal eksistensi Seni di Tanah Air. Terlihat dari berbagai pamflet dan plank jurusan yang terpajang di sudut-sudut kampus, ada jurusan Karawitan, Jurusan Teater, Jurusan Desain, Musik, Seni rupa dan lain-lain. Pokoknya kesan kampus seninya bisa dibilang sangat lengkap dan estetis.

DSCF2145Kami lalu diajaknya mbak-mbak tadi untuk melihat-lihat nuansa kampus, sayang sekali, saya hanya bisa memandang kerindangan doang, tanpa melihat aktivitas seni yang kubayang-banyangkan sebelumnya. bahkan, saya sempat bertanya bolehkah bila kami berkunjung ke museum Seni/Galleri Seni? namun mbak yang tadi hanya mohon maaf karena kami tidak menghubungi petugas galeri sebelum-sebelumnya, jadi kesempatan kami untuk mengabadikan kunjungan galeri kesenian pupus sudah. Tentu saja saya kecewa bukan main.

Kekecewaan saya bertambah manakala saya harus menunggu berjam-jam, duduk-duduk doang di arena kampus. Apa asiknya melihat pemadangan remaja ababil berfoto selfie ria?

DSCFd2148Hingga pukul 12 siang kami masih di kampus ISI. Muter-muter doang. Lalu mampir ke sanggar teater ISI. Disana, kami sempat bertemu master-masternya Teater  yang sayang sekali saya tak ingat namanya. Bukannya lupa, namun mungkin saja saat itu saya sedang tak bersemangat. Hingga MAs rendra pun, yang sering disebut-sebut kawan-kawan sekelasku itu, datang. Beliau memberi arahan tentang bagaimana menjadi aktor yang baik untuk kesuksesan pentas. Tapi sekali lagi, kala itu saya malah memilih untuk tidur siang di ruang istirahat dekat sanggar teater. Entah karena apa, saya kecapaian, ngantuk, dan bisa sajak sebal kenapa kunjungan kali ini datar-datar saja. Opsi tidur bisa jadi lebih baik daripada malah tidak fokus memperhatikan wejangan mas Rendra.

Oke. Kali ini saya agak bersemangat manakala mendengar bahwa saat itu pula ada pentas Monolog persembahan mahasiswa ISI. Tepat sekali, saya dan kawan-kawan yang lain rela menunggu dari siang hingga sore hari hanya untuk menonton pertnjukkan monolog dari berbagai aktor-aktor terbaik di ISI. Yasudah, mungkin momen inilah yang paling berkesan dibanding yang lain. Yakni, saat pentas monolog dibuka. Kami benar-benar sangat antusias karena ini adalah pertama kali kami secara langsung menonton pertunjukkan hasil seni asli mahasiswa ISI Jogja. Aktor dalam pentas itu adalah mas Kukuh, dengan judul naskah “Mulut” karya Putu Wijaya.

Pembukaan pentas, Aktor muncul dibalik panggung.

Pembukaan pentas, Aktor muncul dibalik panggung.

Saya adalah satu sekian dari puluhan penonton di panggung itu yang takjub. Pembawaan mas Kukuh dalam panggung itu sangat maksimal, tentang bagaimana ia menceritakan bahwa di suatu desa ada seorang perempuan tidak punya mulut. Di bawah hidungnya kosong melompong tidak ada bibir. Tidak ada yang tahu apakah ia punya gigi dan lidah di balik wajahnya yang terkunci itu. Dalam keadaan yang tuna mulut itu ia membingungkan desa. Warga mempersoalkan kehadirannya tak habis habis. Apakah ia mahluk yang cantik atau mengerikan.

Sang aktor bertransformasi sebagai cewek. Yang baru dikaruniai "Mulut"

Sang aktor bertransformasi sebagai cewek. Yang baru dikaruniai “Mulut”

Sebagai aktor monolog yang sudah senior, pembawaan mas Kukuh yang “ngomong” sendirian di panggung itu sudah cukup menguasai panggung dan penonton. Saya juga orang yang tak mau ketinggalan satu gerakan pun yang unik, terlebih saat dia memerankan wanita tersebut yang baru saja dikarunia mulut, ekspresinya unik, lucu, dan.. keren. Saat ia berperan satpam yang galak, atau lakon-lakon lain. Semua itu dibawanya dengan apik dan tak lepas dari nilai estetis. Saya sangat terhibur.

Kesuksesan pentas itu bagi saya tidak hanya aktornya saja yang mendukung jalannya pentas, komposisi panggung, lighting, artistik, dan musik juga sangat seragam dengan cerita. Penjiwaan dari aktor monolog juga memberikan nilai plus dan estetika sebuah pentas. Keren. Sangat keren. Bahkan, saya kembali kecewa melihat kenyataan bahwa rupanya perjalanan harus selesai sampai di titik setelah pentas “Mulut” selesai. Padahal, tiket yang kami beli seharga Rp.10.000 ribu ini masih berlaku untuk 2 pentas lagi sampai malamnya. Tapi yasudahlah, kami pulang dengan kesan istimewa pentas. Terlebih, kenyataan paling menyedihkan adalah saat tidak ada kunjungan ke Malioboro, kukira sisa perjalanan malam itu buat puas-puasin diri jalan-jalan dan belanja di Malioboro. Rupanya sopir itu mengantarkan kita kembali ke Purwokerto.  Tak ada yang perlu disesali, semua sudah ada dijalan-Nya, syukuri apa yang terjadi. Yang jelas, meskipun hanya satu kali pentas  monolog “mulut” saja, bagi saya sudah cukup membayar perjalanan ini.

Dan harapanku selanjutnya, bisa ke Jogja lagi, bisa menikmati momen perjalanan yang lebih seru lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s