Sebuah Catatan Menuju H-1 Pilpres

Posted: 8 July 2014 in Opini
Tags: , , , , , ,

prabowo vs jokowi

Saya tahu ini sudah tanggal 8 Juli, dan mungkin njenengan akan berpikir bahwa terlalu telat bagi saya untuk menulis tulisan bertopik pemilu. Tapi biar saja, toh saya hanya ingin menyuarakan personal opinion yang sudah cukup lama saya simpan di otak.

10501846_10152511007514729_957624374206980747_n

Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, apa sih yang membuat pemilu tahun ini beda dari pemilu tahun-tahun sebelumnya?

Buat masyarakat sosiologis-tradisional mungkin merasa biasa-biasa saja, namun buat saya, sebagai salah seorang muda yang baru terdaftar pemilu tahun ini, merasakan perubahan dan diffferent sense dibanding tahun-tahun sebelum-sebelumnya. Kenapa? apakah karena dulu semenjak tahun 2009-2014 atau perioede sebelumnya saya sama sekali tidak peduli karena belum terdaftar sebagai pemilih? Apakah karena saya memang masih terlalu muda untuk memikirkannya? atau mungkin persoalan saya yang dulu nggak peka untuk baca-baca media? karena mungkin wajar saja, masa-masa remaja adalah masa-masa belajar mencari hal-hal menyenangkan. Untuk berbicara politik atau pilpres di tahun 2009-an, orang seperti saya benar-benar blur. Yang penting maen, nggak ngurusi kayak gituan. Pemilu yang sebatas aku tahu ya cuma lihat spanduk-spanduk besar di jalan, kampanye keliling, sudah, itu makna pemilu yang kutahu waktu kecil.

Tapi tahun ini jelas beda. Saya harus tahu dan bisa menganalisa. Melalui kawan-kawan sekeliling, melalui media yang relevan, atau melalui diskusi kecil sesama tahun.

Jelang pemilu presiden 2014, saya bisa jadi salah seorang dari sedikit orang yang memilih untuk ‘diam’ dari koar-koar publik yang ramai bicara topik pilpres.Diam dalam arti disini bukan berarti tidak peduli, saya hanya saja menyembunyikan personal thought saya di sosmed soal kedua pasangan calon presiden. saya tetap saja berusaha mendulang informasi seputar calon pemimpin negeri ini secara teliti, mulai dari baca-baca koran, portal news, nonton TV atau debat sampai perbincangan bersama kawan sejawat. Ya, dan saya cukup  tahan lama menahan emosi ekspresi di sosmed itu.

Disaat teman-teman saya ramai berlomba-lomba memasang poto profil ‘Selamatkan Indonesia‘ sampai ‘I stand On the Right Side’  atau ekspresi defensif pada pasangan Pak Prabowo dan Jokowi, saya memilih masang pp lebih anti-maintream dan nyeleneh pasang dengan foto warna merah dengan tanda tanya besar ‘Jodohku Piye?’, kontan itu menuai banyak sekali komentar (Bukan berarti lagi mikir jodoh juga sih, cuma pingin nyari hal yang anti-mainstream saja. haha).

Atau mungkin, disaat kawan-kawan saya yang lain sibuk setiap hari, setiap jam, setiap detik berbagi artikel-artikel soal kebobrokan salah satu calon, saya malah eksis bicara soal musik, soal sastra,soal perasaan, atau mungkin malah sibuk bicara hal lain. Saya bosan pula dengan twiter dan facebook, akhirnya saya pindah maenan instagram yang menurut pasti akan bebas black champaign. Rupanya dugaan saya nol besar salah, kawan-kawan saya masih juga narsis pasang foto-foto meme, pasang quotes, pasang hashtag yang lagi-lagi bikin perut saya semakin keroncongan, instagram apalagi BBM sama saja.

Ya sudahlah, karena pada dasarnya kita harus tahu bahwa sosmed itu juga ‘masyarakat’, dimana didalamnya terdapat banyak kumpulan individu yang bercampur aduk. mereka bicara, mereka menyampaikan pendapat, dan  sebenarnya tidak ada hal yang lucu sih, atau aneh, karena memang inilah apa yang sebenarnya orang-orang pikirkan. Namun yang kadangkala bikin awkward adalah ketika sosmed menjadi pemicu lahirnya pertengkaran yang nggak berkesudahan, yang satu nyinggung yang dua, yang dua maki-maki yang satu. dan seterusnya, karena itu yang sudah saya rasakan. Saya yakin seratus persen, mereka tahu kalau ini bulan Romadhon penuh berkah dan kasih sayang. Dan semoga Allah senantiasa mengampuni kita sekalian Amin.

Hari ini, karena nggak kuat nahan siklus sosial, sekali dalam sepanjang sejarah hidup saya berbagi status bertopik pemilu di kronologi timeline facebook saya. padahal saya sudah tahu, kalau itu terlalu terlambat, dan saya juga mengerti, ini adalah masa-masa hari tenang. but, I’m that kind of people yang suka benar insist dan fanatik dalam memilih capres. Jadi sedikit nyoba rasional dengan melihat situasi setenang mungkin. Untitleds

Sontak status diatas juga diserbu berbagai kubu yang anti, tak pelak, teman SMA saya sendiri lah yang memulai dengan komentar pedas bernuansa imperatif. dan wow, jadi ini rupanya cerminan pemuda saat ini?

saya berpikir, itu baru sekali lhoh, dan itu baru satu detik saja saya berbagi status dengan topik begituan, simpel kan? lantas bagaimana yang terjadi jika saya setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik berkoar-koar di sosmed? berapa sosok yang nanti bakal nyerang saya? atau mungkin sampai nge-hack saya?

berapa kawan-kawan terdekat saya yang akan terus berselisih dengan saya?

meminjam kata Anggun c Sasmi from Kroya, “Miris!”

Oke, jadi saya pun bisa menjawab, kalau facebook pun cerminan masyarakat. dan inilah yang menjadi jawaban bahwa negara Indonesia disebut sebagai ibukota media sosial di dunia, karena pengguna akun media sosial yang sangat aktif, dengan jumlah 69 juta orang memiliki akun Facebook dan lebih dari 30 juta akun Twitter. Itu tahun 2014, kenapa tahun 2009 saya nggak merasakan keriuhan ini? karena sosmed nggak sepopuler sekarang. Orang dulu lebih prefer pada validitas dan fakta di media koran-koran, bukan portal news yang bisa dibuat-buat pencitraan yang update tiap detik. Yang saya tahu juga masyarakat dulu lebih yakin sebagai traditional voters. Terlepas dari semua itu, tidak bisa disimpulkan pada satu titik karena ada pula pemilih subyektif dan pemilih pragmatis.

Bismillah, Mari berdoa minta ke Allah utk dimantapkan dg pilihan yang akan menentukan masa depan bangsa 5 tahun ke depan. sebagaimana pesan-pesan Gus Mus dalam pesan yang diunggah oleh Radio Mataair,  bertajuk “Pesan Gus Mus Untuk Pilpres 9 Juli 2014”. 

Cara yang paling baik mempengaruhi orang agar ikut mendukung, ialah dengan menonjolkan kebaikan-kebaikan calon kalian. Bukan dengan memburuk-burukkan calon pemimpin saingan. Mengapa? Sebab, dengan memburuk-burukkan calon pemimpin saingan, pasti akan dibalas dengan hal yang sama. Dan dengan demikian, kedua calon pemimpin akan terlihat buruk semua di mata masyarakat yang hendak kalian pengaruhi. 

Apabila masing-masing ‘menghitamkan’ yang lain, siapakah kemudian yang terlihat ‘putih’ untuk dipilih? Pikirkanlah ini dan jangan pernah lupa bahwa semua calon pemimpin yang sedang bersaing bukanlah orang-orang asing. Mereka semua adalah putera-putera Indonesia yang menginginkan kebaikan Indonesia. Indonesia kita semua. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita dan melindungi kita semua dari adu-domba setan yang terkutuk.


Mudah-mudahan, petuah tersebut bisa memberikan pencerahan bagi kita semua. Dan kita senantiasa bisa berpikir jernih menjelang Pilpres 2014. – See more at: http://seputarkudus.blogspot.com/2014/06/ini-petuah-gus-mus-pada-masyarakat.html#sthash.ylNG7OuY.dpuPesan diunggah oleh Radio Mataair yang bertajuk “Pesan Gus Mus Untuk Pilpres 9 Juli 2014”.  Videonya bisa disaksikan di http://ww.youtube.comwatch?v=hxhkPqEC3Wk, seperti dilansir Nu Online. Berikut pesannnya:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya Ahmad Mustofa Bisri
Saudara-saudaraku di manapun Anda berada
Marilah kita memilih, mendukung calon presiden dan wakil presiden;
yang kita pilih, yang kita yakini
Namun tidak usahlah kita bersikap berlebih-lebihan

Kita harus ingat bahwa calon-calon itu semuanya adalah putra-putra Indonesia…
Yang mempunyai kepentingan untuk kebaikan Indonesia
Yang mendukung masing-masing adalah saudara kita;
juga orang Indonesia yang ingin kebaikan Indonesia lima tahun ke depan,
Lima tahun ke depan, bukan sampai hari kiamat

Mari kita dukung pilihan-pilihan kita dengan tetap pikiran yang jernih
sebagai warga negara Indonesia yang menghendaki kebaikan Indonesia

Dengan memohon kepada Allah SWT
Mudah-mudahan Allah meridlai apa yang kita lakukan
Mudah-mudahan dibantu dengan suasana khusu’ Ramadhan,
kita dihindarkan oleh Allah Ta’ala dari perilaku berlebihan
yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya

Semoga kita dapat melaksanakan acara rutin pemilihan presiden
dan wakil presiden nanti dengan tertib damai aman
dan kita tetap sebagai saudara apapun nanti yang terjadi
Terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (ba)

*Lihat videonya disini


Semoga berbagai pertimabngan yang saya miliki akan jaban dan petunjuk Allah. Makin mantaplah besok mencoblos pilihan saya yang tidak asal milih,melalui proses panjang. 

Bismillah. Semoga besok 9 juli  terlaksana pemilu yang sehat. Dan saya akan tertawa, selain itu hari pertama partisipasi pemilu, hari itu juga bisa menjadi hari pertama dimana saya merasakan seperti apa jadi bocah umur 20 tahun. Wish everything okay!

Comments
  1. Hiks hiks,… saya nggak boleh ikut nyoblos masa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s