August Adventure : Mendaki Puncak Gunung Prau

Posted: 31 August 2014 in My Journey
Tags: , , , , , , , ,

Ekspedisi ke-dua: Menaklukan Surga di tanah Dieng Kulon, Gunung Prau!

Gunung Prau DiengBarangkali aku memang sudah ditakdirkan menjadi sosok sebagaimana kakak-kakakku, bahwa aku adalah sang pecinta Alam. Tapi bagiku julukan itu terlalu ekstrim, karena aku baru dua kali mendaki puncak gunung which is aku masih menganggapnya sebagai puncak bagi para pendaki newbie. Okelah, terlepas dari siapapun pecinta Alam itu, terlapas dari prestige kakakku yang sudah menaklukan puluhan Gunung di negeri ini, pada dasarnya aku suka mendaki gunung. Aku akan sangat senang menikmati perjalanan dan pengalaman itu karena itu aku menjadi mengerti, tafakkur, betapa Agung nan indah kuasa Allah, Tuhan semesta Alam.

Akhir Agustus menjadi catatan paling seru buat kami, Aku, Suryadi, Bang Widhi, Wildan, Latif, Wahyu, Farih, Obit, Taufiq, dan Tolib : para kawanan pondok al-amin yang siap menjajal arti sebuah petualangan. Kami bersepuluh berinisiatif menjajal pendakian di Gunung Prau, Dieng. Barangkali alasan refreshing karena penat, atau mungkin sekedar silaturahim ke rumah kawan. Beruntung sekali, sahabatku Farih adalah warga Batur yang dekat dengan pusat wisata Dieng. Sehingga itu akan semakin mempermudah jalan kami mendaki kesana. Selain dia yang tahu arahnya, kami jadi semakin tak ragu karena ada sang director yang menjadi pemandu jalan kami.

Semua perkakas kami siapkan. Kami bentuk semacam manajemen camping. Ya, seru juga rupanya, aku jadi mengerti bahwa saat hendak camping atau mendaki, managemen petualngan sangat dibutuhkan. Barang bawaan, iuran, persediaan, atau mungkin yang lainnya. kami mengadakan rapat internal di rumah Wahyu yang masih asli orang Banjarnegara pucuk. Disana pun aku sudah mengalami hawa dingin yang menusuk tulang. Cuaca dinginnya nya sungguh ekstrim! Padahal belum sampai puncak Gunung, tapi beberapa dari kami ada yang menggigil duluan. Begitu sajalah, rokok, kopi, dan sedikit cemilan roti menjadi kawan cuaca saat itu. Thank you Allah, you made this friendship!

saat pagi hari, aku penasaran dan mencoba melihat pemadangan alam. rupanya sunrise menawan pun tampak indah di lantai dua rumah Wahyu. Aku pun sempat mengabadikannya dengan kamera ponselku. Indah! Gunung Sindoro dan Gunung sumbing sungguh cantik!

Sunrise Di lantai 2 rumahnya Wahyu, Banjarnegara

Sunrise Di lantai 2 rumahnya Wahyu, Banjarnegara

 

Perjalanan yang sebenarnya pun dilanjutkan. Setelah transit di rumahnya Wahyu yang dengar-dengar bapaknya adalah juragan salak, kami langsung meluncur ke Dieng dan berniat mampir dahulu ke kediaman Farih di Batur.

Aku dengar di Dieng ada upacara tahunan yang dianggap sebagai tradisi di Dieng Culture Festival. Mungkin karena hal itulah aku sangat penasaran ingin bertandang kesana hari itu juga di tanggal 30-31 Agustus.

Kondisi jalan tentu luar biasa ekstrimnya, tikungan, tanjakan dan turunan yang curam sangat dibutuhkan trik yang hati-hati saat mengemudi. Kuserahkan semuanya pada Tolib, adik angkatanku di al-amin, kebetulan dia juga wong nggunung jadi sudah sangat berpengalaman dalam kemudi.

Kurang lebih satu jam setengah, kami sampai di kediaman Farih dengan selamat. lagi-lagi kami harus sadar bahwa cuaca dingin disini jauuh lebih ekstrim dibanding rumahnya Wahyu. Tak ayal, aku mengenakan baju rangkap 5 disini. Kaos, baju lengan panjang dirangkap dengan jas dan jaket kulit. Sayang sekali, itu semua tak ampuh membunuh cuaca dingin yang ekstrim. Sesampainya disana, kami langung berfoto ria tak peduli cuaca. That’s what we call as narsictic! Saat dimana momen kebersamaan menjadi hal yang penting.

Di beranda rumah Farih, Batur

Di beranda rumah Farih, Batur

Rupanya view yang tampak dari teras rumah Farih tak bisa diremehkan begitu saja. Hijau, dan biru. Pegunungan menjadi lekukan yang sungguh mengagumkan. Betapa beruntung aku memiliki kawan-kawan solid seperti mereka. Subhanallah!

Penyambutan yang dilakukan oleh orang-orang pegunungan selalu saja istimewa. Dengan segala kesederhanaan yang ada, aku selalu merasa menjadi tamu yang spesial walau hanya bersilaturahim biasa. Disana kami disuguh macam-macam jamuan. Dan yang paling mujarab tentu saja kopi panas lengkap dengan ududnya. Kamu harus mengerti, saat jemarimu menyeduh air panas di gelas, lima detik kemudian panas itu akan terbunuh oleh cuaca dingin yang menggigil. Of course, jangan minum kopi yang lebih dari 10 detik.

***

Kami sowan kepada bapak ibu Farih untuk beranjak ke puncak Gunung Prau, aku tak kaget menatap pemandangan bahwa Ibu farih, meski sosok perempuan tetapi mengisap rokok, cuaca dingin tentu menjad alasan bahwa aku harus diam dan cukup tahu. Lagi-lagi kami menjadi orang paling beruntung memiliki kawan seperti Farih. Dia langsung memberikan arahan yang tepat seperti kapan dan dimana kami harus parkir motor, kebetulan dia juga punya saudara dan kami menitipkan motor kami di saudaranya yang memiliki homestay di area Dieng.

Sebelum mendaki, kami berdoa bersama demi keselamatan. Dan Lagi-lagi kami sempat buat narsis.20140830_102620

Kami pun langsung mulai pendakian yang sebenarnya. Tapi sebelumnya kamu harus tahu apa dan dimana Gunung Prau itu, Gunung Prau merupakan salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng yang tingginya “hanya” 2.565 mdpl. Kalo kamu adalah pendaki pemula seperti halnya saya dan beberapa teman saya, gunung Prau adalah salah satu tempat yang tepat untuk belajar mendaki gunung. Jalur trekkingnya tidak terlalu panjang:  sampai ke puncak cukup ditempuh sekitar 3 jam dari base camp di Desa Patak Banteng, yang juga menjadi titik mula kami. Jalur pendakian via Desa Patak Banteng merupakan jalur tersingkat untuk sampai ke puncak, tapi jalur ini lebih curam dari jalur lainnya serta minim bonus pemandangan.

Start pukul 10 siang.

Selama perjalanan muncak, hal yang paling ektrim tentu saja kami lalui. Setapak demi setapak langkah kaki ini menjadi sangat berarti. Belum apa-apa beberapa dari kita langsung ada yang ngos ngosan. Tak terkecuali aku, maklum pendaki pemula. Selain jalannya yang terjal dan curam, Pematang Gunung Prau memang menantang karena dipenuhi jalan berbatu yang menanjak..

Camera 360

Bicara soal istirahat memang nggak cukup sekali dua kali, aku jadi mengerti bahwa istirahat untuk berhenti sejenak menghirup dan meregangkan otot sangat berguna, meski hanya lima menit. Tampak di tengah tengah kami berjumpa dengan para pendaki yang hendak turun, “masih lama nggak mas?” salah seorang pendaki asal Jogjakarta mahasiswa UGM itu menanyakan pertanyaan lucu padaku, kujawab dengan nada pHp, “Lumayan lah, mbak.”

The journey still goes on. Semakin mendekat ke puncak, jalur yang ditempuh semakin curam. Para pendaki bergerak setapak demi setapak menghemat napas. Aku tentu saja tidak akan menyia-nyiakan momentum menikmati suasan alam yang luar biasa indahnya. Aku sudah tidak sabar seperti apa sih menikmati hari di puncak gunung prau, dan rupanya aku harus melewati landscape Bukit teletubbies yang menawan terlebih dahulu.

Bukit teletubbies, padang rumput yang harus dinikmati sebelum ke puncak

Bukit teletubbies, padang rumput yang harus dinikmati sebelum ke puncak

IMG_20140831_073156

Setelah berjalan selama 3 jam, akhirnya kami berhasil menjejak di puncak Prau, sesampainya disana kami sekitar pukul 2 siang. Rupanya disana pendaki yang lain sudah asik membuat camp nya masing-masing di Camp Area Patak Banteng. Ayo saatnya menyusun tenda!

Datang terlalu awal Saat di Camp Area, area masih longgar.

Datang lebih awal Saat di Camp Area, kebagian space camp area masih longgar.

Beruntung sekali, kami kedapatan space yang masih longgar. Tentu saja itu sangat menguntungkan kami, sengaja memilih area yang pewe dan landai. Aku lihat tetangga tenda asik dan damai memainkan musik, kopi-kopi ria, memasak mie instan, berjoget dan beberapa ada yang berfoto-foto di puncak.

Kami pun nggak kalah seru berbagi keunikan. Jika pendaki lain alay berfoto-foto selfie dengan tongsis, kami pun berkreasi. Adalah Farih disana, bocah kreatif yang berinovasi membuat tongsis (tongkat narsis) handmade. Yangini asli bukan kereatif, tapi seriously ini kreatif! Dan jadilah tongsis handmade asli alam! he he he

Tongsis alam

Tongsis alam

Kekoplakan kami rupanya berujung pada central of interest, banyak para pendaki yang mendirikan tenda disana cekikikan karena kekoplakan kami. Apalagi ditambah dengan adanya Suryadi bocah Cilacap yang semakin menambah suasana cair  dengan aksen ngapak nya.

Masih terlalu sore, dan sunset adalah momen yang paling kami tunggu-tunggu.

Mencium lautan awan: Penantian Sunset

Mencium lautan awan: Penantian Sunset

IMG_20140830_171243Senja di puncak Gunung Prau rupanya sungguh menawan dan super amazing!

IMG_20140830_172427

Mengabadikan momen apa adanya, karena kami bersepuluh tidak ada yang membawa camera DSLR, itu tak jadi soal, kamera hp pun masih bica capturing kok. So, where is the beutiful sunset! The moment was coming!

IMG_20140830_173735Siluette dari gumpalan awan nya sangat mengagumkan. Pemandangan emas yang membuat takjub siapapun! Yeah, we’re sitting on the top of the world!

 

IMG_20140830_173913

Awesome sunset at Mount Prau

Awesome sunset at Mount Prau

 

***

Setelah puas mencium sunset, kami pun kembali ke tenda. Dan tantangan masih berlanjut karena aku dan kawan-kawanku yang lain harus menahan hawa dingin yang menggigil.

Jumlah pendaki yang membludak di akhir pekan menyebabkan puncak Prau menjadi lautan tenda. Beruntung kami masih menemukan spot yang cukup nyaman untuk mendirikan tenda. Gunung Prau memang bukan gunung berapi aktif, sehingga kamu bisa kemping di puncaknya. Prau juga merupakan salah satu gunung dengan puncak terluas di Indonesia dan bisa menampung ratusan pendaki sekaligus. Jadi, gak heran kalo kamu bakal melihat lautan tenda di Prau pada akhir pekan.

Tengah malam itu, mie instan jadi andalan kami untuk mengisi perut-perut yang lapar. Udara dingin kembali menyergap karena kami sudah berhenti bergerak. Beberapa dari kami bahkan gak bisa tidur karena menggigil kedinginan. Disinilah bergunanya kantong tidur polar. Saat itu, barang bawaan seperti ransel, kantong tidur biasa, bahkan celana yang kamu  lepas sebelum tidur bisa jadi sudah basah dan sedingin es! Semua barang-barang seolah beku, seakan-akan badan ini serasa dikulkas! bahkan aku sempat meriyang di pucuk gunung sana, untungnya nggak sendirian, ada Wildan yang sedia obat pusing agar aku bisa menikmati tidur dengan nyenyak, tidur di kulkas!

Sebenanrya, malam itu adalah malam paling istimewa bagi para warga dieng, tertanggal 29 Agustus itu, menjadi salah satu atraksi malam menarik yang banyak ditunggu warga dan wisatawan Dieng Culture Festival, yakni nuansa warna-warni dari pelepasan Lampion di atas candi Arjuna. Semarak lampion (sky lantern) akan diterbangkan saat malam sebelum ritual atau tepat saat Jazzatasawan digelar…seru dan menarik.

Momen sky lantern yang kulewatkan, pelepasan seribu lampion di komplek Candi Arjuna

Momen sky lantern yang kulewatkan, pelepasan seribu lampion di komplek Candi Arjuna

Ah, unfortunately I was missing that moment.

Dan, sunrise yang dinanti jutaan umat pendaki Gunung Prau akhir agustus itu, tiba juga…

Subhanalloh pokoknya

Subhanalloh pokoknya

sunrise gunung prau

“There’s a sunrise and a sunset every single day, and they’re absolutely free. Don’t miss so many of them.”

Ah, finally my fingers out there!

Ah, finally my fingers out there!

Menyapa fajar Gunung Prau : Negeri diatas awan (Dokumen pribadi : Kamera hp Obit)

Menyapa fajar Gunung Prau : Negeri diatas awan (Dokumen pribadi : Kamera hp Obit)

 

Gunung prau

I will always remember this fuckin’ awesome adventure. I learned a lot the meaning of friendship, togetherness, travel, and the natural beauty of God’s creation. Thank you for the opportunity, an opportunity that can not be bought with millions of dollars though.

IMG_20140831_061009

Comments
  1. Kartika says:

    awesome trip!!! thanks review gunung prau nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s